oleh

SEINDAH TAKDIR CINTA JUMINAH# Bagian ke-11

-Novel-Telah Dibaca : 149 Orang
    COVER NOVEL JUMINAH

 

BAGIAN KE-11

SANTRI PUNYA CERITA

 

Hari demi hari suasana pesantren semakin  ramai. Kami diminta berkumpul di lapangan. Ustaz-Ustazahnya memperkenalkan dirinya masing-masing. Ada yang alumni Ponpes Gontor dan Ponpes La Tansa. Ada yang merangkap mengajar di Ponpes Nurul Madaany. Ada pula yang dari Ponpes Salafi Nurul Hidayah Sadeng, Lewiliang. Tapi kebanyakan dari mereka alumni dari Ponpes Mathla’ul Hidayah sendiri.

Ibu Kiyai sendiri dari salafi tempatnya di Parungsapi Mbah Muhidin, Jasinga-Bogor. Kalau Pak Kiyai alumni dari Nurul Hidayah Sadeng-Bogor. Pesantren ini dinamakan Mathla’ul Hidayah, Karena memang diambil  dari Nurul Hidayah tempat di mana Pak Kiyai menimba ilmu agama.

Mulai hari besok kegiatan sudah dimulai. Kalimat penutup terakhir dari pengumuman itu membuatku penasaran dan sedikit deg degan. Apa yang akan terjadi di hari besok?” Pertanyaan itu yang selalu hadir dalam lamunanku.

***

Bel pun berbunyi. Pagi menjelang subuh aku telah dibangunkan oleh suara bel yang sangat keras. Bergegas aku menuju kamar mandi, untuk cuci muka dan wudhu, setelah itu aku dan kawan-kawanku mengambil peralatan shalat dari mulai mukena sampai sajadah. Kemudian seseorang yang dikatakan Qismu Ta’lim (bagian peribadahan) sudah berdiri di pertengahan asrama, tepatnya di jalan menuju arah majlis perempuan.

Dengan suaranya yang sangat lantang ia berhitung,  حت الخمسة 1,2, kawan sekamarku yang sepertinya ia sudah senior, atau bisa dibilang kakak kelas mengajak kami untuk segera turun dan bergegas ke Majlis. Peraturan di sini, kalau terlambat bisa dikenakan hukuman. Aku dan kawan kawan segera berjalan menuju Majlis, dengan langkah sedikit dipercepat. Setelah sampai majlis, aku melirik jarum jam, baru menunjukan pukul 03.10 WIB.

Aku melihat santri lain ada yang sedang membaca Al Qur’an, ada juga yang sedang mengantuk, namun dengan sigap orang yang disebut Qismu Ta’lim itu sagera membangunkan.

Ada pula sebagian yang sedaang sembahyang, yang aku sendiri belum tahu pasti sembahyang apakah itu? Aku sendiri memilih untuk mengambil Al Qur’an. Membuka lembar demi lembarnya. Sambil menghafal surah-surah yang pendek dari mulai الناس. Setelah ada 20 menit kemudian, aku memperhatikan sekelilingku tiba-tiba salah seorang bertanya padaku. Sepertinya ia santri baru juga.

“Kak, Kakak yang itu shalat apa ya? ko sepertinya dari tadi tidak selesai? Salatnya lama sekali,” sambil memberiku isyarat dengan menyebutkan posisi orang yang dituju diperjelas dengan warna mukena yang dipakai orang tersebut.

Aku jadi semakin tertarik untuk bertanya. Karena sebetulnya, aku juga ingin tahu. Karena memang santri baru, jadi belum tahu apa apa. Setelah jarum jam menunjukan 03.30 WIB, ia baru duduk lumayan lama. Mungkinkah salatnya sudah selesai? pikirku.

Aku mendekatinya dan langsung menyapanya. Walau aku belum kenal dan sedikit malu sebetulnya. Tapi aku selalu ingat pesan ayah, “jadi orang itu harus (Bodo Alewoh) pribahasa itu dalam Bahasa Sunda artinya jika kamu tidak mengetahui sesuatu, maka jangan pernah merasa malu untuk bertanya.

“Permisi kak, maaf sebelumnya teh saya mau bertanya, boleh?”

“Silakan ukhti,” jawabnya.

“Jujur saya tertarik ingin bertanya karena saya perhatikan dari tadi, kakak salat lama sekali. salat apa, Kak?

“Mmm.. itu Salat Tahajjud Ukhti,” jawabnya sambil tersenyum. Ia lalu bertanya balik padaku.

“kamu santri baru?”

“Iya Kak,” jawabku mengangguk. Lalu kemudian bertanya kembali.

“Memangnya harus sampe berapa rakaat Kak salatnya?”

“Itu 2 rakaat minimal, kalau mau lebih dari itu, itu lebih bagus,” jelasnya kembali.

“Lalu keutamaan Salat Tahajjud itu sendiri apa Kak?”

“Aku juga tidak tahu, yang aku tahu Salat Tahajjud itu diharuskan untuk para santri.”

Dapat dikatakan, berarti ia ini hanya ikut ikutan dan man’ut saja pada yang menyuruhnya, pikirku kembali.

“Mmm… begitu,” jawabku mengangguk dan tersenyum padanya. Walau aku belum puas dengan jawabannya sebetulnya. Kalau begitu, “terima kasih Kak.”

“Iya, sama sama.”

***

 Tak lama, terdengar santri laki mengumandangkan azan. Saat azan selesai, kemudian sebagian santri melafalkan do’a azzan. Aku hanya terdiam, alasannya santri baru, belum tahu. Kemudian, sebagian dari mereka berdiri melaksanakan salat. Lagi-lagi aku dibuat bingung.

“Mengapa mereka salat tanpa imam ya? Lalu mengapa tidak bareng?” Ada yang sudah rukuk, ada yang masih berdiri. Aku jadi semakin bingung. Namun kali ini aku tidak menanyakan kembali. Salat apakah mereka? Aku akan mencari tahu sendiri ucap batinku.

Kira-kira  setelah 5 menit kemudian, Ibu Kiyai maju menjadi imam. Baru ayat pertama yang dibacakan, mashaallah, hatiku terasa tenang dan damai. Ternyata ketika ayat-ayat Al-Qur’an dilantunkan dengan begitu indah serta makhorijul hurufnya benar, terdengar begitu istimewa. Setelah mengucapkan salam. Pertanda shalat selesai, Ibu Kiyai sendiri yang lanjut memimpin do’a.

Kalimat kalimat yang dilontarkan, aku jadi teringat ayahku. Seketika air mata menetes, karena kalau di rumah aku selalu mendengar ayah membaca do’a dan wirid selesai salat.  Walau, bisa dibilang ayahku paham tentang agama. Tapi aku tidak banyak belajar tentang itu, karena saat itu, ayah juga setiap harinya tampak sangat lelah.

Itu pasti, karena hanya ayahlah satu satunya yang mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. Aku hanya bisa berdo’a saat ini. Semoga mereka baik baik saja, dan dalam lindungan Allah selalu.

Seseorang di sampingku, menepuk pundakku, seraya berkata “ayo Kak, sebentar lagi ngaji kitab.” Perkataanyya membuat aku tersadar. Ketika aku lihat sekeliling ternyata sebagian dari mereka sudah pergi. Aku juga segera kembali ke asrama.

Baru selesai aku melepas mukenaku, bel berbunyi kembali.  Kawan-kawan yang ada di ruangan itu segera memakai hijabnya dan mengambil kitab yang telah terjadwal di pagi ini dengan masing-masing tahapan kelas yang berbeda. Maka kitab yang dikaji pun tentu beda. Saat ini aku baru memulai dengan kitab “Safinatun Najah”.

Salah seorang di kamar itu memberi tahu kami yang santri baru. Untuk segera naik memasuki  Gedung Utara. Ustaz Mu’min yang akan mengajar katanya.

Aku dan sahabatku Titin, juga yang lainnya segera menuju kelas. Setelah aku masuk, sontak sedikit kaget. Mmm.. ternyata lumayan banyak yang baru juga. Ada 30 santri kurang lebih.

Tak lama masuklah seorang Ustaz dengan mengucapkan salam. Berbadan sedikit gemuk, tidak menyeramkan tapi.  Berkulit sawo matang  dan sepertinya ramah. Tanpa basa basi. Beliau langsung memperkenalkan nama dan menyuruh untuk membuka kitab. Alhasil, pengajian pagi ini selesai dengan  membawa ilmu 1 pasal isi dari kitab Safinatun Najah.

Menurutku, tidak terlalu sulit, karena diartikannya dengan Bahasa Sunda dan bukan Bahasa Jawa. Setelah selesai mengaji kitab tepat pukul 06.30 WIB, kami kembali lagi ke asrama. Namun di tengah perjalanan. Seseorang memanggilku dari belakang.

“Kak, tunggu.”

“Aku?” sambil menoleh ke arah suara.

“Kamu memanggilku?”

“Iya.”

“Mengapa? Ada yang bisa dibantu?”

“Cuma ingin kenalan saja,” katanya sambil tersenyum riang.

“Juminah. Itu namaku,” seraya mengulurkan tanganku padanya.

“Namaku, Ila,” jawabnya membalas uluran tanganku.

“Kakak dari mana?” lanjutnya bertanya kembali.

“Kampung Paja, Kecamatan Sajira. ”Moal hafal pasti, lembur jero,” kataku. Artinya, kamu tidak akan tahu, kampong pedalaman. “Ups… Aku  menutup mulutku dengan tangan. Keceplosan bicara Bahasa Sunda. Padahal aku tahu di sini perarturannya tidak boleh bicara Bahasa Sunda, hanya diperbolehkan Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Arab.

“Bahasa kampungnya tidak akan saya lupa ya Kak. Hehehe…” sambung Ila sambil tertawa kecil. Ila dari Kampung Karian. Kita bisa dibilang tetangga kampong yah.

“Mmm.. memang daerah Karian itu di mana say?” tanyaku dengan percaya diri. Karena jujur aku memang sangat kuper alias kurang pergaulan. Semasa sekolah SD/SMP dulu, aku hanya menyibukkan diriku membantu orang tua. Panjang lebar Ila beusaha menjelaskan. Aku sedikit ada penerangan. Walau belum tahu asli letak Kampung Karian itu di mana.

“Nanti kita pulang bersama kalau pas liburan Kak. Ila main ke Paja, nanti,” lanjut Ila kembali menegaskan.

“Insyaallah,” jawabku. Semoga Ila tidak kaget saja nanti.

“Mengapa kaget, Kak?”

“Nanti juga tahu,” jawabku sambil tersenyum kecil.

Perbincangan selesai seiring dengan sampainya kami di asrama. Yang kebetulan aku dan Ila bertempat di kamar yang sama “Umi Kultsum” yang di mana, untuk bisa sampai di Gedung Umi Kultsum itu. harus menaiki anak tangga. Karena memang kamarnya berada di atas Kamar Fatimah.

Tak lama kemudian bel berbunyi kembali. Isyarat para santri untuk segerak melakukan aktivitas masing-masing. Mandi, bersih-bersih, ganti baju sekolah. Karena selanjutnya akan di bel lagi untuk mengambil nasi dan membeli lauk pauknya di kantin. Lagi-lagi harus sabar menunggu antrean.

Hari pertama, karena belum tahu, aku jadikan pembelajaran untuk keesokan harinya. Itu berarti aku harus bergerak lebih cepat. Aku sudah mengambil nasi dengan membeli gorengan bakwan satunya  seharga 1000 rupiah. Cukup. “ngirit guys👌”.

Baru beres makan, cuci tangan, bel kembali berbunyi. Ramai orang-orang bilang. Ayo cepat, cepat, cepat. Ada sebagian yang sudah siap jalan menuju lapangan, ada sebagian yang sedang memilih novel, ada sebagian yang masih menghadap cermin, membenarkan hijabnya, ada pula yang memakai sepatu terburu-buru. Bahkan ada yang baru saja satu suap makan. “Oh My God” kasian, ucap batinku.

Aku segera meraih novelku yang sudah aku siapkan di sampingku  dan segera berlari menuju lapangan, karena orang yang berganti, yang masih disebut Qismu Ta’lim juga. Sudah berdiri di perbatasan asrama. Kami semua sudah berkumpul di lapangan adalah rutinitas setiap hari sebelum masuk kelas masing-masing, untuk diperiksa terlebih dahulu. Jika ada yang tidak memakai sepatu, Id cart, dan lain-lain maka akan kena hukuman juga.

Setelahnya menyanyikan himne pondok. Mau tahu lagunya? Aku tuliskan ya.

Oh pondokku, tempat naung kita

Dari kecil sehingga dewasa

Rasa batin,damai dan sentosa

Dilindungi, Allah Ta’ala.

Tiap pagi dan petang

Kita beramai sembahyang

Mengabdi pada Allah Ta’ala

Di dalam kalbu kita

Wahai pondok tempatku

Laksana ibu kandungku

Nan kasih serta sayang padamu

“Oh Pondokku, i…bu…ku….”

Setelah selesai, acara ditutup dengan do’a. Kemudian, kami menuju kelas masing-masing. Aku baru memulai suasana baru,sahabat baru, kelas baru, dan mata pelajaran yang sedikit berbeda juga tentunya.

Di sini Smk jurusan TKJ (Tekhnologi Komputer dan Jaringan). Plus ada mata pelajaran pondoknya juga. Di antaranya; Mahfudzot, Mutolaah, Tafsir, Tarbiah, Imla, dan lain-lain.

Terlebih dahulu kami berkenalan satu sama lain.  Ada 9 siswa baru termasuk aku dan 5 orang yang sejak SMP sekolah di sini. Jadi, kalau di sekolah kita sama kelas X SMK. Tapi, yang 5 orang itu dalam kelas mengkaji kitabnya sudah di atas kami yang 9 orang ini. Kami satu kelas dengan santri baru yang sekarang kelas 1 SMP. Aku jadi banyak mengenal nama-nama yang mungkin masih asing bagiku.

Dari mereka semua ada yang berasal dari berbagai pelosok kampung. Tapi kebanyakan yaitu dari pribumi sendiri, Kampung Hamberang, Luhurjaya, Cipanas. Mata pelajaran kedua hampir selesai, tapi kembali bel berbunyi kira-kira pukul 09.10 WIB.

“Bel apa ini, Ukhti?”  tanyaku pada salah satu teman kelas yang sudah senior.

“Itu bel istirahat, sekaligus salat duha, mari kita turun dan segera ambil wudhu. Lalu ke majlis.”

“Tapi aku…”

“Belum beres aku bicara, namun sepertinya ia sudah tahu maksudku. Dia melanjutkan kalimatku yang terpotong.

“Nanti aku pinjamkan buku. Setelah selesai, kamu bisa baca saja do’anya.

“Terima kasih, Ukhti,” jawabku seraya bangun dan segera berjalan mengikutinya. Hingga tiba di majlis dia langsung membuka halaman yang tertulis do’a setelah salat dhuha tersebut dan memberikannya padaku. Tak lupa ia memberi tahu juga bagaimana niat salatnya. Hamper 10 menit setelahnya, kami baru keluar dari Majlis.

“Hanya tersisa beberapa menit lagi. Segeralah kamu makan, jika belum makan, atau mau jajan ke kantin seperti santri lain, atau ada kepentingan lain. Silahkan gunakan waktu sebaik mungkin. Karena  ketika bel berbunyi kembali, itu berarti kita harus sudah stand by. Untuk back to class“the time is money,” ucapanya  sambil tersenyum lembut padaku.

“Banyak kata-kata asing yang masuk ke otakku dan aku tidak tahu artinya Ukhti,” jawabku.

“Waktu adalah uang,” jawabnya. Nanti kamu akan mendengar yang lebih asing lagi. Suatu saat kamu juga akan tahu artinya. Heeee…Lanjutnya.

“Ok. Terima kasih, Ukhti. Senang bisa berkenalan dengan orang baik seppertimu, Kak Denuh.”

“Fastabikhul khoirot,” jawabannya membuat aku bertanya kembali. “Artinya?”

“Berlomba-lomba dalam kebaikan.”

“Mmm…,“ jawabku sambil  mengangguk

Aku semakin merasakan keindahan juga keistimewaan berada di pesantren . Banyak ilmu yang selama ini aku tidak tahu ternyata. Andai dari dulu aku masuk pesantren”. Batinku sesal.

***

Setelah selesaai menjalani aktivitas sekolah, bunyi bel kembali menggiring ke majlis untuk melakukan Zuhur berjama’ah. Lalu setelahnya melakukan Sorogan Kitab Awamil dengan masing-masing guru.

Kebetulan aku, Ila, dan lala mendapatkan guru yang sama yaitu Kak Syifa. Kakak kelasku, Kak Syifa kelas 2 SMK, tapi dari kelas salafinya, sudah tinggi. Sehingga sudah diberi kepercayaan untuk membimbing santri yang masih baru.

Awalnya takut. Tapi dengan semua itu membuatku untuk tidak melakukan kesalahan dan belajar dengan serius. Selesai sorogan, santri diberi waktu untuk makan siang, setelahnya, yang kebagian jadwal piket melaksanakan tugasnya, sehingga  ketika bel salat ashar berbunyi, majlis sudah harus bersih kembali.

Hari ini aku kebetulan tidak ada jadwal piket. Jadi, aku langsung mengambil peralatan mandi. Tidak lupa tentunya, dari mulai gayung, ember, gelas, piring, dan lain-lain. Semuanya harus tertera nama masing-masing. You know why? Takut tertukar karena terkadang ada kesamaan dengan teman. Jadi memang diharuskan untuk diberi nama. Bahkan sampe baju seragam pun dikasih tanda. Itulah uniknya hidup di pesantren.

 BERSAMBUNG

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed