oleh

SEINDAH TAKDIR CINTA JUMINAH BAGIAN 20

-Novel-Telah Dibaca : 147 Orang

Cover Novel Juminah

 

BAGIAN KE-20

PENERBANGAN

 

Terdengar azan subuh, kami pun segera bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi, lalu kemudian mengisi perut dengan nasi uduk yang sudah disiapkan oleh sponsor. Setelahnya, kami langsung menuju mobil yang standby di halaman kantor.

Hari ini, aku, Nur, dan juga Kak Yusi yang berasal dari Cianjur. Keberangkatan kita sama.  Aku dan Nur hanya mengikuti langkah Kak  Yusi, karena dia memang sudah punya pengalaman ke Saudi, sampai pada kami berada di pesawat, yang membawa ke Collombo, translet Srilanka, dari Srilanka menuju Airport Riyadh Saudi Arabia.

 Aku memilih tidur di pesawat, karena aku memang tidak mau melihat ke arah luar jendela, yang hanya akan membuatku merindu segala tempat yang sering kali aku datangi. Sesekali aku terbangun, jika ada seorang pramugari yang memberikan attention, ataupun menawarkan makan dan lain sebagainya. Tapi aku juga tidak bisa tidur, karena aku memikirkan, bagaimana majikan aku, seperti apa pekerjaannya, dll.

Tiba pada attention selanjutnya. Bahwa ternyata pesawat akan segera landing. Setelah kami masuk, diperiksa, dan sebagainya, kami lalu, mencari Babah yang katanya sudah menunggu. Hanya Kak  Yusi yang menjadi penghubung antara Babah yang masih di Indonesia dan Babah yang katanya akan menjemput kami di bandara.

Mencari gate/ pintu keluar yang dimaksud. Setelah kami duduk sebentar dan menunggu. seseorang menghampiri dan menanyakan nama kami masing-masing. Selanjutnya ia memperkenalkan. Saya babah kamu (majikan kamu, ya Jumainah) katanya. Dia tidak bisa memanggilku Juminah. Melainkan Jumainah. Mungkin lisan Orang Saudi beda kali ya? But it’s ok dalam batinku.

Kali ini aku sedikit merasa tenang, karena sudah sampai tujuan dengan selamat, namun tetap saja. Belum lengkap sepertinya jika belum bertemu dengan keluarganya.

Pukul 02.00 pagi kami sudah sampai di rumah Babah Hasan, rumah majikanku. Jarak dari airport ke rumah ternyata dekat hanya 10 menit sampai. Lalu kami diperkenalkan dengan istrinya. Dia menyebutkan namanya Mamah Miznah. Lalu kami langsung disuruh istirahat.

Aku dibawa ke kamar yang di situ sudah ada Orang Philipina, sedangkan Yusi dan Nur ditempatkan di kamar yang lain. Keesokan harinya, aku bangun, Nur dan Yusi sudah tidak ada. Salah satu dari mereka 3 orang philipine itu memberi tauku bahwa Nur dan Yusi sudah diantar ke majikannya masing masing.

Mereka di To’if. Jelasnya dengan bicara bercampur Bahasa Inggis dan Bahasa Arab seraya memperagakan. Oh my god, ternyata teman kerjaku Philipina semua. Bagaimana aku bicara dengan mereka? Langkah pertama, aku harus mau sedikit sedikit belajar Bahasa Inggris karena dari semenjak sekolah dasar sampai lulus SMK pun aku tidak tertarik dengan english language.

Mereka memperkenalkan nama mereka masing masing. “Ana Suraida, Fatimah, and Brenda.” Menyebutkan nama mereka, kemudian menunjukan padaku, ruangan mana saja yang menjadi bagianku setiap pagi karenaa rumah ini sangat besar ada 4 lantai yaitu nomor 0,1,2, dan 3. Kebetulan tugasku, di nomor 0,  yang mana di lantai paling bawah ini terdiri dari ruangan bermain, ruangan penyimpanan barang, atau biasa disebut stock room, Bahasa Arabnya مخزن/makhzan. Selanjutnya ada ruangan jika ada tamu laki- laki.

Ada 3 ruangan sebelahnya, masih di lantai 0, dibersihkan setiap harinya oleh Fatimah. Yang mana, ada stock room juga, office Babah, dan juga ruangan bermain. Aku juga punya tugas di lantai nomor 2 yang mana terdiri dari kamar tidur semua.  Sedangkan lantai nomor 1 dan 3 setiap harinya dibereskan oleh Brenda. Begitu pun dengan Fatimah yang punya tugas sama sepertiku. Ia juga bertanggung jawab di lantai nomor 2, yang aku tidak mengertinya, mengapa  rumah ini seperti terbagi 2. Tapi menyatu. Hanya terhalang pintu-pintu saja.

Ketika jadwal makan tiba, aku sontak kaget. Wow, ternyata keluarga besar. Yang aku pertanyakan wanita dewasa yang baru kali ini aku lihat, siapa? Melihatku seperti bingung. Fatimah menjelaskan tanpa aku bertanya dahulu. Babah have 2 wife and wife nomor 2 have 3 baby dan seterusnya.

Beberapa menit kemudian yang membuatku bertambah bingung adalah saat Mamah Miznah menyuruhku ke Rumah Reem. Siapa Reem?? Batinku. Lalu, Brenda mengajariku bagaimana bekerja di Rumah Reem ini. Sesekali aku disuruh menemani baby juga. Mengajak bermain, memberi makan, dan lain sebagainya.

Lama kemudian, setelah aku bisa berbahasa arab, sedikit sedikit english. Aku jadi lebih banyak bicara. Tidak seperti dulu. Yang lebih memilih diam. Karena tidak paham  apa yang dibicarakan tentunya. Setelah aku pahami bahwa ternyata reem ini adalah menantunya Mamah Mizna, tapi aku lebih sering bekerja di rumahnya.

Kadang aku bertanya pada taqdir, mengapa  kok sepertinya aku bekerja lebih banyak. Ditambah lagi. Aku yang selalu disuruh menjaga anak anak pula. Ketika aku ingin berbagi pada siapakah??? Di sini tidak ada orang Indonesia, hp pun cuma nokia jadul karena memang tidak diperbolehkan hp camera.

Aku hanya bisa menulis segala sesuatunya di novel. Beberapa bulan kemudian, salah satu teman yang dari Dammam akan ke Riyadh. Lalu 2 temanku membeli hp Samsung kecuali Fatimah dan aku tidak karena takut ketahuan dan akhirnya bermasalah.

Tapi pada akhirnya, tidak aku pungkiri. Aku pun sesekali meminjam hpnya untuk membuka facebook karena aku sangat merindu. Setidaknya, aku bisa melihat foto-foto orang yang aku sayangi di album fb aku. Ketika baru aku membuka messenger, ada sms masuk dari Ibnu. Ibnu itu kekasih sahabatku Nur, mereka kenal waktu masih di PT. Tapi Ibnu sudah hampir 2 tahun di Madinah. Dia kerja di caffe. Mereka dikenalkan oleh suaminya Kak  Ai, teman waktu di PT. Aku langsung membaca inbok tersebut.

 “Jum, gimana kabarnya Nur? tanya Ibnu.”

“Emang gak ada kabar ke kamu?”

 “Terakhir dia sms pas mau penerbangan dan sampai sekarang, sudah 4 bulan gak ada kabar ke aku,  timpal Ibnu.”

 “Aku juga tidak tau, karena aku juga baru sekarang bisa buka facebook karena pinjem hp teman. Ini pun kita ngumpet ngumpet. Sepertinya, Nur pun gak pegang hp, semoga sehat aja.”

 “Bagaimana atuh kalau gak ada kabar seperti ini?”

 “Saling mendo’akan saja, kalau jodoh nanti juga ketemu di pelaminan. Heee.”

“Yeeee…..”

 “Anyway, itu siapa yang di fb kamu?”

 “Mengapa , guanteng yaa?”  heee…

 “Mmm.. sepertinya, santri?”

 “Memang, santri teu anggeus (tidak  selesai). Dia teman, Orang Rangkas juga sama seperti Jum, tapi dia beda caffe sama aku.”

“Oh, yaa?”

 “Mengapa  emang Jum?”

“Pengen kenal saja. Siapa namanya?”

 “Mhaetamy, biasa di panggil Tami. Tapi dia sudah punya pacar Jum, tapi gak tau juga, itu kan cerita ia dulu. Sekarang udah lama gak ketemu sama Tami. Nanti aku kenalin. Mana, kirim nomor kamu Jum”

 “(+966..) “

Aku lagi kebetulan saja ini, teman mau pinjemin hp, kamu kalau ada perlu langsung tlpn /sms ke no. Aku saja ok.. see you.. wassalam.

Selanjutnya, aku segera keluar dari fb  dan mengembalikan hp kepda pemiliknya, bahkan akupun belum sempat memeriksa sms selanjutnya. Karena yang punya hp nya memang sudah sangat sangat menunggu dari tadi. Aku hanya sempat bikin status singkat.

            “Aku percaya bahwa rencana Allah tetaplah yang terbaik, dan aku juga percaya bahwa, setelah tetesan air mata akan muncul seulam senyum kebahagiaan. Lalu aku masukan foto yang aku edit bersama Adika Munajat, yang saat ini masih di pesantren.”

Status itu mewakili dari segala perasaan yang aku rasakan saat ini. Rinduku, sedihku, lelahku, kesendirianku, bahkan terkadang aku marah. Ketika aku merasa ini tidak seimbang. Tapi apa mau dikata. inilah takdirku dan aku harus berpegang teguh pada sesuatu yang telah aku yakini kebenarannya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

1 komentar

News Feed