oleh

Nura, tulisan Afrianti

NURA

Gadis belia itu bernama Siti Nur’aini. Dia disapa dengan panggilan Nura. Nura seorang pelajar yang terdaftar di SMANSA Cianjur, semenjak Juli lalu. Nura bukan penduduk asli Cianjur, ia berada di Cianjur hanya sebatas sekolah. Sementara ibunya, satu-satunya orang tua Nura yang masih hidup, berdomisili di Ujung Batu Riau.

Nura mengirim kabar duka, via Whats App. Begitu melihat berita di televisi, saya segera meneleponnya. Nura bercerita tentang semua yang disaksikan dan dialaminya. Ketika gempa pertama terjadi, hari Senin lalu, Nura dan kawan-kawan sekelasnya, sedang belajar projek di aula sekolah. Bersyukur Nura dan kelompok kerjanya, berada tidak jauh dari pintu. Sehingga dengan cepat bisa mencapai halaman sekolah.

Empat malam, Nura dan kawan-kawan, beserta Ibu kos, beraktivitas di teras rumah. Sampai sekarang mereka belum berani masuk ke dalam rumah. Gempa susulan masih terasa. Bersyukur rumah lantai dua tempat Nura kos, tidak rubuh. Beberapa bangunan gedung SMANSA Cianjur mengalami kerusakan, terutama yang terletak di lantai dua.

Bangunan masjid, atap di tengahnya rubuh, beruntung tidak ada korban jiwa. Sedangkan Aula, tempat di mana Nura berada saat gempa dengan 5,6 skala riter, mengalami rusak bagian atapnya, bahkan beberapa pelajar serta guru terinjak-injak akibat berdesakan ke luar ruang untuk menyelamatkan diri. Ada yang patah tulang, serta luka bagian kepala tertimpa reruntuhan.

Bukan cuma gempa susulan, yang membuat rasa takut di hati, tetapi listrik di rumah tempat ia tinggal juga padam. Ingin membeli makanan siap saji, tidak ada yang jualan, sampai hari ini mereka makan mie dengan telur. Itu pun stok makanan yang terakhir.

Nura mulai mencoba melangkah ke luar ke arah jalan raya di depan SMANSA Cianjur, melihat ke kiri dan ke kanan, tak satu pun orang yang terlihat. Suasana sunyi yang mencekam, rumah tetangga kosong, mereka memilih tinggal di tempat pengungsian. Nura mendekati mesin ATM, bermaksud untuk mengambil uang, namun berkali-kali dicoba, tidak berhasil. Setelah diteliti dengan seksama, ternyata mesin ATM tidak berfungsi. Rusak karena gempa.

Nura tak habis fikir, ia mencoba menghubungi go food, Alhamdulillah tersambung, sisa batere HP, akhirnya mendapatkan makanan.

Nura menulis sebuah puisi dengan judul, Getaran Tak Terduga. Yuk, kita baca!

GETERAN TAK TERDUGA
karya:Siti Nur’aini

Tak terasa geteran yang menghampiri
Di saat aku sedang mendengarkan
Sebuah dialog, sebuah teriakan terus menggelegar “tolong,tolong,tolong”

Semua orang berlari semua orang
Berteriak, terhimpit,tarjatuh,terseret
Korban jiwa dimana mana
Suara ambulan Tak berhenti

Susulan demi susulan gempa terus
menerus rasa takut menghapiri
menyisihkan luka trauma

Tak sedikit ku dengar suara tangis
Tak sedikit ku lihat mereka kehilangan
Orang tersayang….

Tuhann…….
Sungguh besar kuasa mu
Tuhann….
Ampuni kami ampuni kami

#Cianjur, 21 Nov 2022

Komentar

Tinggalkan Balasan