oleh

Novel | Gadis Bukan Perawan #1

-Fiksiana, Filosofi, Gaya Hidup, Novel-Telah Dibaca : 89 Orang

Opening

Aku tidak peduli orang mengatakan aku jalang, aku cuma berusaha untuk apa adanya, aku tidak ingin dibilang perempuan munafik. Aku juga tahu kalau perempuan itu harus bisa menjaga kehormatannya, tapi apa orang tahu apa yang aku derita?

Namaku Gadis, sekalipun aku tidak gadis lagi. Tapi tetap saja aku dipanggil Gadis. Akan aku ceritakan tentang masa laluku, kenapa aku tidak gadis lagi, meski itu sangat menyakitkan

Aku tahu ada orang lain yang akan malu, dan hal itulah yang tidak aku mau. Bukan aku tidak mau membuka aibku, tapi aibku menyangkut juga aib orang lain.

Siang itu aku dan Rasta nongkrong di sebuah cafe, Rasta adalah teman seprofesi aku, yang memang sangat dekat dengan aku. Kami tidak pacaran, Rasta adalah teman yang sangat mengerti aku.

Diluar dugaanku saat itu, Rasta mengungkapkan perasaannya secara tiba-tiba, “Dis … aku ingin menikahi kamu.” Ujar Rasta

“Atas dasar apa?” Aku bertanya pada Rasta, “kamu kan belum kenal aku Ras, meskipun kamu mengerti aku.” Ucapku dengan penuh tanda tanya

Rasta hanya diam dan menatap serius kearah kedua bola mataku,

“Tapi aku serius dis, memang aku gak akan mengatakan atas nama cinta, karena itu kuno dis.” Ucap Rasta dengan penuh keyakinan

“Lantas atas nama apa kamu mau menikahi aku!!?” Aku menegaskan

“Atas dasar kepercayaan Dis, aku yakin kamu bisa menjadi istri yang baik.” Ucap Rasta dengan sangat yakin

“Udahlah Ras, aku lebih suka status pertemanan dari pada ikatan perkawinan.”

“Dis umur kita tidak muda lagi, kita sudah kepala tiga Dis, mau sampe kapan kita begini?” Tanya Rasta serius

“Sampai Tuhan menentukannya Ras..” Ucapku

“Dis … asal kamu tahu aja ya, aku pilih kamu itu sudah bermunajat pada Tuhan Dis, dan petunjuknya mengatakan bahwa kamulah calon istriku.” Aku langsung berdiri, dan pergi meninggalkan Rasta sendiri.

Aku rasa Rasta kecewa, tapi dia sudah cukup dewasa untuk menghadapi kekecewaan. Dia tidak kejar kepergian aku, dia hanya duduk termenung, aku tidak tahu apa yang dia pikirkan.

Aku pulang ke tempat kost, masuk kamar dan membanting pintu, aku menghempaskan tubuh di tempat tidur, airmataku tumpah. Aku tidak tahu harus berbuat apa, yang aku tahu, aku sangat mencintai Rasta, dan aku tidak ingin Rasta kecewa nanti pada akhirnya.

Ada keinginan menceritakan masa laluku pada Rasta, tapi aku tidak bisa. Tidak aku ceritakan, karena takutnya Rasta kecewa. Aku sangat dilemmatis, Rasta tidak tahu kalau aku sangat mencintainya, hanya saja aku tidak ingin Rasta kecewa jika tahu masa laluku.

“Aku harus katakan pada Rasta … tapi bagaimana dengan aib orang lain, oh tuhan … sungguh aku tidak bisa, apa aku pantas jadi istri Rasta, sementara aku wanita yang tidak pernah cukup dengan satu lelaki, dendam itu terus Ingin aku balaskan. ” Hanya itu yang bisa aku katakan dalam hati.
Aku mengirim pesan lewat WA pada rasta, membuat janji untuk ketemu,

“Rasta aku tunggu kamu di taman biasa ya malam ini.” Pesan singkat itu aku layangkan

Malamnya, aku berusaha untuk menemui Rasta di taman, di tempat biasa kami ketemu. Aku ingin sekali mengungkapkan apa yang selama ini selalu aku simpan di hati, sekaranglah saat yang tepat menurutku.

Hampir satu jam aku menunggu Rasta, tapi Rasta belum datang juga, aku begitu gelisah mataku mulai terasa basah. Rasa gelisah mulai menggantung di hatiku. Ponselku bergetar, sebuah nada panggil masuk atas nama Rasta, aku langsung nyerocos,

“Rasta!! Kamu dimana? Aku dari tadi disini menunggu kamu!!” Aku terus ‘ngedumel’ dengan penuh kesal

“Maaf mbak … aku Banyu adiknya Rasta, mas Rasta kecelakaan mbak, sekarang ada di UGD Gading Medical Centre, tadi aku disuruh telepon mbak.” Jawab Banyu

Dalam ruang UGD Rumah Sakit Gading Medical Centre, terlihat Rasta sedang diambil tindakan, dokter dan perawat begitu sibuk menangani Rasta. Rasta sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri.

Aku menerobos masuk kedalam UGD, sementara Rasta terbaring bersimbah darah. Kepalanya penuh perban dan napasnya pun sudah satu-satu,

“Rasta … ini aku gadis, buka matamu Ras” Bisikku di telinganya sambil terus menangis

Mata Rasta terus tertutup, hanya tangannya yang bergerak mencoba menggapai tanganku, tapi belumlah sampai, tangan Rasta lalu terkulai. Semua peralatan medis, alat pompa jantung dan monitor detak jantung, yang terhubung langsung ketubuh Rasta, berhenti seketika.

Airmataku tumpah diatas tubuh Rasta, aku hanya bisa menatap tubuh Rasta yang terbujur kaku. Seribu penyesalan menggelayut di hatiku. Aku segera tersadar, Rasta memang bukan pria yang pantas untuk menjadi jodohku. Rasta terlalu baik untuk menjadi jodohku.

Dengan mata yang masih basah, aku tinggalkan Rasta dan keluarganya yang mulai mengelilingi jasadnya. Jodoh memang tidaklah bisa dikira, karena memang ada yang lebih berhak untuk menentukannya. Baik dimata kita, namun belum tentu baik di mata-Nya. Begitu juga sebaliknya.

Itulah sebuah kisah yang bisa aku ceritakan, yang akhirnya membuka semua derita yang lama aku pendam. Aku pernah diperkosa Bosku, seorang pengusaha terkenal, saat aku bekerja disebuah perusahaan Multinasional sebagai sekretaris direksi. Cerita tentang ini nanti akan aku ceritakan.

Hanya saja aku tetap tidak ingin menceritakan siapa nama pengusaha yang aku maksud. Aku keluar dari perusahaan itu, meninggalkan jabatannya yang bagus. Aku memilih terjun kedunia entertainment meneruskan karir yang sudah mulai aku rintis sebagai artis pendukung, sebagai pelarian dari kemalangan yang aku hadapi.

Trauma masa lalu itu membuat aku takut untuk menikah, aku mimilih melajang dan tidak memiliki pasangan tetap. Semua lelaki yang dekat denganku hanya aku anggap sebagai sahabat, tidak ingin terikat dengan sebuah tali perkawinan. Rasta adalah laki-laki yang menurut aku pantas menjadi suamiku, hanya saja aku takut kalau Rasta kecewa.

Ini hanyalah sebagian kecil cerita tentang kehidupanku, masih banyak cerita tentang deritaku yang akan aku ceritakan. Sekarang aku berusaha untuk mengubah kehidupanku. Masuk ke dunia entertainment juga bukan tanpa godaan dan cobaan.

Liku-liku kehidupan yang aku lalui sangatlah panjang, kesenangan dan penderitaan selalu beriringan menyertai hidupku. Sampai pada saatnya aku bertemu dengan seorang ‘Pangeran’ yang baik hati, yang bersedia menerima diriku apa adanya.

Proses aku bertemu dengan sosok lelaki yang budiman itu, akan menghiasi cerita ini, dengan berbagai problema yang aku hadapi dengan penuh ketegaran. Sampailah pada tahap aku menemukan puncak populeritas dalam karir sebagai artis, yang aku capai dengan susah payah.

Hampir keseluruhan peristiwa dalam cerita ini adalah hasil hasil pengalaman hidupku, itulah makanya namaku sengaja di samarkan. Karena cerita ini adalah bagian dari kisah nyata, yang sengaja ingin aku ceritakan.

Kebetulan aku dan penulis, ada dalam lingkungan pekerjaan yang sama, maka hampir setiap hari penulis berdialog dengan aku, dan aku dengan sukarela berbagi cerita. Tentunya cerita yang aku tuturkan nantinya, sudah dibumbui dengan berbagai peristiwa yang menarik oleh penulis

Pada bab cerita selanjutnya, aku akan menceritakan bagaimana peristiwa pemerkosaan yang aku alami bisa terjadi, dan bagaiamana penyelesaian kasus pemerkosaan tersebut sampai tidak terekspos ke publik.

Cerita inilah nantinya yang memberikan efek pada kehidupan aku dikemudian hari. Bagaimana aku dianggap sebagai wanita lajang yang jalang, yang aku sama sekali tidak peduli dengan sebutan itu, bagi aku, memperbaiki keadaan hidup jauh lebih penting tenimbang menanggapi masalah itu.

Bermodalkan wajah yang cantik, dengan postur tubuh yang menarik, menurut temanku penulis ini, sudah cukup menjadi modal untuk terjun kedunia entertainment. Ternyata feelingnya tidak meleset, kehadiran aku sangat di terima, dan karir aku pun cukup moncer, itulah yang membuat aku terus bertahan.

Siapakah pangeran yang melabuhkan cinta tulusnya padaku? Disinilah yang menarik nantinya dari cerita ini.

Bersambung..

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed