oleh

Nganggur Tapi Menerbitkan Buku?

-BUKU, Filosofi, Gaya Hidup, Karir, Literasi-Telah Dibaca : 603 Orang

Sejak tahun 2018 saya tidak lagi aktif di dunia Sinetron dan Film. Saya menjadi pengangguran yang tetap sibuk beraktivitas di rumah.

Saya tidak pernah berpikir pada awalnya bagaimana bisa menerbitkan buku, karena dalam pikiran saya menerbitkan buku itu biayanya mahal.

Tahun 2019 saya mencoba menerbitkan Novel saya yang pertama, MATA UNTUK AINI, alhamdulillah diberikan kemudahan oleh sebuah penerbitan. Itu semua berkat jasa baik seorang teman, yang memberikan kesempatan untuk menerbitkn buku tanpa biaya.

Saya terus saja menulis tanpa berpikir untuk menerbitkannya, bagi saya menuis adalah bagian dari ikhtiar dan merupakan ibadah, karena membagikan hal-hal yang positif. Sangat berharap akan menjadi amal Jariah.

Tahun 2020 gayung bersambut, berbagai tulisan saya yang sudah siap diterbitkan berkesempatan diterbitkan secara gratis di Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD).

Alhamdulillah, sejak saat itu buku-buku saya terbit begitu saja. Begitulah kalau Tuhan sudah memudahkan jalan untuk mengabulkan niat dan doa yang kita panjatkan.

Ikhtiar saya cuma menulis, bagaimana pada akhirnya buku itu bisa diterbitkan itu semua tergantung Ridho Allah. Secara saya cuma pengangguran yang tidak punya penghasilan, tentulah tidak masuk akal bisa terus menerbitkan buku. Sampai saat ini sudah masuk pada buku yang ke 15 dan 16.

Di samping menulis, saya juga mendesain cover buku, kadang-kadang dari desain cover buku inilah saya bisa punya penghasilan. Hasil dari desain cover buku pula lah yang menjadi andalan saya untuk membiayai penerbitan buku. Seperti itulah Tuhan memberikan hasil dari sebuah ikhtiar.

Dari buku yang saya terbitkan tidak sepenuhnya menjadi penghasilan tambahan, karena banyak juga buku itu yang saya bagikan secara cuma-cuma pada teman-teman.

Tapi, ada juga teman yang berbaik hati, meskipun dia tidak membutuhkan buku saya, namun dia membeli buku-buku saya sebagai bentuk apresiasi.

Harga yang dibayar pun melebihi harga yang sesungguhnya. Itu semua dia lakukan sebagai bentuk support dan apresiasi terhadap karya dan ikhtiar saya. Begitulah cara kerja Tuhan memberikan rezeki pada saya. DIA ketuk hati teman saya untuk melancarkan ikhtiar saya.

Seperti itulah proses saya menerbitkan buku, sehingga tanpa saya sadari setiap saya mau menerbitkan buku, Tuhan selalu memberikan jalan dan memudahkannya.

Semua itu semakin menguatkan niat saya, dan saya semakin yakin kalau Tuhan itu memang ada selalu memberikan pertolongan pada umatnya.

Semakin hari semakin mudah rasanya menerbitkan buku, yang susah itu ketika berniat menerbitkan buku tapi naskah yang mau diterbitkan tidak ada.

Itulah makanya setiap hari saya harus menulis tentang apa saja, tanpa memikirkan terlebih dahulu kapan mau diterbitkan.

Padahal saya punya banyak naskah yang sudah siap diterbitkan, namun tidak tergerak hati untuk menerbitkannya. Malahan yang baru saya tulis justeru dipersiapkan untuk terbit. Untuk melengkapi isi buku tersebut saya memilah-milah berbagai tulisan yang sudah pernah diposting.

Bagaimana membiayai penerbitannya itu menjadi urusan kedua, karena sudah terbukti selama ini buku yang saya terbitkan sumber biayanya dari rezeki yang tak terduga.

Benarlah kalau dikatakan, tugas kita sebagai manusia itu hanya ikhtiar, soal bagaimana hasilnya adalah Allah yang menentukan.

Kadang saya ingin tertawa sendiri kalau mengingat proses penerbitan sebuah buku, karena hanya bermodalkan nekad dan keyakinan semua itu bisa terlaksana.

Memang bagi manusia banyak hal yang tidak mungkin, terlebih lagi bagi yang tidak percaya kepada Tuhan.

Bagi Tuhan, tidak ada yang tidak mungkin. Tidak mungkin bagi manusia, namun mungkin bagi Tuhan.

Bayangkan, dari 15 buku yang sudah saya terbitkan dalam waktu 3 tahun, semua terlaksana begitu saja. Tanpa ada kendala yang berarti.

Saat saya mempersiapkan buku tersebut, saya belum tahu sumbernya dari mana. Saya Cuma mengandalkan pemesanan dari pihak pembeli dengan cara Pre order. Setelah jelas ada yang pesan, barulah saya cetak bukunya sesuai dengan jumlah pesanan.

Aji Najiullah Thaib

Komentar

Tinggalkan Balasan