oleh

Guru Ngaji yang Penuh Drama

-Edukasi, Humaniora, Islam-Telah Dibaca : 56 Orang

GURU NGAJI YANG PENUH DRAMA

Sekitar tahun 90an saat saya pulang ke Jambi, salah seorang abang saya mengajak saya ke pengajiannya. Dalam perjalanan ke tempat pengajian, abang saya sudah mendramatisir situasi yang ada di pengajian. Utamanya dia cerita tentang sosok guru ngajinya yang seorang Mualaf.

Rumah guru ngajinya itu tidak jauh dari Airport Jambi yang lama di Pal Merah. Abang saya juga menceritakan kalau orang-orang yang mengaji di tempat itu, rerata tempat tinggalnya jauh. Ada yang rela jalan kaki, dan ada juga yang bersusah payah dengan mengendarai sepeda. Itu semua karena kekaguman pada Sang Guru.

Begitu sampai di tempat pengajian, saya melihat di dalam sudah ramai orang. Saya pun diperkenalkan pada sang guru, dan begitu berjabat tangan dengan saya, dia menyebut saya ‘khalifah,’ saya tidak terlalu tahu apa maksudnya. Penampilan Sang Guru biasa saja, tidak pakai gamis atau pun atribut Islam lainnya.

Kami duduk setengah lingkaran menghadap kearah Sang Guru, di samping kanannya ada sebuah lukisan semi kaligrafi bernuansa Surealistik. Di tangan Sang Guru ada kitab Tafsir Al Qur’an yang menjadi dasar pengajarannya. Sambil berurai airmata, Sang Guru mulai berdrama, dia menitikkan airmata penyesalan, dia mengaku seorang Mualaf.

Dulunya dia sering berlaku keji terhadap isterinya yang seorang muslim ceritanya, sering dia tendang isterinya saat sedang sholat. Semua murid yang ada di majelis itu terharu, dan terkagum-kagum mendengar cerita itu. Reaksi saya saat itu biasa saja, karena saya sudah terlalu sering menyaksikan drama seperti itu.

Untuk memancing kekaguman anggota majelis, Sang Guru kembali mengarang cerita yang bisa mengundang decak kagum. Dia mulai cerita, kalau lukisan yang ada disebelah kanannya itu dia ciptakan secara ghaib, hasil tirakatnya, dan buah komunikasi dengan Sang Pencipta.

Cerita itu membuat anggota majelis semakin terkagum-kagum dengan Sang Guru, sementara saya datar-datar saja. Saya berusaha mengoptimalkan nalar dan logika saya dalam menerima pengajarannya. Bagi saya yang seperti itu sudah sering saya temui di Jakarta, banyak orang yang seperti itu di berbagai bidang.

Dia membanggakan murid-muridnya yang dari berbagai penjuru, yang sudah bersusah payah datang kepengajiannya. Dalam pandangan saya saat itu, orang itu dasarnya cuma pintar, asalnya juga dari Jakarta, pindah ke Jambi cuma untuk mencari mangsa baru. Yang saya tahu sebelumnya dia seorang pengusaha yang gagal, yang juga menganggap bapak saya sebagai bapak angkat.

Itu pun merupakan kecerdikannya untuk membuka jalan agar mendapatkan relasi. Jadi sebelumnya saya sudah kenal, jadi saat abang saya memperkenalkan, saya sudah kenal dia, hanya saja dia tidak kenal saya. Singkat cerita, sepulang dari pengajian tersebut, saya bilang sama abang saya,

“Jangan lagi datang ke pengajian tersebut, jangan mudah kagum sama seseorang, cari guru ngaji yang Mursyid, yang memang faham agama.

Abang saya saat itu sulit menerima masukan saya, dan saya tidak memaksakannya. Suatu saat saya cerita tentang pengajian itu sama abang saya satunya lagi, keluarlah satu bukti dari kecurigaan saya. Ternyata lukisan yang dibahas di pengajian tersebut adalah lukisan abang saya, yang diminta Sang Guru. Abang saya pun cerita tentang Sang Guru, dan kenyataannya dugaan saya tidak salah.

Kemudian saya ceritakan hal itu pada abang saya yang pertama tadi, barulah dia percaya dengan apa yang saya katakan. Sejak itu dia tidak lagi ikut pengajian tersebut. Tulisan ini cuma mau mengatakan, jangan mudah terpesona dengan ucapan-ucapan orang yang baru Anda kenal, tetaplah gunakan nalar dan logika dalam menerima ajaran apa pun.

Jangan mudah terhipnotis dengan berbagai drama yang ciptakan oleh seorang guru, karena itu adalah bagian dari siasat untuk memikat.

Ajinatha

Foto hanya Illustrasi..

Komentar

Tinggalkan Balasan

2 komentar

News Feed