oleh

Belajar Mengaji

-Edukasi, Filosofi, Gaya Hidup, Literasi, Sosbud, YPTD-Telah Dibaca : 112 Orang

BELAJAR MENGAJI

Sejak kecil kami adik beradik diwajibkan untuk belajar mengaji, mulai dari diajarkan ayah sendiri sampai diajarkan oleh guru/ustadz agar bisa mengaji, ini wajib kami lakukan setiap hari selepas maghrib.

Mungkin karena ayah saya tidak punya cukup waktu untuk mengajar kami mengaji, akhirnya beliau mendatangkan seorang ustad untuk mengajar kami.

Cara mengajar ustad ini saya anggap cuma formalitas, karena apa yang diajarkan sekadar hapalan. Itu pun longkap-longkap, tidak secara berurutan setiap ayat yang diajarkan.

Ajaibnya, tidak sampai satu bulan kami pun khatam Al Qur’an. Ayah saya senang, sehingga dibuatlah seremonial acara khatam Al Qur’an tersebut.

Padahal apa yang diajarkan tidak melekat di kepala sama sekali, hanya sekadar bisa namun tidak mengerti apa yang dibaca. Timbullah kegelisahan demi kegelisahan, sangat takut kalau sampai tidak bisa membaca Al Qur’an dengan baik.

Tidak puas dengan satu guru yang mengajar kerumah, kami pergi ke surau-surau yang cukup jauh dari rumah, pendek kata kami diwajibkan orang tua harus mampu membaca Al Qur’an agar hidup kami tidak sia-sia, Al Qur’an yang dibaca pun tidak pernah khatam, namun semangat belajar tidak pernah berkurang.

Saya sendiri akhirnya terus mencari guru mengaji, dimana ada pengajian di dekat rumah saya datangi. Berharap dengan guru berikutnya bisa meningkatkan kemampuan membaca Al Qur’an.

Alhamdulillah, pada guru yang juga tetangga dekat rumah ini saya mulai menikmati kajiannya, dan saya semakin rajin untuk mengikuti pengajian.

Cara mengajar dan memberikan pemahaman terhadap apa yang dibaca membuat saya tambah antusias untuk belajar, meskipun hati tetap saja belum puas. Seakan masih belum menemukan apa yang sesungguhnya sedang dicari.

Satu ketika saya bertemu dengan seorang tua yang cukup sepuh, yang wajahnya begitu sejuk, tutur katanya pun begitu lembut. Dia menuntun saya dengan penuh ketekunan dan kesabaran dalam membaca Al Qur’an.

Mengajarkan mengenal semua tanda bacanya, sehingga dengan mudah saya bisa memahaminya. Hal ini betul-betul membekas dalam ingatan saya. Dari sekian guru yang pernah mengajarkan saya, termasuk ayah saya, baru guru inilah yang mampu mengajarkan saya secara benar membaca Al qur’an.

Yang terbersit dalam benak saya bahwa orang tua ini mengajarkan saya dengan hatinya, bukan semata-mata dengan mulut dan ucapannya. Dia tahu bagaimana menyampaikan ilmu agar orang yang diajarkannya mudah menerima.

Bacaannya sangat bagus, artikulasinya jelas, sehingga saat dia membaca ayat-ayat yang diajarkan sangat enak didengar telinga.

Kadang saat sedang tidak mengaji, terngiang-ngiang suaranya yang begitu merdu, yang memacu saya untuk membuka kita suci Al Qur’an dan membacanya.

Saya pun berusaha untuk meniru cara dia melantunkan ayat-ayat Al Qur’an. Inilah sebuah berkah Allah yang saya terima dari seorang guru mengaji yang begitu tulus.

Ekspektasi saya pada seorang guru/ustadz dalam memberikan ilmu Agama, orang tua itulah yang menjadi standarnya, cara dia menyampaikan, cara dia mengingatkan yang penuh kelembutan.

Makanya ketika saya mendengar ceramah yang memekakkan telinga, saya seperti tidak mendengar apa-apa. Apa lagi dalam ceramah tersebut isinya cuma caci-maki dan tebaran kebencian.

Setiap kita pastilah tidak sama dalam melihat dan memandang suatu kejadian, karena sesuai dengan jiwa dan karakter masing-masing.

Mungkin ada yang senang jiwanya dibakar oleh ajaran kekerasan, juga ada yang lebih bisa menerima pengajaran yang disampaikan penuh santun dan kelembutan.
Kalau bagi saya, sebuah kajian haruslah disampaikan secara jelas dan beradab.

Terlebih lagi yang menyangkut pendalaman kajian Al Qur’an, karena dengan cara itulah kita bisa memahami kandungan ayat suci yang diajarkan, bukan Cuma sekadar bisa membacanya.

Ajinatha

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed