oleh

Di Mana Ada Kamu, Di Situ Ada Aku

-Cerpen, Fiksiana-Telah Dibaca : 493 Orang
Asmara Garden. Photo dokumen pribadi by Ari
Asmara Garden. Photo dokumen pribadi by Ari

 

Asmara Garden. Photo dokumen pribadi by Ari

“Kau yakin akan ambil pekerjaan itu? Itu jauh sekali. Di luar pulau. Kau akan terpisah amat sangat jauh dari keluargamu. Kamu juga anak perempuan. Berani? Apakah sudah mantap?” Tanya Bunda padaku.

“Iya yakin Bunda. Aku sudah susah payah mendapat gelar sarjana pertanian.ada tawaran menarik begini, masa akan kulewatkan. Kan sayang ya, Bunda?” Jawabku dengan doa dalam hati memohon restu.

Bunda menghela nafas panjang. Ada resah, gelisah dan juga cemas terasa di sana. Aku pun memilih diam. Tidak ada perbincangan lagi. Bunda sepertinya belum siap melepasku pergi jauh. Dan aku tidak akan memaksa Bunda menyetujui. Kalau memang Bunda tidak setuju, terpaksa pekerjaan itu kulepas. Tak mungkin aku pergi tanpa restu Bunda.

Hari terus berlalu, waktuku untuk segera memberi jawab pada perusahaan yang memanggilku bekerja tinggal besok. Bunda masih belum menunjukkan tanda-tanda memberi ijin. Pupus sudah harapanku.

Sampai akhirnya malam itu, “Bunda ijinkan kamu pergi bekerja di tempat yang kau mau, tapi berjanjilah untuk menjaga kesehatan dan sering mengirim kabar ke Bunda.” Hampir tak percaya aku pada jawaban Bunda. Ada restu untukku pergi.

“Baik Bunda. Aku janji. Terimakasih Bunda. ” Kupeluk Bunda erat-erat. Ada terlihat sekikas titik air mata Bunda. Namun segera Bunda hapus dan memelukku erat. Lalu menepuk-nepuk punggungku.

Segera kukabari perusahaan tempat aku akan bekerja. Minggu depan aku berangkat. Masih ada waktu satu Minggu untuk bersiap. Aku akan ikut dalam tim penelitian yang bekerja di daerah pelosok karena segala sumber daya alam yang dibutuhkan ada di sana.

Menikmati alam segar pegunungan. Dengan persawahan yang sedang hijau subur sangat luas. Aku seorang diri mencoba menerapkan ilmu yang ku dapat di sana. Sebagian besar temanku memilih kerja di kota meski tidak sesuai bidang study yang diambilnya. Aku memilih bekerja di desa, sesuai bidang minatku.

Tinggal di sebuah rumah warga yang letaknya tak jauh dari perusahaan itu. Sebagaian besar warga desa sangat ramah dan suka menolong. Mereka juga mau peduli dengan kebutuhanku sebagai warga baru di desa mereka.

“Mbak Tiara kalau perlu sesuatu, segera beritahu kami ya. Agar kami bisa membantu” kata Ibu Karti pemilik rumah di mana aku tinggal. “Baik Bu. Terimakasih”

Aku mulai masuk kerja dan berusaha segera mengerti tugas-tugas yang menjadi bagianku. Aku harus melihat bibit yang terbaik dari tanaman yang akan dibudidayakan perusahaan tersebut. Selain itu, jika penelitianku berhasil dalam menemukan bibit unggul dan upaya menjaga pertumbuhan bibit yang dihasilkan pun baik, maka hasilnya akan digunakan secara meluas di cabang perusahaan di kota lain.

Aku bekerja bersama tim. Ada sekitar 3 orang tim inti dan beberapa orang tim pendamping yang bertugas membantu pelaksanaan penelitian.

Belum ada satu bulan aku bekerja, aku dikejutkan oleh kehadiran seseorang yang tiba-tiba di depan rumah bu Karti. Dia mencariku. “Siapa ya?” Batinku ketika bu Karti memanggilku sore itu.

Masih terasa lelah sisa bekerja di kantor, aku paksakan juga untuk keluar sebentar menemui tamuku. ” Mas Gilang? Apa yang mas lakukan di sini? Astaga. Apakah liburan? Jauh sekali”

Keterkejutanku tak terkira melihat mas Gilang, seorang teman dekat yang tinggal satu kota denganku. Di Kota kelahiranku, kami bertemu. Mas Gilang adalah teman kuliahku dulu. Dia kakak kelasku. Tapi setelah lulus masih sering menjalin relasi denganku.

Aku merasakan kalau mas Gilang menaruh hati padaku. Aku tak mau memberinya harapan. Sementara aku saja masih ingin serius bekerja. Belum ada rasa lain ingin kubina. Terlebih membangun rumah tangga. Biar itu urusan nanti, bukan sekarang.

Mas Gilang sejauh ini selalu baik dan penuh perhatian padaku. Meski aku sudah jelas mengatakan padanya kalau aku masih ingin berkarir. Mas Gilang hanya membalas dengan senyum saja.

Aku tidak memberitahu mas Gilang tentang rencanaku bekerja di luar kota, sekaligus di luar pulau. Bukannya mau main rahasia, tapi waktu itu belum ada kepastian dari Bunda, apakah memberi restu atau tidak. Sampai akhirnya Bunda ijinkan, dan pas Mas Gilang sedang sangat sibuk di pekerjaannya. Tak mau kuganggu dengan beritaku.

“Apa boleh Mas duduk dulu?” Jawab mas Gilang. Senyuman itu masih sama. Kulihat ada lelah pula di wajahnya. “Eh maaf, lupa. Silakan duduk mas Gilang. Tiara buatkan teh manis ya. Aku tahu kesukaan mas Gilang, cukup secangkir teh manis panas.

Anggukan kepala dari mas Gilang membuatku secepat kilat masuk rumah lagi dan mempersiapkan dua cangkir teh manis. “Kenapa tak cerita kalau akan kerja di sini?” Pertanyaan mas Gilang memang sering langsung pada intinya.

“Iya maaf. Sebenarnya pengen cerita ke mas Gilang. Tapi kan pas itu mas Gilang sedang sangat sibuk. Lagian juga belum pasti. Nunggu ijin Bunda, lama.” Jawabku.

“Kalau Tiara cerita padaku, pasti Bunda akan kasih ijin lebih cepat” sambil menyeruput teh manisnya. Aku tak paham maksud kalimatnya barusan.

“Mas Gilang mau bantu aku bujuk Bunda untuk dapat ijin?” Tanyaku menebak. Dan aku dapat jawaban gelengan kepala.

“Akan kubilang pada Bunda, kalau Tiara tidak sendiri di luar pulau. Akan kutemani.” Sambil menatapku lekat dengan tatapan teduhnya seperti biasa saat kami bersama. Keberadaannya selaku memberi nyaman dan rasa tenang di hatiku. Aku mengerutkan keningku tanda masih tak paham.

“Mas Gilang akan bilang ke Bunda, kalau mas Gilang akan cari kerja di sini juga pasti Bunda ¬†akan beri ijin dengan cepat karena ada yang menjagamu” tak terasa merona merah pipiku mendengar jawaban mas Gilang.

“Mas Gilang ke mari dalam rangka apa? Mengunjungiku karena ambil cuti atau pas ada tugas kerjaan di daerah sekitar sini?” Aku berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Aku kerja di sini sekarang. Ada anak cabang perusahaanku yang buka cabang di kota tak jauh dari tempat ini. Atasanku mengijinkanku, jadi pindahlah aku”

Aku menatap mas Gilang tak percaya. Benarkah mas Gilang sampai rela meninggalkan pekerjaannya di kota bessr demi tinggal tak jauh dariku. Di luar pulau, di kota terpencil dekat dengan desa tempat aku melakukan penelitian.

“Mas Gilang serius?” Masih tak percaya aku dengan jawaban mas Gilang. Sedalam itukah rasanya padaku sampai mengejarku di tempat nan jauh ini. Demi menjagaku. Hanya kudapati anggukan kepala.

Aku tak tahu harus berkata apa. Kami saling diam sampai akhirnya “Bagaimana pekerjaanmu? Senang tinggal di sini?” Tanya mas Gilang memecahkan kesunyian.

“Baik mas. Aku senang dengan pekerjaanku. Berkutat sehari-hari dengan tanaman. Memberi aneka perlakuan yang tepat untuk menghasilkan bibit tanaman unggulan. Juga berusaha menumbuhkan dengan baik. Setidaknya menemukan faktor-faktor penting untuk menghasilkan kualitas pertumbuhan bibit terbaik. ” Jika sudah bicara tanaman dan penelitian, aku memang sering panjang. Mas Gilang sangat tahu itu dan tersenyum saja mendengarkan kisahku. Dia tahu aku.

Tak terasa sudah 6 bulan aku tinggal di sini. Ada kalanya aku menangis ketika hasil penelitian buruk. Harus mengulang lagi dari awal. Mas Gilang selalu sabar dan setia mendengar keluh kesahku. Bahkan terus menyemangatiku untuk mencoba lagi dan tak boleh menyerah.

Mas Gilang tak pernah sekalipun mengeluhkan pekerjaannya. Dia lebih suka banyak mendengarkan kisahku dan bagaimana menolongku menjalani hari-hari beratku. Bahkan mas Gilang pernah membawakanku bibit Anggrek cantik. Kata mas Gilang untuk kurawat saat sore hari pulang kerja. Sebagai selingan rutinitas harian. Aku menrimanya dengan senang.

Photo by Ari

Seringkali aku menelepon Bunda. Bunda sangat senang mengetahui ada mas Gilang yang pindah kerja ke dekat tempat kerjaku. Bunda memang sudah sayang sekali pada mas Gilang. Menganggap Mas Gilang seperti anak sendiri. Bahkan sering mengatakan padaku, “Gilang itu calon menantu idaman para Ibu.” Aku hanya diam. Aku tahu maksud pembicaraan Bunda.

Kini genap 1 tahun sudah aku di tempat ini. Dengan berbagai hasil penelitian yang kubuat bersama tim. Beberapa jenis bibit tanaman unggul sudah diproduksi banyak dan dikirimkan ke kantor-kantor cabang.

Aku mendapat telepon dari kantor pusat perusahaan yang terletak di kota tak jauh dari tanah kelahiranku. Aku diminta datang untuk bekerja di sana. Karena prestasiku di pekerjaanku selama 1 tahun, mereka menilai keberadaanku saat ini lebih dibutuhkan di kantor pusat.

Saat kuceritakan pada mas Gilang, kulihat senyum cerah tanda rasa senang. “Ambil saja Tiara kesempatan itu. Ini mungkin waktunya kita kembali ke rumah. Bunda pasti sangat senang” kata mas Gilang bersemangat. “Kenapa Mas Gilang senang sekali?” Tanyaku heran

“Kalau kamu ambil kesempatan itu, ku juga ikut pindah lagi ke kantor pusat tempat kerjaku. Jadi kita bisa sama-sama terus.” Kulihat ada harapan besar di sepasang mata mas Gilang menatapku.

“Aku juga rindu Bunda. Selama 1 tahun tinggal di sini, aku bahkan belum sempat pulang menjenguk Bunda. Sedih sekali aku Mas Gilang” bagi banyak orang tidak pulang selama 1 tahun mungkin hal biasa. Tapi tidak bagiku yang terbiasa selalu bersama Bunda sebelumnya.

Akhirnya aku memutuskan kembali lagi ke kota kelahiranku dan menerima tawaran untuk bekerja di kantor pusat. Demikian juga mas Gilang. Dia pun kembali bekerja di kantor pusat perusahaannya.

“Mas Gilang, kenapa mas mau jauh-jauh menyusulku ke luar pulau dan kini kembali lagi bersamaku di kota ini? Kota tempat kelahiran kita?” Tanyaku di suatu sore, saat kami duduk-duduk di teras depan rumah Bunda. Kami berdua sudah sama-sama pindah kerja di kantor pusat, kota kelahiran kami

“Karena aku mau, di mana ada kamu, di situ ada aku” Jawab mas Gilang singkat.

Mas Gilang lagi-lagi sudah membuktikan ketulusan cintanya padaku. Dan tak bisa kupungkiri kebersamaan kami selama setahun di tempat yang jauh dari rumah, berhasil menumbuhkan bibit cintaku padanya. Bukan hanya berhasil mendapatkan bibit tanaman unggulan di sana, aku juga mendapat bibit cintaku tumbuh indah di hatiku pada mas Gilang.

Aku rasa mas Gilang tahu itu. Apakah kini saatnya? Membina rasa hati yang sudah tumbuh. Saat mas Gilang bilang ” Maukah Tiara menikah denganku?”

Haruskah kujawab iya? “Iya, mas Gilang” Jawabanku membuat wajah mas Gilang langsung ceria.

…..

Tamat

 

Artist: Katon Bagaskara

Song: Engkaulah Bahagiaku

….

Written by Ari Budiyanti

25 Oktober 2019

#CerpenAri

Sudah tayang di Kompasiana

Komentar

Tinggalkan Balasan

2 komentar