oleh

Aku Mau Berbagi (Tentang Mengasihi Sesama)

-Cerpen, Fiksiana-Telah Dibaca : 124 Orang
Sumber foto: APK Pure.com
Sumber foto: APK Pure.com

“Tante, bagaimana caranya bermain mainan ini?”Aldi bertanya padaku. “Oh ini mudah. Coba Aldi susun tiap keping puzzle ini sampai jadi sebuah gambar. Kan ada contohnya.” Aku coba menjelaskan cara bermain puzzle pada keponakanku laki-laki berusia 5 tahun.

Awalnya, ia mudah sekali putus asa dan ingin berhenti saja. “Belum apa-apa sudah menyerah.” Pikirku dalam hati. Yah, memang sih ini adalah jenis mainan baru untuknya. Ini bukan hal biasa bagi anak di desaku untuk bermain puzzle dari kayu itu.

Aku cukup memakluminya. “Ayo coba lagi, Aldi pasti bisa.” Kataku berusaha menyemangatinya. Akhirnya, ia pun mau mencoba lagi sampai berhasil.

Aldi sangat menyukai puzzle barunya itu. Sebenarnya hanya puzzle sederhana yang terdiri dari 12 kepingan besar. Ini membantunya melatih konsentrasi, ketelitian dan kesabaran. Ia memamerkan puzzle tersebut ke mamanya.

Aku memang tidak mengijinkannya membawa pulang. Aku tidak yakin kalau dia bisa menjaganya. Jadi, setiap kali ingin bermain puzzle tersebut, Aldi akan minta mamanya mengantarnya ke tempatku.

Suatu kali aku pergi ke kota untuk suatu keperluan. Aku meyempatkan diri untuk membeli dua paket puzzle baru. Aku tahu Aldi sangat menyukainya. Di sana juga tertera tulisan bahasa Inggris yang menjelaskan gambar tersebut.

Kali ini aku mengajarinya dengan cepat. Aldi pun belajar dengan mudah. Rupanya ia sudah terbiasa dengan puzzlenya yang pertama.

Kali ini, Aldi datang dengan seorang temannya, Dika. Dika lebih muda darinya 1 tahun. Dika menatap kagum pada kemampuan Aldi menyusun keeping demi keeping puzzle tersebut sampai menjadi satu gambar yang bagus. Aku menyuruh Dika mencobanya juga.

Kami bermain bersama. Aku sungguh heran melihat Aldi mengajari teman kecilnya, Dika. Dika lebih tidak sabar daripada Aldi. Setiap kali tidak berhasil menyusun puzzle tersebut, ia akan menyalahkan keadaan.

Ada aja alasannya. “Aldi, koq ada bagian puzzle yang hilang ya?” Aku hanya tersenyum. Aldi dengan sigap membantu Dika lagi.

Akhirnya Dika pun berhasil. Dia menatap puzzle tersebut dengan rasa kagum. Ia baru pertama kalinya melihat mainan sebagus itu. Aldi mempunyai 2 paket puzzle dan aku memang memberikan keduanya pada Aldi.

Aku terkejut ketika tiba-tiba dia mengambil satu paket puzzle itu dan menyerahkan pada Dika. “Ini untukmu Dika. Aku punya satu dan kamu juga.” Dika sama terkejutnya denganku, bahkan lebih, dia tersenyum lebar seakan tidak percaya mendapat mainan baru itu.

“Kamu harus janji ya, untuk menjaganya baik-baik, jangan sampai ada bagian yang hilang. Tanteku bilang, kalau kita punya barang, kita harus menjaganya, itu tandanya kita bersyukur sama Tuhan yang telah memberikan barang tersebut pada kita. Ya kan Tante?” Aldi menatapku sambil tersenyum senang.

Aku mengangguk dan tersenyum lebar. Aku bangga dengan keponakanku ini. Dia mau berbagi mainan kesayangannya dengan temannya. Ia juga mau mengajari temannya bermain. Setelah Dika pulang, aku bertanya pada Aldi, “Kenapa Aldi mau memberikan mainan tersebut ke Dika? Bukankah Aldi sangat menyukainya?”

Aldi mengangguk senang dan menjawabku “Karena aku mau berbagi mainan, Tante. Aku bersyukur sama Tuhan karena Tuhan sudah memberikanku mainan yang sangat bagus. Aku sangat senang. Aku yakin kalau Dika juga sangat senang waktu aku memberikan mainan itu. Bukankah Tante pernah bilang padaku, kalau melihat teman kita senang, kita juga ikut senang? Aku juga senang melihat Dika senang.”

Rasanya hatiku berlimpah dengan sukacita atas hati Aldi yang mau berbagi. “Waktu Aldi memberikan mainan kesayangan Aldi ke Dika, Aldi juga sedang melakukan perintah Tuhan lho. Ingat dengan ayat hafalan yang selalu dibaca di sekolah minggu? ”

Aldi langsung berseru dengan lantang “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu ialah, kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Aku dan Aldi tersenyum puas. Meskipun tinggal di desa dengan jenis mainan terbatas namun bukan berarti terbatas pula kemampuannya untuk menghafal ayat.

Aldi sangat senang datang ke sekolah minggu untuk mendengarkan cerita Alkitab dan ayat hafalan. “Tante senang karena Aldi tidak hanya hafal ayat itu, tapi juga melakukannya.”

Written by Ari Budiyanti

Cerpen yang ditulis di masa lampau saat pergi ibadah ke gedung gereja masih bisa dilakukan karena pandemi belum menyapa tanah air.

Cerpen ini sudah pernah tayang di Kompasiana

Komentar

Tinggalkan Balasan

2 komentar

News Feed