oleh

Kakakku Sahabat Sejatiku (Sebuah Kisah Literasi)

-Cerpen, Fiksiana, Literasi-Telah Dibaca : 109 Orang
Sumber foto: Slideshare.net/rumahbianglala
Sumber foto: Slideshare.net/rumahbianglala

Beberapa waktu yang lalu telah berlangsung pengumuman kelulusan dari Sekolah Menengah Umum (SMU) baik swasta maupun negri. Aku bersyukur karena dinyatakan lulus. Sekarang aku sedang bingung untuk menentukan jurusan apa yang akan kuambil di Universitas nanti.

“Sebenarnya apa minatmu, Via?”, mama bertanya kepadaku, di suatu malam saat semua anggota keluargaku berkumpul. Aku punya seorang kakak laki-laki dan seorang kakak perempuan. Mereka berdua sangat sukses. Kakakku yang pertama, mas Iwan, dia sudah menjadi seorang dokter spesialis bedah saraf yang cukup ternama.

Sedangkan kakakku yang kedua, mbak Irna, baru lulus dari kuliah akuntansi dan sekarang bekerja di perusahaan papa sebagai kepala atau manajer keuangan karena mbak Irna memang sangat cerdas.

Sekarang giliranku untuk menentukan pilihan hendak menjadi apa untuk ke depan nanti. Rasanya begitu berat dan tertekan karena semua menuntutku menjadi baik dan sukses seperti kedua kakakku itu yang selalu menjadi kebanggaan papa dan mama.

“Via sayang, kamu belum menjawab pertanyaan mama?” tiba-tiba aku tersentak mendengar suara papa yang meskipun lembut mampu membuyarkan lamunanku. “Nah, kan, Via melamun lagi,” sambung mbak Irna, “kenapa sih kamu tidak bisa membuang kebiasaan burukmu itu Via?” lanjut mbak Irna menambahkan.

Mas Iwan masih diam, tidak ambil bagian dalam pembicaraan ini, memang kakakku yang satu ini pendiam dan sangat pengertian, jadi kakak idamanku.

“Novia bangun! Jangan melamun terus!” mbak Irna berseru sambil mencubit tanganku. ” Aaaw sakit, mbak!” teriakku keras, akhirnya aku merespon juga, ternyata aku sudah terlalu lama melamun. ” Iya, iya, aku kan sedang berpikir untuk menjawab pertanyaan mama.” Sahutku berdalih sekenanya.

“Ya udah berpikirnya cukup kan, sekarang apa dong jawabnya, minat kamu atau cita-cita kamu sebenarnya menjadi apa, adik kecilku?” mas Iwan ternyata menyimak pembicaraan kami, meskipun dari tadi terlihat begitu serius membaca buku kedokterannya. Mas Iwan selalu tahu menempatkan posisinya sebagai kakak dengan tepat.

“Sebenarnya aku ingin menjadi seorang penulis, penulis cerpen, puisi atau novel, kalau bisa aku ingin menulis buku apa saja yang dapat membangun pola pikir setiap pembacanya.” Aku menjawab dengan mantap dan penuh percaya diri.

Sejenak semua terdiam mendengar jawabanku yang pasti di luar dugaan mereka, karena selama ini aku selalu diarahkan untuk menjadi dokter seperti mas Iwan atau akuntan seperti mbak Irna, juga pengacara terkenal seperti mama dan papa yang menjadi direktur perusahaan tekstil yang besar dan maju di kota kami. Sementara aku ingin jadi penulis, di luar harapan mereka semua.

“Astaga Via, kamu serius dengan jawabanmu?!! Penulis?!” sahut mbak Irna sambil melompat dari kursinya, menurutku itu reaksi yang berlebihan, sangat berlebihan. Mama juga menatapku dengan sangat heran. “Aduh Via, mama sungguh tak percaya, papa bagaimana ini, Novia ingin jadi penulis, bagaimana dengan masa depanmu nanti, Via?”.

Hancur harapanku, papa juga tidak menunjukkan dukungannya padaku meski papa hanya geleng-geleng kepala.

“Menurutku menjadi penulis juga mempunyai masa depan yang cerah, Pa, Ma, buktinya Shakespeare dan Kahlil Gibran, juga beberapa penulis dunia, mereka sangat berjasa bagi masyarakat, karya-karya mereka selalu diingat meski mereka sudah tiada. Irna, kamu juga suka baca novel, puisi dan cerpen-cerpen, coba kalau tidak ada penulisnya, kamu mau baca apa? Aku rasa cita-cita Via sangat bagus. ”

Wow, dukungan penuh dari kakakku tersayang, mas Iwan, pahlawanku, harapanku muncul kembali apalagi setelah itu mas Iwan tersenyum sambil mengacungkan kedua ibu jarinya ke arahku. ” Siip, aku mendukungmu Via.”

Papa, mama dan mbak Irna beranjak pergi dari ruang tamu, tempat dimana kami tadi berkumpul. Mereka pergi tanpa kata dan sepertinya tidak mempedulikan perasaanku. Aku sungguh kecewa, lalu berlari ke kamar, menangis dan mulai menuliskan semua kemarahan dan kekecewaanku dalam buku harianku, sampai aku tertidur. Hari itu, aku lupa berdoa sebelum tidur karena sangat sedih.

Paginya, Mas Iwan mengajakku ke toko buku dan berjanji membelikaku beberapa buku. Itu cara mas Iwan menghibur hati adiknya yang sedih. Di toko buku, aku memilih beberapa buku bacaan kesukaannku.

“Via, kenapa kamu memilih buku-buku ini?” Mas Iwan ternyata tidak setuju dengan buku-buku yang kupilih. “Memang kenapa dengan buku-buku ini, apa ada yang salah?” tanyaku heran dan sedikit kecewa.

Mas Iwan menanggapiku dengan senyum dan menjawab: “Kalau ingin jadi penulis, kamu harus membiasakan diri membaca buku-buku yang berkualitas lebih baik. Misalnya karya sastra terkenal baik dari Indonesia maupun dunia. Dengan demikian kamu dapat sekaligus belajar tata bahasa dan budaya yang berbeda-beda. Lalu kamu bisa memadukan dalam karya-karyamu.”

Aku menggelengkan kepalaku sambil mengernyitkan kening. “Aku tidak mengerti.” jawabku dengan sangat polos. “Oke. Begini Via. Dalam setiap karya sastra pasti tersimpan nilai-nilai moral yang membangun pola pikir suatu masyarakat tertentu, khususnya di tempat penulis itu berasal. Jadi kamu bisa belajar banyak hal dari penulis yang berbeda-beda.

Dari situlah kamu bisa menulis karya-karya yang bermutu yang bisa membangun pola pikir pembacanya. Yang penting menulis terus, jangan berhenti berjuang, kalau sudah terkenal uang akan datang sendiri.”

Aku mulai mengerti dan menganggukkan kepalaku. “Aku paham, pak dokter.” Sahutku sambil tersenyum dan penuh semangat. “Bagus, sekarang mari kita cari buku-buku yang pantas jadi konsumsimu, ayooo!!” kata mas Iwan seperti komandan pasukan saja. Lalu kami mencari buku-buku yang mas Iwan maksudkan.

Waktu cepat berlalu dan telah kuputuskan untuk mewujudkan impianku menjadi penulis. Aku mengambil jurusan sastra di salah satu universitas negeri dikota kami. Memang papa, mama dan mbak Irna tidak juga menunjukkan dukungan mereka padaku tapi mas Iwan selalu menunjukkan dukungannya padaku. Bahkan seringkali mengirimkan karya-karyaku ke berbagai media masa, dari puisi, cerpen, juga berbagai artikel.

Awalnya aku selalu putus asa karena tak kudapati karyaku yang dimuat dan itu seringkali membuat mbak Irna menyindirku. Sedih juga rasanya, tapi mas Iwan selalu membangkitkan semangatku. Meskipun dia sangat sibuk dengan pekerjaannya di rumah sakit, ia tetap setia mendampingiku saat menulis.

Hari terus berlalu dan aku terus menulis, minimal satu karya dalam satu hari. Sampai suatu sore, disaat aku membaca kisah biografi ibu Kartini, tiba-tiba mas Iwan datang dengan membawa tabloid sambil tersenyum ceria. “Via, lihat, satu puisimu dimuat dalam tabloid ini, puisimu yang berbicara tentan kepedulian kita terhadap alam.”

Aku menyambut dengan ceria dan tawa riang hampir tidak percaya tapi itu memang benar karyaku. “Hore karyaku dimuat”, aku berseru kegirangan. “Ada apa ini, ribut sekali!”mbak Irna keluar dari kamar dan bertanya kepada kami. “Irna, puisinya Via dimuat.” Jawab mas Iwan bersemangat. “Oh, aku pikir ada apa, begitu aja ribut banget. Bikin orang kaget aja.”
Mbak Irna sama sekali tidak antusias dengan keberhasilanku, lalu kembali lagi ke kamarnya.

Aku kecewa sekali, tidak ada ucapan selamat sedikitpun. Aku terdiam. “Sudah, jangan dipikirkan, setiap orang mempunyai hobi masing-masing. Mungkin saja mbak Irna tidak bisa memahami indahnya menulis, apalagi sampai karyanya dimuat, jangan kecil hati.”

Aku sudah menyelesaikan kuliahku di sastra, tepat 4 tahun. Aku sudah menghasilkan banyak tulisan dan cukup uang honor dari setiap karyaku yang dimuat. Sampai suatu hari aku ditelpon seseorang dari tim editor suatu majalah.

Aku diajak bertemu dengan tim penerbit buku, mereka menawarkan hendak membukukan karya-karya puisi dan cerpenku karena menurut mereka isi dari karya-karyaku memberi terobosan baru yang dapat membangun pola pikir setiap pembacanya menjadi lebih maju.

Aku tidak berani memutuskan, dan segera menelpon mas Iwan untuk minta pendapatnya. Mas Iwan langsung mengiyakan dan berjanji akan membantuku memilih karya-karyaku yang pantas untuk dibukukan. Singkat cerita, aku menemui penerbit buku tersebut dan menandatangani kontrak penulisan buku.

Malam harinya, saat semua berkumpul di ruang keluarga. Mbak Irna bertanya, “Via, sepertinya tadi kamu aku dengar kamu menandatangani kontrak untuk penulisan buku, benar? Kenapa tidak kau ceritakan pada papa, mama?”

“Iya Mbak, aku mau cerita. Begini Pa, Ma, ada satu penerbit tertarik untuk membukukan karya-karyaku karena menurut mereka karya-karyaku mempunyai nilai lebih.” kataku dengan tidak bersemangat, karena mas Iwan tidak memperhatikanku. “Bagus itu, akhirnya cita-citamu terwujud, Papa bangga dengan usahamu sayang.” kata papa dengan tulus.

Sementara mama terus membelai rambutku sambil berkata, “Terus berjuang ya Via sayang.” Aku mengangguk, “Terimakasih Pa, Ma.” Seusai makan malam kami berbincang banyak hal tapi tanpa mas Iwan, lalu papa dan mama juga minta maaf atas kejadian dulu ketika mereka tidak mendukungku, juga mbak Irna.

Hampir 4 tahun aku harus menahan semuanya dan malam itu aku sangat terharu dan bersyukur pada Tuhan. Sebelum tidur, aku menemui mas Iwan di ruang kerjanya. Kudapati mas Iwan sedang membaca puisi-puisiku, lalu bertanya padaku, “Apa yang kau rasakan sekarang Via?”

Aku tersenyum, ” Sangat bahagia, perjuanganku selama 4 tahun ini ternyata tidak sia-sia. Itu semua berkat dukungan mas Iwan yang selalu sabar dan setia membimbingku. Tadi papa, mama dan mbak Irna memberikan selamat, mereka juga meminta maaf atas sikap mereka selama ini yang tidak mendukungku.”

Mas Iwan mengangguk-anggukan kepala, “Aku sengaja diam dan tidak menyinggung prestasimu, karena memang sudah waktunya kamu bangga dan percaya diri atas talenta atau karunia atau kelebihan yang Tuhan berikan kepadamu. Setiap orang mempunyai kelebihan yang berbeda, dan pasti unik, kelebihan itu adalah karunia dari tuhan yang harus dikembangkan semaksimal mungkin dan dibaktikan kepada Tuhan dan sesama kita.”

“Bila kita tidak menggunakannya, bisa-bisa diambil kembali oleh Tuhan, kalau itu sampai terjadi siapa yang rugi, kan kita juga. Makanya waktu aku tahu kamu menemukan talentamu, aku langsung mendukungmu. Ini sudah aku pilihkan beberapa puisi dan cerpen yang menurutku pantas dibukukan.” Aku mengangguk, “Terimakasih Mas, aku percaya dengan pilihan mas Iwan.”

Hari berlalu dengan cepat, seiring dengan penyusunan bukuku, karya pertamaku. Aku selalu menunggu peluncuran perdana buku kumpulan puisiku yang berjudul “Nuansa Kalbu” karena sebagian besar isinya bersumber dari suara hatiku.

Besok adalah hari peluncuran bukuku, hari yang telah kunantikan selama 4 tahun. Kesabaran dan dukungan mas Iwan, setiap sentuhan cinta kasih dan nilai-nilai moral yang ia tanamkan dihatiku tak akan pernah hilang selamanya, dan akan kulakukan sepanjang hidupku.

Tuhan terimakasih atas mas Iwan yang telah Kau berikan kepadaku sebagai kakakku dan yang terpenting sebagai sahabat sejatiku, yang selalu setia menjagaku dalam doa-doanya.

 

( selesai )

….

Written by Ari Budiyanti

Di suatu masa yang lalu

Note: Kisah di atas adalah karya fiksi semata

Cerpen ini sudah tayang di Kompasiana

Komentar

Tinggalkan Balasan

1 komentar

News Feed