oleh

Kakekku, Sang Pejuang Kemanusiaan di Masa Hidupnya

-Cerpen, Fiksiana-Telah Dibaca : 83 Orang
Foto dokumen pribadi Kakek dari penulis
Foto dokumen pribadi
Kakek dari penulis

“Kakek, apa jahitan baju yang kemaren diberikan lagi pada pak Bedjo?” Aira mengajak ngobrol Kakek kesayangannya. Senja masih menyapa dengan jingganya angkasa. Kakek selalu senang mengobrol dengan cucunya, Aira.

“Iya ndhuk, sebentar lagi kan perayaan tujuh belasan di kampung pak Bedjo, sama seperti di sini. Sepertinya pak Bedjo sedang butuh tambahan penghasilan untuk kebutuhan sehari-harinya.”, penjelasan kakek pada Aira tidak dipahami.

“Apa hubungannya HUT RI sama jahitan?” Aira melanjutkan pertanyaannya. “Pak Bedjo tidak dapat orderan jahitan di kampungnya karena orang-orang sedang sibuk persiapan perayaan HUT RI, ndhuk. Jadi Kakek berbagi orderan. Pas juga ada banyak orderan jahitan di kakek.”

Aira mengangguk-angguk. Pak Bedjo juga penjahit seperti kakeknya. Pak Bedjo tinggal di kampung tetangga. Kakek memang sering membantu pak Bedjo, meski kakek sendiri sebenarnya membutuhkan orderan jahitan. Selama kakek bisa berbagi, akan dilakukannya, meski dalam segala keterbatasannya.

“Kakek itu seorang pejuang sejati menurutku. Karena Kakek suka menolong sesama yang membutuhkan.” Aira berkata dengan bangga memuji Kakek, yang hanya dibalas dengan senyuman bijaknya.

Ini memori masa kecil Aira yang tetiba hadir kala jelang hari kemerdekaan. Kakek sudah lama berpulang ke Penciptanya. Namun teladan kakek untuk Aira, terkenang sepanjang hidupnya. Kakek adalah pejuang kemanusiaan di masa hidupnya, setidaknya bagi Aira.

Ditulis oleh Ari Budiyanti
15 Agustus 2020

Sudah tayang di group FB Rumpies The Club dan Kompasiana untuk memeriahkan lomba menulis FF 200 tema kemerdekaan

Foto dokumen pribadi
Kakek dari penulis

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed