oleh

Si Ceroboh dan Si Kutu Buku (Di Sekolah)

-Cerpen, Fiksiana-Telah Dibaca : 62 Orang
My book collection. Photo by Ari
My book collection. Photo by Ari

“Awas!!!”

Dodi menarik keras tangan adiknya sehingga seluruh badan Ratri mundur ke belakang, urung menyeberang jalan. Dan dalam hitungan detik, sepeda motor melintas kencang di hadapan Ratri. Iya, nyaris.

Ratri terkejut, kaget luar biasa. Sungguh tak sadar saat kaki menjejak jalan raya hendak menyeberang ke sekolah, dia tak melihat kanan kiri, langsung jalan.

Untung ada kakaknya, Dodi yang mengawasinya.

“Kau ini bagaimana sih, ini di jalan raya, fokuslah kalau berjalan. Mas Dodi kan ga bisa mengawasimu terus, Ratri!”

Ratri menatap kakaknya “Maaf mas Dodi, Ratri melamun” kata Ratri menyesal.

“Emang melamun apa? Kau ini….” tak sampai hati Dodi melanjutkan kata-katanya. Ini di jalan raya, dia sudah lihat gelagat Ratri yang hampir banjir air mata.

(Ah tuhkan mau nangis lagi, anak ini cengeng amat sih) pikir Dodi kesal.

“Sini” Dodi menggandeng tangan adiknya, lalu menyeberang bersama. Tumben sekali pagi ini pak satpam tidak terlihat di depan sekolah. Biasanya kan ada pak satpam yang siap menyeberangkan anak-anak sekolah.

Ratri berjalan di belakang Dodi, “Mas Dodi, terimakasih” bisik Ratri lirih.

“Iya, lain kali tak boleh melamun saat jalan”

Ini tahun terakhir Dodi bisa mengawasi Ratri dalam perjalanan ke sekolah dari rumah. Tahun depan, dia sudah kuliah dan harus pindah ke luar kota. Ratri akan berjalan sendiri ke sekolah dari rumah. Jarak sekolah dengan rumah hanya sekitar 10 menit jalan kaki. Tapi jalan raya cukup ramai. Dodi masih sering cemas memikirkan kenyataan Ratri yang tak kunjung berubah dari kecerobohannya.

Ratri berjalan menuju kelasnya, saat berbelok. Brak, bruk. Dodi menepuk keningnya. Adiknya menabrak Bu Sari yang berjalan membawa setumpuk berkas hasil ulangan harian.

“Aduh Ratri, hati-hati kalau jalan” Ibu Sari nampak kesal sekali. Pagi-paginsudah ada ditubruk muridnya.

Cepat-cepat Dodi menyusul Ratri dan menolongnya mengumpulkan kertas hasil Ulangan yang berceceran. “Maaf Bu Sari, Ratri tidak lihat”

Ratri cepat-cepat mengambil kertas-kertas yang berserakan di lantai koridor menuju kelasnya. Dengan bantuan Dodi, semua kertas ulangan segera terkumpulkan lagi dan diserahkan ke Bu Sari.

Dodi menatap Ratri tapi tak berkata apa-apa. Dia yakin kalau berucap satu kalimat saja, mata Ratri akan banjir. Jadi ditahan mulutnya dari segala kata.

Bel istirahat pertama menandakan pelajaran Biologi di kelas Dodi berakhir. Tanpa ragu ia melangkah ke perpustakaan. Ada hal yang terus mengganggu pikirannya. Dua peristiwa pagi ini berkaitan dengan Ratri, mendadak mengusiknya. Dodi memang sangat sayang sama Ratri, namun sering sulit dia ungkapkan dengan kata-kata. Yang paling sering kata-kata marah karena kecerobohan Ratri yang hampir tidak tertolong itu.

Sesampainya di perpustakaan, Dodi langsung menemui Pak Adi, pustakawan handal sekolah mereka.

“Selamat pagi Pak Adi” sapa Dodi sopan.

“Selamat pagi Dodi, wah tumben langsung menuju tempat Bapak. Biasanya kamu kan langsung berjalan menuju rak-rak buku. Ada yang bisa bapak bantu?”

Dodi tersenyum. Ketahuan langsung dia ada maunya, menghampiri Pak Adi di depan komputernya. Berpikir sejenak, urung niatnya mencari buku tentang mengatasi sikap ceroboh. Pak Adi pasti langsung tahu kalau itu tentang Ratri.

Bagai langit dan bumi kedua kakak beradik ini. Satu sangat hati-hati dan teliti, satunya lagi sangat ceroboh. “Dodi, mau tanya apa?” Pak Adi keheranan, tak biasanya Dodi nampak bingung di perpustakaan.

“Oh tidak Pak Adi, saya hanya mau tanya, apa Ratri udah kembalikan buku yang dia pinjam?”

Tiba-tiba pertanyaan itu yang terlontar. Mengingat kejadian sore kemaren di rumah, saat mereka di ruang kerja ayah.

“Belum” kata Pak Adi singkat. Sambil mengerutkan keningnya, tumben sekali Dodi menanyakan adiknya.

“Oh ya sudah Pak. Kemarin dia bilang mau kembalikan buku ke perpustakaan. ”

Pak Adi hanya geleng-geleng kepala. Dia tahu ada yang Dodi sembunyikan. Tapi tak mau dia bertanya-tanya macam-macam.

“Itu adikmu datang, mungkin mau kembalikan bukunya”

Ratri berjalan menuju Pak Adi. “Loh Mas Dodi di sini, mau ngapain?” Pak Adi ketawa, “panjang umur kamu Ratri, barusan kakakmu menanyakanmu, apa sudah kembalikan buku?”

Ratri heran, tumben sekali mas Dodi perhatikan sampai segitunya, dia kan bukan anak kecil lagi, udah kelas 1 SMA. Masa iya mengembalikan buku aja sampai dicek ke perpustakaan.

Iya sih, mas Dodi memang kutu buku, tak hanya di rumah, julukan itu pun berlaku di sekolah. “Ih mas Dodi apaan sih.”

Dodi diam saja. Melihat ke arah buku yang dibawa adiknya “Buku apa itu yang kau bawa?” Memang benar buku warna putih tapi tak ada gambar bunga matahari, itu buku lain.

(Astaga adikku, masa iya bawa buku yang mau dikembalikan aja salah juga. Itu kan buku panduan berkebun milik Ibu) batin Dodi.

Ratri tertegun saat melihat buku yang dipegangnya. Salah ambil rupanya. Karena bukunya sama-sama warna putih dan ada gambar bunga kuning juga, tapi bunga krisan kesayangan Ibu. Itu buku baru punya Ibu karena mau mencoba berkebun bunga Krisan.

“Emm. Maaf Pak Adi, saya salah bawa buku. Tapi bukunya ada koq di rumah, besok ya saya kembalikannya”

Pak Adi hanya geleng-geleng kepala. “Ya sudah, besok bawa buku yang benar ya”

Ratri tersenyum getir dan menajwab “Baik Pak” lalu segera balik badan berlari.

(Aduh, bakal diomelin lagi nih di rumah, Mas Dodi pasti akan lapor ayah lagi kan malu) gerutu Ratri dalam hati.

Sementara Dodi pergi menuju rak buku di ujung perpustakaan dekat jendela. Sisa waktu istirahat pertama masih ada 10 menit, cukup untuk melihat-lihat buku.

Tiba-tiba dilihatnya buku bagus berjudul You can do it, even if others say you can’t. Ada buku baru. (Apakah mungkin jika si ceroboh itu punya kemauan berubah, dia bisa benar-benar berubah ya) pikir Dodi.

Tanpa berpikir kedua kali, diambilnya buku itu dan dibawa ke pak Adi. ” Saya pinjam buku ini ya Pak”

Pak Adi mengangguk dan segera menuliskan buku yang dipinjam Dodi.

“Semoga bisa menolongmu dan adikmu ya” Dodi kaget dengar perkataan pak Adi. Apa pak Adi tahu kalau dia tadi memikirkan adiknya. Bagaimana cara mengubah kebiasaan buruk Ratri si ceroboh itu.

Dodi tersenyum saja, tak berusaha menimpali perkataan pak Adi. Apalagi bel masuk akan berbunyi 5 menit lagi. Tandanya waktu kunjungan ke perpustakaan telah usai.

Dodi segera keluar membawa buku di tangannya. Kaget dia ketika di depan pintu, Ratri sudah menghadangnya. “Mas Dodi, ..” Belum juga Ratri berkata-kata, Dodi udah bicara ” Iya, tak akan bilang ayah, udah sana masuk kelas, bel akan berbunyi sebentar lagi”

Senyum merekah lebar di wajah adiknya Ratri. Lalu cepat-cepat Ratri berbalik dan berlari menuju kelas tapi…

“Ratri, awas!!” Seruan Dodi terlambat, Ratri sudah menubruk Bu Sari yang membawa beberapa buku ke perpustakaan. Saat berbelok menuju jalan ke kelas, ada Bu Sari dengan setumpuk buku sedang berjalan ke arah perpustakaan.

Ratri meringis. “Ratri, pagi ini sudah dua kali kamu menubruk Ibu ya. ” Lagi-lagi Dodi melihat kejadian kecerobohan Ratri. Cepat-cepat dia bantu adiknya membereskan buku-buku Bu Sari yang berjatuhan. Dari dalam perpustakaan, Pak Adi kembali menggeleng-gelengkan kepala. “Sungguh kakak yang baik, selalu menolong adiknya yang ceroboh itu.”

Kali ini Dodi ikut minta maaf ke Bu Sari atas kecerobohan adiknya. “Ibu, maafkan Ratri, dia tadi buru-buru lari ke kelas karena sudah mau bel masuk”

Bu Sari urung marah, kata-kata Dodi yang sopan dan ramah meluluhkan hati bu gurunya. Teladan ayah dan ibu di rumah, yang selalu berbicara lembut pada Dodi dan Ratri, tiba-tiba mengalir begitu saja dalam tutur bahasa Dodi.

Ratri bengong melihat kakaknya sekali lagi menyelamatkan hidupnya. Pertama dari sepeda motor yang hampir menabraknya pagi tadi, kedua dari amarah bu Sari yang ditabraknya sampai dua kali pagi ini.

(Mas Dodi memang kakak terbaik, selalu ada melindungiku. Padahal aku sering nyebelin di rumah, suka isengin dia kalau sedang baca buku) bisik Ratri dalam hati.

Bel masuk berbunyi tandanya mereka sudah harus masuk kelas. Bu Sari segera masuk ke perpustakaan karena tidak ada jam mengajar lagi. Sejenak Dodi mendengar sedikit pembicaraan pak Adi dan bu Sari, sebelum dia beranjak menuju kelasnya. Sementara Ratri sudah berlari menghilang ke kelasnya.

Pulang sekolah Ratri menunggu Dodi di depan kelas. “Mas Dodi, ..” panggil Ratri.

“Tumben nunggu di sini, biasanya kan di halaman depan dekat gerbang sekolah” kaget melihat adiknya sudah berdiri di depan kelasnya. Ratri hanya tersenyum kecil. “Buat mas Dodi” Ratri memberikan sebatang coklat yang dibelinya di kantin saat istirahat ke dua tadi.

“Apa, mau minta jangan dibilangin ayah lagi, kamu menubruk bu Sari 2 kali? ” Dodi hanya menatap sebatang coklat di depannya tanpa menerimanya.

“Ih, mas Dodi negatif thinking deh sama aku. Ini ucapan terimakasihku karena Mas Dodi kan udah selamatin aku sampe dua kali hari ini” Ratri menyelipkan coklat ke saku kemeja seragam Dodi.

“Makasih” kata Dodi pelan. Lalu mereka berjalan pulang bersama. Saat di depan jalan raya mau menyeberang, Ratri langsung menggandeng tangan kakaknya. Dodi diam saja. Sepanjang perjalanan pulang, Ratri terus bercerita tak habis-habisnya. Mulai dari salah ambil buku, lalu duduk di kursi yang salah di kelas dan sebagainya.

Dodi hanya diam mendengarkan. Dia akan merindukan saat-saat ini tahun depan. Ketika dia harus ke luar kota melanjutkan studi. Meninggalkan adiknya yang masih juga ceroboh. Akankah Ratri berubah setelah Dodi jauh darinya.

“Ratri,..” panggil Dodi pelan. Sesaat lagi mereka sampai di rumah. “Tahun depan Mas Dodi tak bisa pulang pergi ke sekolah bersamamu lagi, bisakan kau jaga dirimu sendiri. Lebih hati-hati dan fokus. Jangan melamun saat jalan ke sekolah”

Nasehat Dodi yang serius itu membuat Ratri tertegun. Selama ini dia tak pernah memikirkan hal itu. Dia menikmati saja kebersamaan dengan kakaknya.

“Mas Dodi tak bisa mengawasimu selamanya, jadi berubahlah lebih hati-hati ya” Dodi mendahului Ratri masuk rumah. Sementara Ratri berdiri diam di depan rumah.

“Pulang sekolah koq bengong di depan rumah. Bukannya kasi salam Ibu dan segera masuk.” Suara Ibu mengagetkan Ratri. Segera Ratri menjabat tangan Ibu dan menciumnya. Lalu segera masuk rumah untuk berganti baju dan makan.

Saat mau masuk ke kamarnya, Ratri melewati ruangan kerja ayah. Ada mas Dodi yang sudah langung duduk manis sambil baca buku yang dipinjamnya di perpustakaan. Sekilas Ratri baca judulnya You can do it, even if others say you can’t.

(Mungkinkah aku bisa tidak ceroboh lagi, mungkinkah aku berubah? Aku pasti bisa) batin Ratri sambil melangkah menuju kamarnya.

..

Tamat

Kisah sebelumnya baca di Si Ceroboh dan Si Kutu Buku (Keduanya Dicintai karena Istimewa).

Cerpen ini sudah tayang di Kompasiana

Written by Ari Budiyanti

20 Juni 2019

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed