oleh

Belajar Menulis Pentigraf

-Terbaru-Telah Dibaca : 197 Orang

Di masa Pandemi seperti ini banyak kegiatan sebisanya dilakukan di rumah. Bukan berarti sama sekali tidak bisa pergi keluar rumah. Itu bisa dilakukan untuk hal yang perlu saja dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan standar.  Seperti hari ini hari minggu, insha Allah kita semua sudah berada di pekan terakhir bulan Januari. Senin besok sudah masuk lagi bulan kedua, Pebruari 2021.

Pagi – pagi tadi sudah sarapan bergizi dari dapur literasi om Jay dan bapak Thamri Dahlan. Wah, memang benar juga kalau bergaul dengan mereka yang suka menulis, maka energi menulis itu sedikit atau banyak pasti ada yang terhirup. Alhamdulillah, setiap ajakan kebaikan seharusnya diikuti.

Hari minggu grup kelompok belajar via whatsapp tetap buka…open house. Yang hendak mampir atau sekedar say hello dipersilahkan. Yang mau antar suguhan sangat boleh. Banyak yang nungguin kok….karena itu hari ini saya iseng mampir ke “Lagerunal” setelah dua pekan “slow respon”. Tidak sia – sia ternyata para guru hebat di sana  tetap menebar ilmu meski  di hari libur.

Saya belajar corat coret tentang satu hal menarik dan masih baru bagi saya yang memang masih pemula dalam dunia kepenulisan.  Belajar PENTIGRAF  atau  ‘Cerpen Tiga Paragraf.’

Anisa

Di perusahaan itu hanyalah Ranti yang paling mengerti dirinya. Kepribadian Anisa yang cenderung tertutup membuat banyak karyawan lain kurang bergaul dengannya. Ranti memang sudah bekerja lebih dari setahun di perusahaan pengolah rotan tersebut. Sedangkan Anisa baru masuk sekitar enam bulan yang lalu. Sebenarnya Ranti tidak begitu sreg bergaul dengan Anisa. Bila diajak sering menolak. Bila tidak diajak kasihan, dia seorang diri.

Pada suatu pagi Anisa datang lebih dahulu di tempat bekerja. Ketika Ranti datang, dia mendapatkan Anisa hanya duduk termenung di sudut teras perusahaan. Kebetulan masih pagi benar, ruang absen belum juga dibuka oleh pak Idin, security  yang bertugas mengurus absen harian para karyawan. “Kamu kenapa Nis, kok pagi pagi sudah melamun begitu?” tanya Ranti. Anisa menggeleng tanpa ekspresi. Nampak dari sorot matanya ada sesuatu yang terjadi pada dirinya. Ranti tidak melanjutkan pertanyaan Mereka berdua segera beranjak menuju ruang absen yang baru saja dibuka.

Ketika jam istirahat makan siang tiba Ranti seperti biasanya mengajak Anisa untuk santap bersama di samping musholla. Di sana ada bangku tua yang masih kokoh dan enak unruk tempat makan. Tanpa ditanya tiba – tiba Anisa langsung berkata “Tadi malam akau mendapat telpon  dari kakak Ran.” Ranti belum menjawab apa – apa karena sesendok nasi sudah mendarat di mulutnya. Anisa pun tidak melanjutkan kata – katanya lagi. Dia langsung membuka ‘tupperware” yang berisi nasi dan tumis kol serta ikan suir. Hampir selesai makan, nampak Pak Idin datang menghampiri mereka berdua sambil berkata “Mbak Anisa diundang ke ruang pimpinan sekarang juga.” Anisa dan Ranti saling menatap. Pak Idin  tetap berdiri menunggu Anisa yang masih kebingungan.

****

Mohon krisan untuk perbaikan berikutnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed