oleh

Jangan izin (Ada Rindu Untuk Ayah)

Ada Rindu Untuk Ayah

Jangan izin.

 

Lirih di tengah sunyi. Antara sadar dan kantuk yang masih bertahta. Bisa kudengar..

“Rabbiy habliy mina shshaalihiyn” beberapa  kali.

“Shallallahu ‘ala Nnabiy” jelas mengetuk gendang telingaku. Seperti sangat dekat.

“Walhamdulillah Rabbil ‘aalamiyn”

Senyap. Suara itu tak lagi kudengar. Entah pukul berapa. Aku tak pernah tau.

Yang pasti sekali waktu tiba-tiba tubuhku seperti melayang.

“Pelan-pelan..” suara Mama

Ternyata aku digendong. Ya, aku ketiduran di ruang tengah ditemani buku-buku yang berserakan. Gerakan Bapak saat hendak memindahkanku ke kamar membuatku tersadar. Dan aku malas membuka mata.

“Ya Rahmaan.. shallallahu ‘ala Nnabiy, Rabbiy habliy mina shshaalihiyn” Kalimat bisikannya persis sama dengan yang pernah kudengar saat aku terbangun dan berjalan ke kamar kecil melintasi kamar adikku.

Akhirnya aku tau. Bapak membisiki pinta padaNya. Menuangkan cinta tepat di sisi kami. Setiap malam.

Termasuk di satu malam yang masih sangat terasa. Sebuah usapan membangunkanku.

“Af.. Baik-baik sama Mama ya. Bantu Mama jaga adik-adikmu..” kalimatnya menggantung di udara.

Jiwaku sedang kukumpulkan. Mencoba mencerna kalimat yang kudengar.

Lama.

“Bapak pamit, Bapak berangkat ya”

Hening.

Sorot mata itu. Masih menatapku. Penuh.

Kuanggukan kepala bersamaan dengan bendunganku yang hampir meluap.

Saat aku duduk di bangku kelas III MI. Masa kontrak kami di rumah sewa berakhir. Kami sekeluarga lalu tinggal di rumah induk keluarga Mama. Dalam waktu yang tak sebentar. Hingga yang semula kami berempat menjadi berlima. Kupikir jumlah kami sebagai penghuni rumah itu menjadi salah satu alasan yang membuat Bapak memilih untuk pergi. Merantau ke Malaysia.

Matahari rupanya setia. Walau bumi seperti selalu memalingkan wajah saat berotasi dan fokus berlari mengejar targetnya sendiri ketika berevolusi, matahari akan tetap muncul dengan senyum merona setiap pagi. Begitupun kala senja menjelang. Sementara gelap malam menjadi momen bumi menyembunyikan rindunya.

Nyatanya bumi tak pernah bisa lepas dari gaya tarik matahari hingga tak terasa kalender Syamsiah maupun qamariyah selalu bertukar angka dan berganti nama.

Seamplop surat pun bertandang di kediaman kami. Mama mendapat surat dari Bapak. Dan dalam amplop yang sama terselip pula sepucuk pernyataan cinta untukku. Lembar suratnya ditulis tangan, penuh. Sepenuh rasa yang ia titipkan pada huruf-huruf itu.

“Teruntuk Af yang tersayang” ada waduk yang jebol. Bulir bening asin itu lolos begitu saja.

Af, apa kabarmu, nak?

Via surat ini bapak berharap menjumpai kalian, anak-anak Bapak dalam keadaan yang sehat, ‘afiyat, dan patuh pada Mama.

Af.. Ingat selalu pesan Bapak kan? Tegakkan shalat, ingatkan mamamu bila mungkin terlupa dan ajak juga adik-adikmu, nak. Tetap baca Qur’an seusai shalat. Terlebih seusai Maghrib, di sini Bapak rindu mendengarnya. Jaga adik-adikmu. Temani mereka bermain. Bila ke pantai, jangan sampai terlalu sore.

Af, kalau bisa.. bantu Mamamu, nak ya.

Sebentar lagi puasa Ramadhan.  Semoga Allah masih memberi usia. Insya Allah kita bisa puasa meski berbeda tempat sahur dan tarawih. Apa-apa yang Mama siapkan sebagai makanan berbuka dinikmati ya, nak.

Saat memasuki Ramadhan, ingatkan Mamamu untuk berkunjung ke rumah Om mu. Meskipun kecil ataupun sedikit, bawakan sesuatu untuk Om sekeluarga.

Af, Bapak minta maaf.. bapak hanya mengirim sedapatnya. Insya Allah nanti Mama yang belikan sesuatu untuk kalian berlebaran. Apapun itu, semoga Af berkenan.

O iya, belajar baik-baik, nak. Hormati guru. Sayangi guru-guru Af. Mereka sama seperti Bapak dan Mama. Mereka juga orang tua Af.

Af.. Kalau sempat ke Nangapanda, Sampaikan salam untuk Kakek dan Nenek ya.

Af, tolong doakan bapak ya, nak.

Semoga Allah selalu melindungi kesayangan Bapak.

Penghujung Rajab 1420 H

Tertanda

Bapaknya Af.

 

Bersama surat itu, ternyata Bapak mengirimkan kamus Bahasa Indonesia untukku. Kamus Bahasa Persatuan negeriku didapat dari negara tetangga. Betapa istimewanya kamusku.

Mama tak membalas surat Bapak. Demikian pun aku. Karena tak tertera alamat di amplopnya. Bahkan surat itu bukan diantar oleh Pak POS melainkan kerabat Bapak yang memang baru kembali dari Malaysia.

Seingatku beberapa kali aku pernah membersamai Mama ke kota. Warung telepon menjadi Satu tujuan utama. Menelpon Bapak. Cara mama bertukar kabar dengan Bapak. Sedangkan aku, dalam diam membalas surat bapak dengan corat-coret di buku tulis yang kuistimewakan dan kunamai buku harian.

Aku berusaha untuk rajin. Meski sebenarnya aku ingin bebas bermain seperti anak-anak lainnya. Secara tidak tertulis pun aku memiliki jadwal kegiatan mutlak yang tak bisa kuubah. Shalat. Belajar. Dan mengaji, paten 3 kali sehari seperti rutinitas pasien untuk minum obat. Menjadi paket berurut dimulai dari seusai shubuh, disisipi dengan berangkat ke Madrasah formal belajar bersama teman-temanku. Tepat pukul 14 adalah waktu belajar mengaji siang hari yang akan berakhir saat adzan ashar menggema. Tak seperti guru ngaji saat ini, kami tak memberi apa-apa untuk guru ngaji. Kami hanya wajib hadir untuk belajar dan berlatih mengulang bacaan di rumah serta membantu menimba air sumur umum dengan takaran tertentu dan membawanya ke rumah sang guru.

Ya, menimba air adalah aktivitasku setelah ‘ashar. Ketika mampu menyelesaikan tugas lebih cepat, aku akan punya waktu bermain.. Bila Mama sedang tidak sibuk. Karena kalau sebaliknya, berarti aku harus menjaga adikku yang paling kecil.

Maghrib. Dan selepasnya adalah membaca Qur’an sendiri walau seayat sebelum berangkat ke tempat guru ngaji. Adzan ‘isya menjadi alarm bubarnya belajar mengaji pada malam hari. Selain mengerjakan PR dan mengulang pelajaran dari madrasah, Ingatlah kewajiban berlatih mengaji secara mandiri di rumah. Selepas ‘isya adalah waktunya. Bila tak dilakukan bersiaplah menerima hukuman. Dan jangan pernah berpikir untuk berbohong. Karena guru ngajiku memasang CCTV termasuk di rumahku.

Sungguh?

Jawabannya adalah orangtua. Bapak dan Mama bekerja sama dengan guru ngaji. Walau saat bapak jauh…

“Bapak bisa tau tentang Af” sepenggal percakapan terakhir di wartel ketika aku hampir naik kelas VI.

“Dari Mama?”

“Bahkan Allah sangat mampu memberi kabar tentang Af pada Bapak”

Menyebut Allah. Aku kalah.

“Lewat mimpi, misalnya” Bapak selalu punya cara untuk menjelaskan hal-hal yang disampaikannya.

Seperti saat Bapak sedang bermain bersama aku dan adik-adikku di belakang rumah. Tepat sehari sebelum malam keberangkatan Bapak waktu itu. Satu pesan bapak disampaikan khusus untukku.

“Af..” Panggilan Bapak membuatku berhenti mendorong ayunan yang dinaiki Mat. Mendekat lalu duduk di bangku kayu yang sama dengan bapak.

“Af, .. kan anak perempuan..” seakan sedang memilih diksi yang pas untuk bocah kelas IV MI sepertiku.

“Bapak sayang pada Af…” kalimatnya kembali terhenti. Mendesakku untuk menoleh.

“Bapak tidak mungkin selamanya ada bersama Af.” Satu kalimat ini memaksaku pindah dari kedudukanku. Namun, gerakan Bapak jauh lebih tangkas dariku.

“kan kita sudah bicara sama-sama.. Mama setuju, dan Af juga sudah izin Bapak pergi. Maksud Bapak.. Kalaupun Bapak tetap di sini, Bapak tidak ikut Af ke madrasah kan? Bapak juga tidak ikut Af pergi bermain di tempat tetangga kan?”

Akhirnya saat itu yang bisa kutangkap adalah Bapak tidak mungkin mengekoriku ke mana-mana.

“jadi, Af ingat ya.. jangan izin orang-orang menyentuh ini” ucapnya sambil mencubit pipiku.

“Jangan izin siapapun cubit Af seperti tadi”

Anggukanku membuat Bapak tersenyum dan beranjak dari tempatnya.

Rasanya seperti baru kemarin Bapak berpesan dengan kata jangan izin itu sebelum berangkat merantau. Ternyata saat ini Bapak bukan hanya bernajak dari dunia ini. Tetapi Bapak sudah lama berpindah alam.

Ah, hari ini malah sudah tahun 2022. Segala Puji Bagi Allah yang senantiasa menjaga ingatanku tentangnya.

Allahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa alihi.

Allahummaghfirlahuu wa ‘afihii wa’fu ‘anhu…

 

Antologi Sosok Kharisma Pengukir Sukma

Oase Pustaka, 2022.

Komentar

Tinggalkan Balasan