Apa Kata Mereka?

Oleh Nuraini Ahwan. Entah benar atau tidak, menurut orang yang sudah terpapar covid 19 selepas dari isolasi akan merasakan perbedaan dalam pergaulan di lingkungan sekitar. Seperti merasa orang asing dipandangan

Ditutupi Bukan Karena Aib

Oleh Nuraini Ahwan Tulisan saya beberapa hari yang lalu tentang ketika siswa saya terpapar covid 19, masih penuh cerita dan tanda tanya. Dari mana virus itu datang, siapa yang menularkan

Hati-Hati Menyampaikan Pesan Oleh Nuraini Ahwan. Pembelajaran tatap muka yang hanya berlangsung kurang lebih selama 2,5 bulan meninggalkan banyak kesan pada guru dan peserta didiknya. Kesan pada guru sebagai ujung tombak yang berdiri atau berhadapan langsung dengan peserta didiknya di dalam kelas. Melihat apa yang dilakukan oleh guru mulai dari menyambut peserta didik yang tiba di sekolah di gerbang sekolah sampai peserta didiknya pulang dan memastikannya pulang dengan selamat. Banyak hal yang bisa dipetik dari pembelajaran tatap muka di masa pandemi covid 19 ini. Yang paling menonjol dan membuat saya pribadi berpikir adalah ada perilaku yang bertolak belakang dengan keadaan normal. Pada saat normal perilaku ini sangat ditekankan untuk dilaksanakan oleh peserta didik. Mengapa? Perilaku ini merupakan karakter dari bangsa kita. Karakter yang dimaksud antara lain, tolong menolong dan berbagi. Lalu bagaimana pada masa pandemi ini di sekolah khususnya pada pembelajaran tatap muka? Pada pembelajaran tatap muka, seluruh peserta didik membawa alat pelajaran sendiri sebagaimana biasanya. Membawa makanan dan minuman sendiri karena di sekolah tidak ada kantin dan tidak ada jam keluar bermain. Semua peralatan diberi label nama masing-masing sehingga tidak tertukar Peserta didik tidak diperbolehkan meminjam dan atau meminjamkan peralatannya kepada temannya. Bersalaman tidak diperbolehkan, sementara sebelum pandemi, setiap tiba di sekolah bersalaman dengan teman dan guru. Menyapu halaman sekolah dan dalam kelas secara giliran piket biasa mereka lakukan sebelum pandemi tetapi pada saat pandemi, kegiatan semacam ini tidak lagi dilakukannya. Semua guru menyapu sementara siswa tiba di sekolah langsung masuk kelas bahkan mereka menyaksikan guru menyapu tanpa membantu. Katanya takut nanti sapu yang dipakai sudah ganti-gantian orang yang memegang atau yang memakai. Dalam kelas tidak ada lagi diskusi atau duduk berkelompok, peserta didik duduk sendiri dengan jarak 1,5 m dan tidak boleh mendekat kepada teman-temanya. Keadaan memang sangat bertolak belakang. Jika pada kelas tinggi, mereka bisa mengetahui penyebab mengapa tidak diperbolehkan ini dan itu. Kelas awal yakni kelas 1,2 dan 3 perlu dijelaskan dengan hati-hati. Jika tidak dijelaskan dengan kalimat yang tepat, bisa jadi peserta didik yang masih kecil akan salah memaknai. Karakter yang seharusnya ditanamkan malah menjadi sesuatu yang tidak boleh mereka lakukan seterusnya. Hati-hati menyampaikan pesan moral kepada peserta didik saat ini.