oleh

KMAC 32. Aku sebagai Guru Masa Kini

-Pendidikan, YPTD-Telah Dibaca : 122 Orang

KMAC 32. Aku sebagai Guru Masa Kini
Penulis : Theresia Martini, S.Ag., M.M

Sepulang dari sekolah setelah beristirahat sejenak, tiba-tiba terdengar suara berdenting dari android penulis pertanda ada satu chatting (aktivitas percakapan yang dilakukan lewat media internet) baru saja mengetuk pintu aplikasi WhatsApp (WA).

Setelah penulis intip ternyata dari Mbak Athaya (admin Jurnalisme Kebangsaan) yang menanyakan kabar kelanjutan dari keikutsertaan penulis pada kegiatan Jurnalisme Kebangsaan.

Sebenarnya penulis sudah sejak kemarin menyampaikan di grup WA keinginan untuk mengundurkan diri dari kegiatan Jurnalisme Kebangsaan.

Pertimbangan penulis mundur karena keterbatasan penulis dalam membagi waktu untuk menyelesaikan tugas-tugas yang masih banyak tertunda.

Jika diperhitungkan untung ruginya, penulis merasa rugi kehilangan kesempatan besar tersebut, namun prinsip genting dan penting seperti yang pernah disampaikan oleh sahabatku yang sangat bijak, akhirnya membuat penulis berani mengambil keputusan untuk mundur.

Walaupun ada perasaan sedih kehilangan kesempatan, penulis tetap mencoba bersemangat dan kembali melanjutkan aktifitas menyelesaikan tugas-tugas yang terus mengantri untuk diselesaikan.

Setelah menyelesaikan tugas sebagai ibu rumah tangga, walau telah menunjukkan pukul 22.37 wib, penulis tetap mencoba membuat coretan yang akan kembali di posting di platform Tantangan Menulis 40 Hari Bersama YPTD hari ke-32.

Kali ini penulis ingin mengangkat tema tentang Aku sebagai Guru Masa Kini.

Tema ini sengaja penulis angkat untuk melihat kembali, tentang upaya yang sudah penulis lakukan sebagai seorang guru di masa kini.

Melihat kenyataan yang ada penulis menyadari bahwa begitu banyak tantangan pendidikan yang dihadapi guru di abad 21 saat ini.

Tantangannya semakin beragam dan berat karena banyak perubahan yang signifikan yang harus dihadapi oleh guru dalam menjalankan profesinya.

Salah satunya terkait dengan adanya perubahan tipikal atau karakter peserta didik saat ini.

Penulis merasakan sekali terjadinya perubahan yang signifikan dengan karakter peserta didik bila dibandingkan dengan awal penulis jadi guru.

Perubahan karakter peserta didik di masa kini, tentu saja tidak dapat penulis klaim sebagai kesalahan murni peserta didik.

Penulis menyadari juga bahwa perubahan karakter peserta didik masa kini dipengaruhi banyak faktor meskipun perubahan karakter yang dimaksudkan tidak selalu negatif.

Semua tergantung pada nilai-nilai dan norma sosial yang ditiru atau diambil oleh peserta didik yang ditawarkan dihadapan mereka sebagai seorang anak yang masih dalam proses perkembangan yang serba ingin tahu.

Dalam situasi inilah peran penulis sebagai guru dan orang tua peserta didik sangat diperlukan untuk memberikan pendampingan dan perhatian dalam tumbuh kembang karakter mereka.

Adapun yang dapat dilakukan oleh penulis maupun orang tua peserta didik adalah dengan memberikan dukungan serta bimbingan yang sesuai agar terbentuk karakter yang positif.

Penulis juga tidak menutup mata bahwa begitu banyak faktor yang mempengaruhi peserta didik yang sangat besar sehingga memberikan dampak terjadinya perubahan karakter, persepsi dan perilaku yang dimiliki mereka.

Adapun faktor dari luar diri peserta didik yang memberikan pengaruh dan dampak besar pada kepribadian peserta didik, adalah: perubahan sosial dan budaya, media sosial, pola asuh dalam keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan pergaulan sekitar, dan perkembangan teknologi.

Semua pengaruh tersebut begitu signifikan terhadap pembentukan karakter pribadi peserta didik, sehingga menjadikan sebuah tantangan bagi penulis dan rekan guru di masa kini.

Selain tantangan yang disebabkan oleh perubahan karakter peserta didik, guru masa kini juga mengalami tantangan lain yang cukup memberikan pengaruh, seperti:

  1. Perkembangan teknologi yang terus meningkat dalam pendidikan, yang menunutut guru daapat mengintegrasikannya dalam proses pembelajaran.
  2. Minimnya dana bantuan yang mempengaruhi ketersediaan sumber daya dan fasilitas bagi guru dan peserta didik.
  3. Pengaruh media sosial yang seringkali guru menjadi target serangan dan tekanan dari orang tua dan masyarakat melalui media sosial, yang dapat mempengaruhi kepercayaan diri dan motivasi mereka.
  4. Pembagian jumlah jam mengajar yang begitu banyak karena keterbatasan tenaga guru sehingga membuat guru terkadang merasa kesulitan untuk memenuhi tuntutan kurikulum satuan pendidikan.
  5. Tuntutan kurikulum yang ditetapkan pada satuan pendidikan yang terkesan ketat sehingga membuat beberapa guru mengalami kesulitan bagi mereka untuk memberikan pembelajaran yang efektif dan relevan.
  6. Kesejahteraan mental: Guru juga menghadapi tekanan yang tinggi dan risiko burnout, yang dapat mempengaruhi kelelahan emosional, fisik dan mental karena stres yang berlebihan dan berkepanjangan sehingga berdampak pada kesejahteraan mental dan kesehatan para guru.

Meskipun begitu banyak tantangan yang dihadapi penulis sebagai seorang guru pada masa kini, Puji Tuhan penulis dan rekan-rekan di sekolah masih memiliki dedikasi dan bersemangat untuk menjalankan tugas dengan tetap tersenyum bahagia.

Kebersamaan dan rasa persaudaraan di antara rekan guru di sekolah telah menjadi penyemangat utama untuk saling menguatkan dan membantu satu sama lain.

Sikap saling memahami dan menerima satu sama lain telah menjadi obat mujarab yang tidak ditemukan di toko obat terbesar dan terlengkap sekalipun.

Oleh karena itu, mari para rekan guru sekalian binalah persaudaraan dan kerekatan dalam ikatan batin bersama seluruh rekan guru, sehingga segala kesulitan yang dialami dapat teratasi bersama.

Tetap semangat dan teruslah berupaya menjadi guru yang hebat di mata peserta didik kita, walau sejuta tantangan menghadang di perjalanan kita untuk menjalankan profesi sebagai guru.

“Jangan menyerah, terus berjuang penuh semangat!!!”

Pangkalpinang, 14 Maret 2023

Komentar

Tinggalkan Balasan

4 komentar