oleh

Cara Keren Guru Bantu Siswa Temukan AHA Momen

-Pendidikan, Terbaru-Telah Dibaca : 75 Orang

AHA momen

Ilustrasi AHA Momen

 

Sebagai seorang guru, apa yang membuat Anda merasa puas setelah melaksanakan pembelajaran ? Apakah hasil belajar siswa yang di atas rata – rata ? Pembelajaran berjalan sesuai dengan yang direncanakan dalam RPP ? Atau saat Anda melihat siswa menemukan AHA momen mereka?

Apa itu AHA momen ?

AHA momen dapat dimaknai sebagai suatu kondisi di mana siswa mendapatkan insight dari pembelajaran. Biasanya momen ini ditunjukkan secara verbal melalui kata kata ungkapan, seperti “yes”, “saya paham”, “mengerti”, atau “AHA”. Dan bisa juga ditunjukkan secara nonverbal melalui anggukan kepala, menjentikkan jari, tersenyum, dll.

Kapan AHA momen terjadi ?

AHA momen bisa terjadi kapan saja. Tapi dibutuhkan kejelian guru untuk menangkapnya. Hal yang biasa dilakukan oleh guru selama ini terkait dengan umpan balik pembelajaran, dinilai tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pemerolehan capaian belajar yang diharapkan.

Di tengah – tengah proses belajar, guru bertanya,”Apakah kalian sudah mengerti ?” Lalu terdengar koor, “sudah, Bu.” Jawab anak – anak. Kemudian guru melanjutkan pembelajaran tanpa benar – benar memeriksa apakah siswa sudah mendapatkan AHA momen yang sesungguhnya.

Selain itu, terkadang yang menjadi pusat perhatian guru saat mengajar adalah anak – anak yang pintar, anak yang aktif, dan anak yang butuh bimbingan. Untuk anak – anak yang berada di kelompok tengah / rata – rata, terkadang kurang diperhatikan.

Seharusnya guru dapat membekali dirinya dengan keterampilan pengelolaan kelas. Agar tidak ada anak – anak yang merasa disisihkan. Guru juga harus membekali diri dengan berbagai teknik untuk mengidentifikasi siswa yang membutuhkan bantuan dalam menemukan AHA momen.

Teknik identifikasi siswa

Untuk mengetahui siswa yang belum menemukan AHA momen, guru dapat menggunakan bendera lalu lintas pembelajaran.

Teknik ini saya dapatkan ketika mengikuti Short Course di RECSAM, Malaysia. Instruktur kami, Mr. Gan, menjelaskan tentang manfaat bendera lalu lintas pembelajaran.

Contoh Bendera Lalu Lintas Pembelajaran 

Bendera lalu lintas pembelajaran terdiri dari 3 buah bendera berwarna merah, kuning, dan hijau. Sebelum melakukan pembelajaran, guru dapat membuat kesepakatan kecil di kelas. Setiap siswa dapat menyimpan bendera berwarna merah di mejanya jika ia sama sekali tidak memahami materi pembelajaran.

Bendera kuning dapat digunakan jika siswa merasa ragu – ragu, sedangkan bendera hijau berarti siswa telah memahami materi pembelajaran dan menemukan momen AHA mereka.

Dengan penggunaan bendera lalu lintas ini, guru akan terbantu dalam mengidentifikasi siswa yang belum menemukan momen AHA mereka, kemudian dapat membantu mereka, tanpa “mengganggu” pembelajaran bagi siswa lain.

Manfaat bendera lalu lintas pembelajaran bagi siswa adalah  membantu mereka dalam menilai capaian pembelajaran yang diperolehnya secara pribadi, tanpa harus merasa malu jika berbeda dengan yang lain. Hal ini juga akan menjadi bahan bagi guru untuk selanjutnya dapat menyusun rencana pembelajaran berdiferensiasi.

Cara membantu siswa

Menurut Vygotsky, proses pembelajaran akan terjadi jika anak bekerja atau menangani tugas-tugas yang belum dipelajari, namun tugas-tugas tersebut masih berada dalam jangkauan mereka yang disebut Zone of Proximal Development (ZPD). ZPD yakni daerah tingkat perkembangan sedikit di atas daerah perkembangan seseorang saat ini.
Peran guru dalam pembelajaran adalah membantu siswa untuk mencapai ZPD. Teknik pemberian bantuan ini disebut Scaffolding. Scaffolding bertujuan untuk membantu siswa melalui tahap-tahap pembelajaran dan mengurangi bantuan tersebut serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk melanjutkan pengerjaannya.
Bantuan yang diberikan guru dapat berupa petunjuk, peringatan, serta dorongan untuk menguraikan masalah ke dalam bentuk lain yang memungkinkan siswa pada ahirnya menjadi mandiri. Selain itu, scaffolding juga dapat dilakukan melalui pemberian benda – benda manipulatif untuk menstimulus aktivitasi otak siswa.
Walaupun bersifat membantu, hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran adalah peran guru itu sendiri. Dalam Teori Vygotsky, peran guru adalah sebagai fasilitator dan pembimbing. Jadi, pemberian bantuan yang dimaksud tidak bertujuan untuk “mempermudah” atau “mempercepat” perolehan AHA momen, melainkan hanya sebatas pemberian stimulus.

Teknik implementasi Scaffolding

Berikut ini merupakan contoh  teknik scaffolding dalam pembelajaran, yaitu:

  1. Penggunaan media biji – bijian dalam pembelajaran berhitung
  2. Penerapan fishbone dalam menyusun kerangka tulisan
  3. Penerapan model pembelajaran cooperative learning yang memungkinkan terjadinya interaksi dalam kelompok
  4. Melakukan peer tutoring dengan memberdayakan anak dari kelompok atas untuk membantu anak dari kelompok bawah
  5. Melakukan teknik pembelajaran melalui tutor sebaya

Selain teknik – teknik yang sudah disampaikan, masih banyak teknik scaffolding lainnya yang dapat dilakukan oleh guru untuk membantu siswa menemukan AHA Momen.

Oleh karena itu, diharapkan guru lebih cermat dalam melihat situasi pembelajarannya dan mengidentifikasi siswa yang membutuhkan bantuan untuk melalui ZPD. Kemudian menerapkan scaffolding untuk membantu siswa mendapatkan AHA momen.

Sumber : https://www.researchgate.net/publication/342146913_Penerapan_Teori_Piaget_dan_Vygotsky_Ruang_Lingkup_Bilangan_dan_Aljabar_pada_Siswa_Mts_Plus_Karangwangi
Catatan : Artikel ini diikutsertakan pada Lomba Blog Februari 2021 (Artikel ke 7)
Nama : Theresia Sri Rahayu (Cikgu Tere)
Instansi : SDN Waihibur Kab. Sumba Tengah Provinsi NTT
NPA : 10260901048
       

Komentar

Tinggalkan Balasan

4 komentar

News Feed