oleh

Pengalaman Tarawih Malam Ke-16

-Terbaru-Telah Dibaca : 59 Orang

Alhamdulillah tsummal hamdulillah, berkah Ramadhan kita bisa melewati malam ke-16. Sebagai ungkapan rasa syukur tulisan ini saya persembahkan. Tarawih atau Qiyamu Ramadhan adalah amal ibadah pengiring sekaligus  amal ibadah unggulan kita selama bulan puasa. Tanpa tarawih puasa rasanya hampa, tanpa tadarus shoum kita terasa haus, padaha puasa itu sebagaimana amalan ibadah mahdhoh (paten) lainya pasti ada syarat sahnya, ada syarat wajibnya ada rukun dan ada juga sunah-sunahnya, serta ada hal-hal yang membatalkanya.

Meski masuk dalam kategori hukumnya sunah, tarawih rasanya kurang nikmat jika tidak melaksanakannya bersama dengan saudara, teman atau tetangga kita di masjid. Begitu juga tempat pelaksanaannya, jika kita laksanakan di rumah atau kantor atau tempat lain pasti akan terasa beda jika dibandingkan dengan di masjid atau musholla. Maka malam ke-16 tadi malam, saya berniat melaksanakannya di tempat masjid perumahan dimana saya tinggal atau berada, namun apa daya waktu isya sudah tiba sebelum saya sampai ke masjid yang saya tuju.

Qodarullah, atau atas kehendak Allah dan takdir-Nya saya shalat Isya dan tarawih di Masjid dimana kurang lebih satu kilometer lagi menuju tempat tinggal saya, tepatnya perbatasan Kota dan Kabupaten Bekasi. Masjid Al-Ghodfan Thariq Bin Ziyad namanya, berlokasi di terusn Jalan KH. Agus Salim, Karang Satria Tambun Utara, kalau dari arah Proyek Kota Bekasi menuju arah Gabus Kabupaten Bekasi, pasti akan melewati masjid ini. Masjidnya cukup megah dan lingkungannya asri serta lapangan parkirnya cukup luas sekali, bahkan ada “cafe kepoin” di halamannya.

Jarang sekali masjid yang memiliki “cafe”, semoga masjid ini menginspirasi masjid-musholla yang lainnya khususnya di wilayah itu umumnya dimana saja. Ketika saya diamanahkan menjadi ketua pembangunan masjid di perumahan tempat tinggal saya (Vila Mutiara Gading 2), juga sudah punya cita-cita memiliki masjid yang bukan hanya makmur di bidang ibadah, lalu makmur di bidang ilmu (taklim, tarbiyah dan dakwah) juga makmur di bidang muamalah (ekonomi umat). Maka tagline masjid kami saat itu (2007-2008) adalah #Beribadah, #Belajar, #Bekerja. Lebih lengkap dan variatif dari tagline tokoh politik kita yang hanya #kerja, #kerja, #kerja.

Alhamdulillah taglinnya masih dipakai sampai sekarang.

Jika malam ke-15 kemarin (Aula Ponpes Annur) penceramahnya adalah seorang da’i dari Jakarta, yang merupakan adik ipar dari Alm. KH. Aminuddin Muchtar (Ust. Sairoji) membahas tentang waktu turunnya malam Lailatul Qodar, maka pada malam ke-16 ini penceramah tarawihnya adalah seorang da’i pemuda bernama Ust. Athoillah (Seorang Guru di SMPIT Thariq Bin Ziyad Bekasi) dari Rawalumbu – Kota Bekasi. Bersyukur saya bisa bertemu beliau di tempat shalat malam ke-16 tersebut. Begitulah cara Allah mempertemukan hambanya, dengan cara yang tidak kita duga-duga.

Saya juga bertemu dengan jamaah yang saya kenal, ada Pak Buyung tukang AC langganan saya juga Ust Imbar sahabat saya di Majelis Silaturahim Eelemen Muslim Bakda Shubuh (SEMBUH) Forum Silaturahim Masjid dan Musholla (FSMM) Vila Mutiara Gading 2 dan Bumi Anggrek – Karang Satria. Ketika saya bertanya kepada sahabat saya apa isi ceramah tadi yang disampaikan sebelum shalat tarawih, maka sahabat saya malah balik bertanya, untung saya mencatatnya, meski di akhir tarawih bakda shalat witir saya konfirmasi dulu ke sang imam dan pemberi qultum tadi, jika ada koreksi tentang isi ceramah yang disampaikannya.

Isi ceramahnya adalah seputar penjelasan dari ayat Al-Qur’an surat An-Nahl (16) ayat 97:

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[839] dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

[839] Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman.

Beliau menjelaskan tentang “Hayatan Toyyibah”, Kehidupan yang baik, jika kita sudah merasa beramal shaleh namun belum merasakan atau menemukan kehidupan yang baik sebagaimana yang kita cita-citakan atau harapkan maka perlu kiranya introspeksi diri terhadap hal-hal berikut ini:

  1. Apakah amal sholeh yang kita lakukan tersebut sudah berdasarkan atau sesuai dengan ilmunya.
  2. Apakah amal sholeh yang kita lakukan tersebut sudah tepat orientasi (niat) maksud dan tujuannya.
  3. Apakah amal sholeh yang kita lakukan tersebut sudah dilaksanakan secara ihsan (secara sungguh-sungguh, benar-benar atau serius, bersegera, dengan cara-cara yang baik) atau dengan penuh penghayatan dalam melaksanakannya.

Aatau sebaliknya kita malah merendahkan agama, mempermainkan syariat Islam atau tidak mengindahkan perintah dan larangan dari Tuhan Yang Maha Esa, na’udzubillahi min dzalik, semoga kita terhindar dari hal yang demikian.

Semoga “hayatan thoyyibah” yang Allah janjikan pada ayat di atas benar-benar kita raih dengan izin Allah SWT, baik dalam skala individu, keluarga, jamaah masjid/musholla, masyarakat, bangsa dan negara. Sebagaimana dalam lingkup bangsa dan negara Allah juga menjanjikan dengan ungkapan kata/kalimat yang hampir sama denga ayat di atas yaitu بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُوْرٌ

Demikian kurang lebihnya pengalaman malam ke-16 dari satu segmen iabadah shoum kita yaitu dari sisi shalat tarawih atau qiyamur Ramadhannya. Semoga bermanfaat, Wallahu ‘alam.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed