oleh

Kiri Kanan Oke [KKO]

-Politik, Terbaru-Telah Dibaca : 218 Orang

 

Dalam hal menulis sebagai sebuah dialog berpikir, isi tulisan dan judulnya adalah sebuah satu kesatuan, ibarat seperti pribahasa seperti setali mata uang, sesuatu yang saling terkait dan sulit dipisahkan. Judul ibarat menjadi “mahkota”, meminjam istilah pak TD (Thamrin Dahlan) saat saya bersilaturahim ke kantornya (YPTD) di belahan Ibu Kota. Sedangkan isi ibarat batang atau tubuh dari suatu kerangka jasad manusia atau hewan atau tumbuhan, yang tentu di dalamnya ada kulit, tulang dan daging.

Dalam sebuah tulisan, terutama tulisan ilmiah ada lagi istilah lain yang namanya catatan kaki, yang menurut istilah KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) diartikan sebagai keterangan yang dicantumkan pada margin bawah pada halaman buku (biasanya dicetak dengan huruf yang lebih kecil daripada huruf di dalam teks guna menambahkan rujukan uraian di dalam naskah pokok). Oleh karenanya memahami judul sama pentingnya dengan memahami isi dan catatan kaki, sehingga menjadi utuhlah maksud dari sebuah buku atau tulisan.

Begitu juga dalam memahami maksud saya menulis judul di tasa (KKO), KKO bukan singkatan dari Komandan Korp Operasi tapi Kiri Kanan Oke (KKO). Bukan juga saya bermaksud menjekaskan sebuah judul film  yang diproduksi pada tahun 1989 an, judul yang sama yakni Kanan Kiri Oke (KKO). Saya akan membawa wacana Kanan Kiri Oke ke arah perspektif baru yang lebih luas yaitu perspektif agama dan politik. Kenapa agama? dan kenapa politik? Mari kita “ulik” satu per satu:

Kakan & Kiri dalam Perspektif Agama (Islam/Al-Qur’an)

Dalam perspektif agama ini penulis mencoba mencari akar kata dari kanan dan kiri dalam teks yang menjadi dasar utama agama yakni kitab sucinya, dalam hal ini penulis pilih Al-Qur’an sebagai satu kitab mutakhir yang merupakan mukzijat karena diterima dan dibawa oleh nabi akhir zaman Rosulullah Muhammad SAW yaitu kitab suci Al-Qur’an.

Pencarian kata dari asal kata “kanan” dalam bahasa Arabnya (يمين) atau (يمينه) terdapat pada empat tempat yaitu di surat Al-Isro’ (17) ayat 71, surat Az-Zumar (39) ayat 67, surat Al-Haqqoh (69) ayat 19 dan surat Al-Insyiqoq (84) ayat 7. Sedangkan pencarian kata kiri dari asal kata “kiri” dalam bahasa Arabnya (شمال) atau (شماله) penulis hanya menemukan satu tempat saja, mohon pembaca beritahu penulis jika ada di tempat yang lain kata  (شمال) atau (شماله) yang ada dalam Al-Qur’an, satu-satunya tempat tersebut terdapat pada surat Al-Haqqoh (69) ayat 25.

Hal ini menunjukan bahwa secara empirik dan secara realitanya kebanyakan manusia adalah makan atau aktivitas lainnya banyak menggunakan dengan tangan kanan, bukan tangan kiri (kidal). Maka sangatlah wajar atau manusiawi atau sesuai fitrah jika ada hadits nabi (Hadits nabi penulis tempatkan sebagai sumber kedua hukum dalam agama Islam setelah Al-Qur’an) yang menyuruh umatnya makan dengan menggunakan tangan kanan. Di dalam perspektif Al-Qur’an juga golongan yang selamat itu di identikan dengan golongan kanana bukan golongan kiri.

Mari kita perhatikan ayat dalam Al-Qur’an yang menjelaskan tentang golongan kanan dan kiri tersebut:

اعوذ بالله من الشيطان الرجيم

Dan kamu menjadi tiga golongan.

Yaitu golongan kanan[1448]. Alangkah mulianya golongan kanan itu.

Dan golongan kiri[1449]. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu.

Dan orang-orang yang beriman paling dahulu,

Mereka Itulah yang didekatkan kepada Allah.

Berada dalam jannah kenikmatan.

Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu,

Dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian[1450]

Mereka berada di atas dipan yang bertahta emas dan permata,

Seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan.

[1448] Ialah mereka yang menerima buku catatan amal dengan tangan kanan.

[1449] Ialah mereka yang menerima buku catatan amal dengan tangan kiri.

[1450] Yang dimaksud adalah umat sebelum Nabi Muhammad dan umat sesudah Nabi Muhammad SAW.

صدق الله العظيم

Jadi berdasarkan pencerahan dalam ayat di atas, manusia kelak di akhir zaman atau kehidupan kelak di akhirat terbagi menjadi tiga golongan besar yaitu pertama assabiqunal awwalun mereka inilah yang hidup berdekatan dengan zaman kenabian (shiddiqiin, syuhada dan sholihin), kedua dolongan kanan yang Allah puji dan Allah muliakan, golongan kiri yang Allah hina dan sengsarakan. Jadi jelaslah dalam perspektif agama berbahagialah golongan assabiqunal awwalun dan golongan kanan serta janganlah sampai kita termasuk ke dalam golongan kiri berdasarkan ayat-ayat yang tersebut di atas.

Kanan & Kiri dalam Perspektif Politik

Dalam perspektif yang tentu berbeda dengan perspektif agama “kanan dan kiri” memiliki konotasi yang tentu sama-sama kita ketahui bahwa kalau “kanan” dikonotasikan aliran politik yang menjadikan agama sebagai dasar dalam berpolitik, sedangkan “kiri” adalah aliran politik yang mendasarkan materi baik karena akal atau kebudayaan atau keyakinan atau berhala yang dianut oleh manusia pada umumnya.

Namun aliran politik yang memiliki corak ke arah kanan atau kiri di suatu negara demokrasi tentu berbeda-beda prakteknya maupun kadar kekananannya atau kekiriannya, meskipun akar ideologinya pasti mengerucut atau bermuara kepada akar ideologi yang sama yakni materialisme atau komunisme, liberalisme atau kapitalisme, atau religioustitas atau religiusisme yang menjadi landasan dalam berpolitiknya.

Sehingga dalam turunan partai-partai politiknya memiliki corak yang bermacam-macam dan berwarna-warni seperti ada istilah partai kiri sekali, partai kiri tengah, partai kanan sekali atau partai kanan tengah. Pembagian corak atau warna partai seperti di atas memungkinkan adanya partai yang tidak memiliki corak atau coraknya kesana dan kemari (partai tengah). Partai ini yang dikritisi oleh mereka para pegiat politik Islam yang ingin memiliki partai ideologis sebagaimana pada Pemilu 1955 dahulu yaitu adanya partai Masyumi, dengan membuat rencana membuat partai ideologis seperti Masyumi Reborn. Bagi sebagian kalangan pasti juga memiliki selera yang berbeda-beda sesuai perspektif pribadi, golongan atau komunitasnya.

Diantara mereka ada yang suka dengan partai kiri sekali, atau partai kiri tengah. Sebagian lagi ada yang suka dengan partai kanan sekali atau partai kanan tengah, tetapi ada juga partai yang jenis kelamin ideologinya tidak jelas yaitu partai non ideologis atau partai pragmatis, apakah yang seperti itu yang dimaksud partai tengah? atau dalam perspektif judul tulisan ini kita namakan partai kanan kiri oke? Tentunya dikembalikan kepada para pimpinan partai masing-masing, kepada para pakar politik atau pengamat politik, serta kembali kepada audien atau konstituennya yang ada di masyarakat.

Pilkada serentak 2020 yang bertepatan dengan hari ini, Rabu (09 Desember 2020) tentu menjadi salah satu faktor penentu bagi kemenangan partainya sebelum melaksanakan Pemilu nanti di tahun 2024. Apakah Partai Kiri Sekali (PKS) yang akan menjadi pemenangnya? atau apakah Partai Kiri Tengah (PKT) atau Partai Kanan Sekali (PKS) yang akan menjadi pemenangnya? atau Partai Kanan Tengah (PKT) jadi alternatifnya hanya itu. Jika pun ada di luar itu maka ada partai yang kita beri corak yaitu Partai Kanan Kiri Oke (PKKO).

Selamat memilih pemimpin baru bagi daerah masing-masing yang terdiri dari kurang-lebih 270 daerah yang pada hari ini sedang melaksanakan Pilkada Serentak 2020, dan selamat berlibur bagi daerah yang tidak melaksanakan Pilkada. Tetap jaga kesehatan dengan protokol kesehatannya, karena meskipun memilih pemimpin itu juga termasuk hal yang sangat urgent atau penting tetapi jauh lebih penting dari itu adalah kesehatan.

Karena dari dua nikmat yang disebutkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai tauladan kita dalam melakukan revolusi akhlak dan revolusi mental (sengaja penulis sebutkan keduanya dengan harapan semoga dengan Pilpres dan Pilkada ini tidak ada lagi pembelahan seperti belahnya kanan dan kiri) semoga keduanya berjalan sukses dan mampu membawa negeri ini menjadi negeri yang kita cita-citakan bersama yaitu Baldatun Thoyibatun Warobbun Ghofuurun (sebuah negeri yang adil, aman dan sejahtera serta mendapatkan ampunan dari Tuhan Yang Maha Esa).

NB: Negeri yang mendapatkan ampunan itulah yang susuai dengan harapan kebanyakan rakyat saat ini mengingat sangat maraknya korupsi di negeri ini terlebih ditambah lagi dengan adanya kasus enam orang (warga negara pegiat dan pembela organisasi Islam) yang gugur di jalan Tol Cikampek tiga hari lalu(?), meski masih menunggu kejelasan dari pihak yang berwajib duduk perkara terakhir (finalnya) sehubungan dengan adanya keterangan yang berbeda dari kedua pihak, meski tidak penulis sebut sebagai pihak kiri atau pihak kanan.

Karang Satria, 09 Desember 2020/24 Robiul Akhir 1442 H.

 

Dimyat Aa Dym

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed