oleh

Menulis Bukan Untuk Sekedar Meraih Juara dan 5 Strategi Jitu Perbaiki Motivasi Diri (Bagian 1)

Strategi Jitu Perbaiki Motivasi Diri dalam Menulis (Sumber gambar: https://tip.duke.edu )

Oleh: Dionisius Agus Puguh Santosa, SE, MM

Meyakinkan diri sendiri bahwa sesungguhnya aktivitas menulis yang kita lakukan sekarang ini bukanlah sekedar untuk meraih juara kompetisi, lomba, atau apapun juga namanya. Dan meyakinkan diri ini terbilang tidak mudah! Sebab sudah barang tentu setiap penulis rindu untuk menjadi juara dalam kompetisi, lomba, dan beragam ajang kejuaraan menulis yang diikutinya. Benar, bukan?

Dan sudah menjadi rahasia umum bilamana keikutsertaan menulis dalam blog YPTD ini pun adalah untuk meraih predikat juara tersebut, ditambah dengan harapan bahwa semua tulisan yang telah diikutsertakan dalam kompetisi menulis PGRI bulan Februari 2021 ini nantinya akan dibukukan!

Tentu kerinduan dan harapan ini bukanlah sesuatu yang muluk-muluk. Sebab salah satu bentuk motivasi yang dapat senantiasa mengobarkan semangat menulis adalah “kompetisi menulis”.

Sebuah kompetisi, yang bermakna “persaingan” atau “pertandingan untuk merebut kejuaraan”, memang sengaja diciptakan sebagai stimulus atau rangsangan agar dalam diri seseorang bisa ditumbuhkan semangat dan komitmen untuk rutin menulis dalam rentang waktu tertentu.

Ada perasaan haru, lega, dan dipenuhi sukacita manakala kita berhasil melewati ajang sebuah kompetisi menulis yang kita ikuti. Apalagi dibumbui catatan bahwa selama kompetisi berlangsung, kita tidak sampai “bolong-bolong” mem-posting karya tulis kita!

Berikut ini saya paparkan 5 strategi jitu untuk memperbaiki motivasi menulis kita setiap harinya:

Strategi 1: Menulislah Saja

Meski terdengar sederhana, namun ungkapan “Menulislah saja” menjadi sesuatu yang tidak mudah untuk dijalani. Menulis untuk apa, menulis bagaimana, menulis karena apa, dan sederet pertanyaan berikutnya selalu membayangi benak para penulis pemula.

Pertanyaan-pertanyana tersebut muncul karena menurut pendapat sebagian orang, kegiatan menulis memang harus mempunyai alasan tertentu. Padahal jika direnung-renungkan kembali, sebenarnya kita tidak perlu terlampau menjadi risau karenanya.

Ibaratnya seseorang yang akan melangkah atau berjalan, tentu tidak selalu perlu dicarikan alasannya bukan. Melangkah dan melangkahlah saja atau berjalan dan berjalanlah saja, ikuti kata hatimu, dan jadilah bahagia karenanya.

Pun demikian adanya dengan aktivitas “menulis” yang tentu ujung-ujungnya sebenarnya bertujuan untuk meraih kebahagiaan lahir dan batin. Yang dimaksud dengan kebahagiaan di sini tidak selalu melulu berkaitan dengan tujuan untuk menjadi juara atau pemenang dalam sebuah kompetisi atau ajang lomba menulis.

Jika menulis selalu harus dicarikan alasannya, maka bisa jadi sampai kapanpun kita tidak akan pernah memulai untuk menulis. Jadi menulislah saja!

Strategi 2: Jika Menulis Maka Ada Tulisan

Sebagian orang mungkin pernah bercita-cita ingin menjadi seorang penulis terkenal seperti sastrawan A, novelis B, atau penulis skenario C. Namun selama mereka tidak pernah mulai menulis, maka cita-cita itu selamanya hanya akan menjadi cita-cita saja.

Percaya atau tidak, sebenarnya ungkapan “Jika menulis maka ada tulisan” tidak terlampau berlebihan. Seseorang tidak perlu berpikir untuk membuat target agar dapat menghasilkan sejumlah halaman dari aktivitas menulis yang hendak dijalaninya. Sebab bila target yang kita tentukan di awal “justru menjadi beban” dalam ritual menulis yang kita jalankan; maka bisa jadi tulisan yang diharapkan tidak akan pernah menjadi kenyataan.

Maka cita-cita hanya akan menjadi cita-cita belaka dan mimpi akan menjadi mimpi selamanya. Untuk itu jika Anda ingin memiliki karya berupa tulisan, maka menulislah hingga tercipta sebuah tulisan. Nanti jika kita sudah merasa mampu menghidupi kebiasaan menulis ini, dengan sendirinya akan lahir tulisan-tulisan kita selanjutnya.

Bila kita sudah mampu menyediakan banyak judul tulisan dengan beragam tema dan cerita, maka dengan sendirinya semua tulisan kita yang berserak itu nantinya dapat kita kelompokkan dan rapikan kembali untuk disusun menjadi sebuah buku atau beberapa buku sekaligus.

(Bersambung…)

Banjarmasin, 10 Februari 2021

Komentar

Tinggalkan Balasan