oleh

Tips Berlatih Menulis dengan Ilmu Pantun (Bagian 2)

-Literasi, Pantun, Pantun, Terbaru, YPTD-Telah Dibaca : 4,927 Orang

Halo, Sahabat!

Postingan ini adalah bagian kedua dari Tips Berlatih Menulis dengan Ilmu Pantun. Bagian 1 bisa kalian baca di sini ya : Tips Berlatih Menulis dengan Ilmu Pantun (Bagian 1)

Sesuai janji, di bagian kedua akan dibahas mengenai hubungan pantun dengan kelemahan artikel pemula. Apa yang saya tulis di sini, disarikan dari materi Mempertajam Tulisan Melalui Latihan Berpantun. Materi tersebut saya dapatkan dari salah satu mentor menulis saya, King Doddi Ahmad Fauji.

Berdasarkan kacamata pria yang ikut membidani lahirnya Yayasan Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat (KPPJB) tersebut, setidaknya ada 5 kelemahan artikel pemula yang sering dijumpa, yaitu :

  1. menyodorkan pernyataan yang keliru atau tidak logis, 
  2. penyusunan kalimat yang tidak runut berdasarkan urutan logis, 
  3. penggunaan tata-bahasa dan ejaan yang banyak mengandung kesalahan, 
  4. terlalu banyak kalimat mejemuk bertingkat (hal ini bisa menguras energi pembaca saat mencerna maksud tulisan),
  5. kosakata yang miskin. 

Lima kelemahan di atas menurut King Doddi dapat diperbaiki dengan cara mendalami seni pantun, serta mempraktikkan penulisannya sesering mungkin.

Untuk kesalahan nomor 1, pantun menjadi sarana untuk memperbaikinya, sebab seorang yang berwawasan terbatas, dengan kosakata yang minim, akan kesulitan menulis pantun yang bagus. Maka, ia dituntut untuk rajin membaca.

Penulisan pantun yang dapat menambah wawasan si penulis adalah yang ditentukan temanya, baik sampiran maupun isinya, seperti pantun pada antologi ‘Nyanyian dari Seruyan’. Dapat ditanyakan kepada para penulis dalam buku ini, benarkah harus membaca untuk menyelesaikan tugas penulisan pantun dalam buku ini?

Meskipun pantun masuk ke dalam kategori puisi klasik, namun untuk menulis pantun yang bagus, sesuai ketentuan, ternyata membutuhkan kemampuan berlogika. Hubungan makna yang erat, antara dua baris yang menjadi sampiran, serta dua baris yang menjadi isi, mutlak dibutuhkan.

Orang yang lemah dalam berlogika, kiranya akan kesulitan membuat dua baris kalimat, yang berkaitan secara makna maupun tema. Nah, dalam kalimat yang relatif pendek, serta dengan waktu yang singkat, pantun dapat mengasah daya berlogika. Maka menulis pantunlah terus-menerus, untuk mengasah logika.

Untuk kelemahan nomor ke-2, yaitu penyusunan kalimat yang tidak runut berdasarkan urutan logis, bisa diperbaiki dengan berpantun, karena suka tak suka, mau tak mau, susunan logis dalam sampiran dan isi pantun, harus selalu ditepati. Keharusan logis dalam pantun itulah, yang bisa mengasah logika calon penulis.

Adapun kelemahan nomor 3 dan 4, yaitu kesalahan tata bahasa, ejaan, serta penggunaan kalimat majemuk bertingkat yang terlalu banyak, dapat diperbaiki dengan cara mengkuti pola pantun. Seni pantun mengajarkan efektivitas dalam penggunaan kata atau sukukata, serta penggunaan kalimat yang komunikatif.

Untuk kelemahan nomor 5, yakni kemiskinan kosakata di kalangan para penulis pemula, dapat diperkaya melalui penciptaan pantun. Kata di dalam pantun, bukan saja harus tepat maknanya, namun juga harus tepat ritma (sukukata), serta minimal harus memiliki kesamaan bunyi sukukata akhir di tiap baris (rima). Tuntutan ketat untuk memilih kata yang tepat ini, akan memaksa si penulis, untuk membuka-buka kamus, guna mencari sinonim kata.

Nah, bagi yang hendak mempertajam karya tulis, jenis apapun tulisannya, sebaiknya mempelajari seni pantun sebagai sarana berlatih secara teknis maupun substansial.

“Bagi saya, menulis pantun dapat diibaratkan seperti pemanasan (warming up) dalam olahraga, atau seperti senam jari (fingering), bagi pemain gitar. Sebelum olahraga utama, sebelum main gitar, otot-otot butuh pelemasan, supaya tidak kaku. Juga sebelum menulis puisi modern, prosa, atau artikel yang panjang-panjang itu, membutuhkan pemanasan terlebih dulu, dengan menulis yang pendek-pendek.” tutur King Doddi.

Bagaimana, tertarik untuk berlatih menulis dengan ilmu pantun?

Semoga bermanfaat dan menginspirasi 😊🙏🏻

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog PGRI bulan Februari 2021

Ditta Widya Utami, S.Pd.

NPA. 10162000676

Komentar

Tinggalkan Balasan

2 komentar