oleh

Tips Mengelola TBM ala Mr. Bams

-Literasi, Perpustakaan, Terbaru, YPTD-Telah Dibaca : 458 Orang

“Tak akan pernah ada yang sia-sia bila kita lakukan untuk membahagiakan orang lain. Lakukan saja, lakukan saja.” Mr. Bams

Jumat, 5 Februari 2021, pemilik akun penamrbams.id berbagi pengalamannya dalam mendirikan dan mengelola TBM (Taman Bacaan Masyarakat). Hal itu berangkat dari kegemarannya sebagai pendongeng yang dimulai sejak tahun 2004.

Bambang Purwanto, S.Kom. atau yang akrab dipanggil Mr. Bams mendirikan TBM Ayah Salwa (AS) pada 5 Oktober 2011. Kecintaannya pada anak-anak agar senang dan rajin membaca membuat Mr. Bams teguh mengelola TBM AS Lebakwangi.

Dimulai hanya dengan sekitar 20 majalah anak serta koran kemarin. TBM AS Lebakwangi telah berkembang. Jika semula ada 200an buku, kini tersedia sekitar 6000an koleksi. Bermula hanya dari sepetak halaman rumah, kini TBM tersebut berdiri di atas tanah sendiri.

Kondisi TBM AS Lebakwangi dulu dan sekarang (Sumber: Mr. Bams)

TBM yang berdiri saat Salwa (anak semata wayang Mr. Bams) masih berusia 8 tahun mulanya hanya menyediakan buku-buku yang dipajang di rak plastik 3 trap. Jika hari Minggu, Mr. Bams sering mengeluarkan meja lalu menyimpan berbagai buku untuk dibaca.

Karena Mr. Bams dan istri sama-sama sibuk, mereka sempat mempekerjakan orang lain dengan mengupah sekitar 150-500 ribu per bulan. Dananya? Berasal dari pengeluaran pribadi dan/atau donasi.

Wah, luar biasa hebat. Tentu tidak mudah mendirikan sebuah TBM. Resiko buku hilang sudah tentu ada. Itu pernah saya rasakan saat mengelola perpustakaan sekolah. Ada saja siswa yang lupa mengembalikan buku, atau ada yang kembali namun fisiknya sudah tak seperti awalnya. Robek sana sini, basah, halaman hilang.

 

Video : Profil TBM AS Lebakwangi (2014)

Menambah bahan bacaan pun menjadi tantangan tersendiri. Namun, asal mau sabar dan berusaha, sungguh setiap masalah yang datang insya Allah akan bisa kita hadapi. Sebagaimana Mr. Bams, menurutnya ada banyak cara untuk memperoleh bahan bacaan, yaitu :

  1. Cari sponsor (orang tua, perusahaan sekitar). Walau tidak mudah.
  2. Buat program donasi buku.
  3. Kerja sama dengan program pinjam dari TBM yang ada di sekitar.
  4. Hubungi Dinas Perpustakaan, biasanya ada mobil perpus keliling.
  5. Komunitas 1001 buku itu rajin ngasih donasi buku.
  6. Gabung dengan komunitas/organisasi Forum TBM yang ada di kota/kabupaten, provinsi bahkan jika bisa hingga forum nasional.

Adapun terkait perizinan, berikut adalah usaha yang telah ditempuh Mr. Bams :

  1. Izin tetangga
  2. Surat domisili dari desa
  3. Akte pendirian dari notaris
  4. Ijin operasional dari Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung

Tak hanya anak-anak tetangga saja yang kerap ikut membaca kala senja. TBM Ayah Salwa juga sering dikunjungi oleh anak-anak dari sekolah. Kegiatan TBM bukan hanya membaca saja. Akan tetapi bisa menjadi Pusat Kegiatan Pelibatan Masyarakat.

Berbagai kegiatan tbm AS Lebakwangi (Sumber : Mr. Bams)

Oleh karena itu, selain membaca, program lain yang diadakan TBM AS Lebakwangi adalah mewarnai, pelatihan TIK dan mengadakan berbagai lomba. Layanan tersebut sifatnya gratis. Yang penting kata Mr. Bams, “Asal mau saja untuk datang ke rumah kami”.

Satu hal yang juga penting dalam mengelola TBM adalah promosikan kegiatan TBM di medsos sehingga banyak orang yang tahu.

Dalam perjalanannya, TBM AS Lebakwangi telah berhasil menuai prestasi :

  1. Juara 2 Pengelola TBM dalam Apresiasi PTK PAUDNI Berprestasi Tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun 2013
  2. Juara 1 Pengelola TBM dalam Apresiasi PTK PAUDNI Berprestasj Tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun 2014
  3. Sabilulungan Award 2018 dari Bupati Kabupaten Bandung
Salwa (putri Mr. Bams) saat foto bareng Bupati Kab Bandung, Bapak Dadang Naser usai acara SABILULUNGAN AWARD 2018. (Sumber : Mr. Bams)

“Piala adalah penguji keikhlasan, piala hanya simbol penghargaan, penghormatan. Piala untuk mengukur seberapa ikhlas kita terus berjuang membangun TBM ini semakin bermanfaat. Membaca buku artinya memakmurkan penulis. Karena karyanya bisa dinikmati.” Mr. Bams.

Membangun kesadaran anak agar cinta membaca buku di tengah dunia digital seperti saat ini harus dimulai dari keluarga. Mulai dari diri sendiri. Perbanyak buku bacaan di rumah. Permudah akses buku dirumah (jika bisa buatlah perpustakaan mini). Biasakan membaca bersama dan bangun diskusi yang menarik bersama anak-anak di rumah.

Kata Ayah Salwa, memang tidak mudah memindahkan kebiasaan membaca di HP ke buku. Anak-anak akan selalu melihat orang tua atau gurunya. Kita memang harus kerja keras membuat buku bisa kembali dibaca. Kita harus memberikan contoh, ini perjuangan semua. Makanya di sekolah ada kegiatan Gerakan Literasi Sekolah. Bapak ibu guru yang ada di sini harus terus membuat GLS terus berjalan. Selamat berjuang!

Informasi lebih lanjut terkait TBM AS Lebakwangi silakan lihat di laman https://lebakwangimembaca.wordpress.com/ atau cukup masukkan kata kunci TBM AS Lebakwangi di mesin pencari Google.

 

Ditta Widya Utami, S.Pd.

NPA. 10162000676

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed