oleh

5 Posisi Kontrol

-Edukasi, Humaniora, KMAB, Pendidikan-Telah Dibaca : 1,415 Orang

Perhatikan lima kalimat berikut :

  1. “Awas, ya … kalau lain kali telat mengerjakan tugas lagi!”
  2. “Kalau orang tua kamu tahu, gimana?”
  3. “Ayo bantu, demi solidaritas.”
  4. “Apa peraturan yang berlaku di kelas kita?”
  5. “Apa rencana kamu untuk memperbaiki ini?”

Manakah yang lebih sering Anda katakan ketika menemui anak yang melakukan kesalahan?

Melalui serangkaian riset dan berdasarkan teori kontrol Dr. Willian Glasser, Gossen menyimpulkan ada 5 posisi kontrol yang diterapkan guru, orang tua maupun atasan untuk mengontrol orang lain.

Apa saja kelima posisi kontrol tersebut? Mari kita tinjau lebih dalam.

Penghukum

Orang-orang yang berada di posisi penghukum bisa menggunakan hukuman fisik ataupun verbal yang dapat menekan orang-orang di bawahnya.

Kalimat pertama menunjukkan posisi penghukum. Selain itu bisa juga kalimatnya berupa, “Kamu selalu saja telat!” atau “Patuhi peraturan saya sekarang!”. Ciri lainnya adalah penggunaan intonasi suara yang tinggi serta bahasa tubuh seperti menunjuk-nunjuk anak.

Bagi orang dalam posisi kontrol, hanya ada satu cara yang efektif agar pembelajaran bisa berhasil: caranya sendiri. Hal ini bisa berbahaya karena bisa jadi anak malah akan mendendam atau bersifat lebih agresif.

Pembuat Merasa Bersalah

Meski pada posisi ini suara guru akan lebih lembut, namun melalui kata-katanya guru tersebut mampu membuat orang lain merasa tidak nyaman, merasa bersalah atau bahkan rendah diri.

Kalimat nomor 2 merupakan contoh yang diucapkan orang dalam posisi pembuat merasa bersalah. Contoh lainnya adalah kalimat seperti, “Ibu sangat kecewa padamu” atau “Harus berapa kali Bapak katakan?”.

Dengan menggunakan posisi ini, maka murid dapat merasa tidak berharga, menilai diri mereka buruk dan telah mengecewakan orang lain. Dampak ini lebih berbahaya dibanding murid yang bertemu dengan posisi penghukum, karena murid bisa saja memendam emosinya yang sewaktu-waktu dapat meledak tak terkontrol.

Teman

Guru pada posisi ini memang tidak menyakiti murid. Guru bisa menggunakan hubungan baik dan humor untuk mengontrol murid. Seperti kalimat di nomor 3 atau bisa juga seperti, “Baiklah tidak apa-apa. Nanti Bapak bantu selesaikan.”

Hal ini tak selamanya baik karena bila suatu hari guru tidak membantu murid, akan timbul rasa kecewa dalam diri murid dan akhirnya tidak mau lagi berusaha.

Di posisi teman, murid mungkin akan bersikap baik pada guru tertentu saja, guru-guru yang dianggap sebagai temannya dan tidak pada guru lainnya. Dampak lainnya adalah sifat ketergantungan murid, merasa ia bisa mengandalkan gurunya (tak akan berdaya tanpa guru yang dianggapnya teman).

Pemantau

Pada saat memantau atau mengawasi, seorang guru bertanggung jawab atas perilaku orang-orang yang diawasinya. Peraturan dan sanksi/konsekuensi dapat memisahkan hubungan pribadi guru-murid dalam posisi pemantau.

Kalimat nomor 4 merupakan contoh dari seorang pemantau. Contoh lainnya kita bisa bertanya apa yang telah dilakukan murid atau bertanya sanksi atau konsekuensinya apa?

Di posisi ini, guru bisa menggunakan catatan, daftar cek dsb yang dapat digunakan sebagai bukti atas perilaku orang yang dipantau olehnya.

Manager

Seseorang yang memiliki keterampilan di posisi teman atau pemantau dapat berada di posisi manajer.

Di posisi ini seorang guru akan berkolaborasi dengan murid, memberi ruang pada murid untuk mempertanggungjawabkan perilakunya, mendidik murid menemukan solusi atas permasalahannya sendiri.

Selain kalimat nomor 5, contoh lainnya adalah guru bertanya tentang apa yang diyakini bersama (terkait keyakinan kelas).

Posisi manajer membantu murid untuk dapat mengatur dirinya sendiri dan dapat kembali ke kelompok dengan lebih baik.

Fakta di lapangan, bisa saja seorang guru kembali ke posisi teman atau pemantau bila murid belum siap diajak berdiskusi melakukan restitusi (baca Mengenal Restitusi). Namun kita harus ingat bahwa posisi akhir yang sebaiknya dicapai adalah posisi manajer.

Semoga kita bisa berada di posisi manajer dalam mendisiplinkan anak sehingga anak lebih mandiri, merdeka dan bertanggung jawab atas perilakunya yang pada akhirnya menciptakan lingkungan yang positif, aman dan nyaman.

Komentar

Tinggalkan Balasan

2 komentar