oleh

Dipaksa Agar Terbiasa, Setuju?

-Edukasi, Humaniora, KMAB, Pendidikan-Telah Dibaca : 290 Orang

Sebelum membaca lebih jauh artikel ini, mari kita berefleksi sejenak. Segarkan memori kita (boleh di masa kapan pun yang diingat). Siap? Tarik nafas … dan hembuskan perlahan.

Jawablah pertanyaan berikut dengan sejujurnya. Niatkan untuk berefleksi sejenak. Cukup jawab dalam hati dan mari kita renungkan.

Pernahkah Anda dipaksa melakukan sesuatu? Atau memaksa orang lain melakukan sesuatu?

….

Apa yang Anda rasakan ketika dipaksa/memaksa orang lain?

….

Ketika paksaan dihilangkan, apakah Anda/orang lain tetap melakukan apa yang dipaksakan?

….

Pembelajaran apa yang Anda dapatkan berdasarkan pengalaman tersebut?

….

Sahabat pembaca, mungkin ada yang dulu pernah dipaksa ikut les ini dan itu. Dipaksa masuk jurusan tertentu. Dipaksa untuk menguasai keahlian tertentu.

Bisa jadi ada rasa tidak nyaman ketika kita dipaksa oleh seseorang bukan? Dalam kondisi yang parah, bahkan akan timbul antipati terhadap hal yang dipaksakan. Misal yang dipaksa membersihkan kelas, akan timbul antipati membersihkan. Bukan karena membersihkan kelasnya, tapi karena pemaksaannya.

Memaksa orang lain melakukan sesuatu tidak termasuk ke dalam disiplin positif. Selain menimbulkan kepatuhan sementara, hal ini kurang dapat menumbuhkan motivasi internal (kesadaran diri) dari orang-orang yang dipaksa melakukan sesuatu. Kemerdekaan berekspresi akan terampas.

Jika pemaksaan datang dari diri sendiri bagaimana? Misal, memaksakan diri belajar hingga larut malam agar berhasil dalam ujian. Mari refleksikan kembali apa motivasi yang sesungguhnya? Apakah untuk mempertahankan gelar juara (motivasi eksternal)? Apakah takut dicap anak gagal (motivasi eksternal)? Takut dihukum (motivasi eksternal)? Atau … sadar bahwa belajar akan mengantarkannya lebih dekat dengan cita-cita, bukan sekedar lulus ujian (motivasi internal)?

Jika pemaksaan tidak dianjurkan, lalu apa yang semestinya dilakukan?

Jawabannya bisa sangat luas. Namun, bila kita ingat kembali Ki Hajar Dewantara mengungkapkan bahwa merdeka bukan sekedar terlepas dari perintah, namun bagaimana seseorang cakap dalam memerintah dirinya sendiri.

Ya, setiap kita bertanggung jawab untuk memiliki disiplin diri yang baik. Hal ini sebagaimana diutarakan oleh Diane Gossen bahwa disiplin diri dapat membuat seseorang menggali potensinya menuju kepada suatu tujuan, sesuatu yang dihargai dan bermakna.

Ada beberapa langkah yang saya dapatkan di Modul Bolehkah Memaksa dalam Platform Merdeka Mengajar agar dapat melakukan hal-hal positif tanpa memaksa, yaitu:

  1. Ajak/dorong murid melakukan kegiatan yang membuat mereka senang
  2. Bantu murid temukan inspirasinya
  3. Membuka ruang dialog dengan murid

Sekarang, apakah kita masih termasuk orang yang cenderung memaksa orang lain untuk patuh melakukan sesuatu? Apa rencana ke depan yang akan dilakukan agar dapat lebih baik lagi?

Semoga bermanfaat, mari berefleksi bersama.

Komentar

Tinggalkan Balasan