oleh

Hukuman dan Konsep Diri yang Negatif

-Edukasi, Humaniora, Pendidikan-Telah Dibaca : 353 Orang

Pernahkah Anda di masa sekolah menerima hukuman?

Saya pernah.

Ketika kelas dua SMP, saya lupa membawa buku PR di mata pelajaran yang saya sukai. Jelas saya panik, karena bahkan jika sakit dan tak bisa sekolah, saya akan menitipkan tugas kepada teman. Tapi hari itu buku PR saya memang tidak ada di tas. Tak ada di meja pun tak ada di kolong meja. Saya dihukum bending, di dalam kelas. Hukuman ini memang sudah disepakati sejak awal. Jadi, tentu saja saya jalani walau hati terisis pedih. Ya, saya berusaha mati-matian menahan tangis.

Lalu, saya juga pernah untuk pertama kalinya terlambat beberapa menit masuk sekolah saat SMA. Lagi-lagi saat kelas dua. Di jam-jam rawan (padat kendaraan), butuh waktu minimal 40 menit untuk sampai ke sekolah dengan kendaraan umum.

Di hari nahas itu, saya berangkat sekitar pukul 06.00 WIB. Namun, bis yang saya tumpangi ternyata berbelok ke pom bensin, mengisi bahan bakar kendaraan. Beberapa menit di pom bensin rasanya bagai berabad-abad. Lamaaaa sekali. Tapi wajar karena bukan bis ¾ yang saya tumpangi, melainkan bis besar yang umum digunakan untuk lintas kota bahkan propinsi.

Saya tahu saya telat. Sayangnya saat itu entah mengapa para guru ikut serta menjaga gerbang sekolah. Kami yang terlambat walau sedetik dikumpulkan di lapang. Tidak dimarahi, hanya diberi nasihat. Tapi, rasa malu dilihat teman-teman yang sudah masuk kelas (meski tak ada yang keluar kelas karena pelajaran telah dimulai) dan juga malu saat masuk kelas, masih saya ingat jelas sampai sekarang. Saya bahkan masih ingat saat itu saya menangis. Entahlah, mungkin merasa tak adil atau marah pada diri sendiri. Mengapa harus hari itu aturan ditegakkan? Beberapa hari sebelumnya anak yang datang terlambat masih diizinkan masuk.

Bagaimana dengan Anda? Apa yang paling Anda ingat ketika dihukum? Apakah Anda mengingat hukuman yang didapat? Atau justru yang Anda ingat pertama kali adalah kesalahan Anda?

Hukuman dapat membentuk konsep diri yang negatif. Orang yang dihukum bisa menjadi pribadi yang kurang percaya diri, merasa malu, merasa lemah, dsb. Apalagi bila hukuman disertai dengan bahasa tubuh yang kurang baik (seperti menunjuk-nunjuk anak yang berbuat kesalahan) dan intonasi (suara) yang tinggi.

Sebuah pesan dalam percakapan akan sampai dengan baik bila muncul dalam kondisi yang positif. Menurut Diane Gossen ada 3 faktor yang harus diperhatikan agar dapat menciptakan kondisi positif, yaitu bahasa tubuh (55%), intonasi suara (35%) dan pemilihan kata (10%).

Dalam sebuah tayangan video di Platform Merdeka Mengajar (PMM), ada contoh kisah seorang anak yang dihukum oleh gurunya karena tidak menggunakan topi saat upacara. Sang guru bertanya mengapa anak tersebut tidak mengunakan topi, padahal ia (guru) yakin bahwa siswa juga mengetahui manfaat topi (melindungi dari panas matahari).

Meski ada pesan baik bahwa topi melindungi pemakainya dari panas matahari, namun pesan tersebut tidak sampai kepada Rina (siswa yang dihukum). Mengapa? Karena pada saat menyampaikan kalimat tersebut, nada suara guru sudah tinggi. Belum lagi ditambah bahasa tubuh guru yang menunjuk Rina untuk berdiri menghormat ke tiang bendera selama 15 menit. Pesan tak tersampaikan karena suasana tegang lebih dulu tercipta.

Diane Gossen juga berpendapat bahwa tidak ada korelasi logis antara hukuman dengan solusi yang dipilih untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Pada kasus Rina misalnya, apakah hukuman menghormat ke bendera selama 15 menit memiliki korelasi dengan kesalahan tidak membawa topi?

Pada hukuman, anak tidak diajak berdiskusi dalam pemecahan masalahnya. Hanya guru yang menentukan. Akhirnya murid tidak belajar makna di balik tanggung jawabnya.

Hukuman untuk mendisiplinkan menciptakan situasi paksaan. Pada kasus Rina, dimana suasana hukuman terbangun dengan suasana yang kurang nyaman, pesan guru jadi tak sampai. Jika saja suasana yang dibangun lebih positif, mungkin Rina akan mengerti akan kesalahannya dan ia akan berusaha memperbaiki. Bukan malah menyalahkan dirinya sendiri.

Merupakan hal yang normal ketika seseorang berbuat kesalahan. Inilah yang patut kita sadari sehingga tumbuh empati ketika akan menyikapinya.

Jika kita terus fokus memberi hukuman dengan kondisi yang kurang baik, anak hanya akan patuh sementara. Di saat tak ada lagi hukuman, di saat mereka jauh dari kita, bisa saja kesalahan itu terulang kembali bahkan bisa jadi malah “disengaja”.

Saya pribadi masih harus banyak berlatih dalam mengendalikan bahasa tubuh dan intonasi suara. Masih harus berlatih meniadakan hukuman untuk mendisiplinkan anak. Semoga saya (khususnya) dan kita (umumnya) dapat lebih bijak lagi bersikap dan bertutur kata bahkan ketika menemukan anak-anak kita berbuat salah.

Lalu, bagaimana cara untuk mendisiplinkan anak? Insya Allah akan terjawab di postingan-postingan berikutnya. Saat ini, biarlah cukup di sini. Sejenak beri ruang untuk merefleksikan diri. Mengingat sebentar lagi Idul Adha. Bersamaan dengan penyembelihan kurban, semoga segala sikap buruk kita pun luruh. Aamiin.

Mohon maaf lahir batin.

Komentar

Tinggalkan Balasan

1 komentar