oleh

Ketika Senior Belajar pada Junior

-Edukasi, Humaniora, KMAB, Pendidikan-Telah Dibaca : 178 Orang

Saat ini, kita bisa belajar dari siapa saja dan dimana saja. Namun, ketika kita dihadapkan pada situasi dimana kita harus belajar pada yang lebih muda, apakah kita sanggup melaksanakannya? Atau … masih ada gengsi dalam diri kita sehingga muncul pemikiran “saya sudah tahu” ketika sosok yang lebih muda sedang berbagi pada kita.

Pengalaman hidup sebagai Pengajar Praktik Pendidikan Guru Penggerak (PP PGP) menyadarkan saya bahwa salah satu tantangan yang dihadapi oleh para Calon Guru Penggerak (CGP) adalah ketika mengajak para guru senior untuk sama-sama belajar.

Responnya beragam. Ada yang menunjukkan respon positif dengan semangat belajar bersama CGP, namun ada juga satu dua yang super sibuk sehingga belum bisa ikut serta dalam pengimbasan. Lainnya ada yang mendukung namun belum mau terjun ke aksi nyata, dan tentu saja ada sebagian kecil yang menolak belajar bersama.

Di PGP, sekat jenjang mengajar ditiadakan. Setiap guru (terlepas dari jenjang TK hingga SMA) yang mendaftar di PGP, statusnya sama: pembelajar. Hal ini dikarenakan fokus PGP bukan pada ranah profesional sebagaimana program Pendidikan Profesi Guru (PPG).

Pada PPG, guru dikelompokkan sesuai mata pelajaran adalah hal yang wajar karena keilmuan guru terkait mapel yang diampu akan dikembangkan dan ditingkatkan. Berbeda halnya dengan PGP yang lebih mengembangkan kepemimpinan, sosial dan emosional para guru.

Be Open Minded

Pengalaman. Hal tersebut bisa menjadi salah satu alasan bagi seseorang untuk bersikap tertutup. Merasa diri lebih tahu, lebih banyak pengalaman, sehingga enggan menerima masukan maupun saran terutama dari yang usianya lebih muda.

Padahal open minded atau berpikir terbuka adalah salah satu kunci sukses dalam belajar. Ibarat mengisi gelas. Bila gelasnya sudah penuh, apalagi ditutup, air dari teko yang diibaratkan ilmu tentu saja tak kan bisa ditambahkan lagi ke gelas. Berbeda halnya ketika gelasnya “dikosongkan” terlebih dahulu dan tutupnya dibuka, maka air akan dengan mudah masuk ke dalam gelas.

Ketika Senior Mau Belajar pada yang Lebih Muda

Ketika para senior mau belajar bersama guru-guru muda, maka yang muda yang harus lebih sadar diri. Bisa jadi, keilmuwan guru senior jauh melampaui kita namun beliau-beliau melapangkan hatinya untuk mendengarkan kita, memberi kesempatan pada kita untuk berkembang, menjadi partner belajar yang bisa melejitkan potensi kita.

Pada kasus demikian, yakinlah bahwa para senior sedang menggunakan ilmu padi. Semakin berisi, semakin merunduk. Maka para guru muda patut bersyukur dalam kondisi demikian.

Menurunnya Kemampuan Belajar

Saya pernah mengalami ketika mengajak teman-teman yang lebih senior kemudian tanggapan yang muncul adalah “Silakan saja yang muda-muda. Saya sudah tua, sudah lelah.”

Tak salah memang.

Dr. J Bertran-Gonzales dari Queensland Brain Institute menjelaskan berdasarkan penelitiannya[1], bahwa mamalia mana pun bila usianya bertambah (tidak menutup kemungkinan pada manusia juga) akan mengalami penurunan kemampuan otak untuk beradaptasi sesuai bertambahnya usia.

Ya. Kemampuan belajar memang akan menurun seiring dengan bertambahnya usia.

Namun, studi tersebut juga menunjukkan bahwa otak tak ubahnya otot. Jika dipakai dan dilatih secara terus menerus, maka tetap dapat berfungsi dengan baik.

Kesimpulannya, betul bahwa semakin bertambahnya usia akan semakin sulit belajar karena terjadi penurunan aktivitas atau kerusakan di sel-sel saraf pada otak. Namun, selama kita masih mau menjadi pembelajar sejati, mau mempelajari hal-hal baru bahkan pada generasi yang lebih muda, insya Allah kita akan menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Gap usia saat belajar memang tak mudah dihilangkan. Aura senioritas mungkin akan masih terasa kentara. Bisa jadi senior enggan dan juniornya segan. Namun, gap tersebut bisa diperkecil dengan meluruskan niat masing-masing ketika belajar.

So, ketika senior belajar pada junior, why not?

 

*Tulisan ini ditujukan lebih untuk mengingatkan diri sendiri, tapi semoga bermanfaat juga bagi para pembaca yang budiman.

 

[1] Health.detik.com (2016, 22 April). Makin Tua Otak Makin Susah Diajak Belajar, Ini Sebabnya. Diakses 10 Agustus 2022 pada https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-3194755/makin-tua-otak-makin-susah-diajak-belajar-ini-sebabnya

Komentar

Tinggalkan Balasan