oleh

Langia dari Surga

-Terbaru-Telah Dibaca : 28 Orang

Namanya Zhia, kini berusia 6 tahun, secara fisik Zhia seperti tumbuh seperti anak biasanya, normal, tetapi sebagai seorang Ibu, aku tidak memungkiri bahwa Zhia memang berbeda ketika Zhia berumur 6 bulan, sorot matanya, ya sorot matanya itu tidak seperti bayi biasanya, mengijak usia satu tahun, kembali peristiwa itu terjadi lagi ketika tetanggaku berkata”Kamu dulu waktu Zhia kecil tidak salah meletakkan cahaya kan, Ran? itu bayi klo berada diruangan yang salah meletakan cahaya jadi kayak gitu lho Ran, jangan dibiasakan lagi kenapa Ran, atau kamu periksakan ke dokter mata lah Zhia, biar klo ada sesuatu, cepat dilakukankan tindakan” ucap Ibu Siska yang main kerumahku sambil memberi sepiring makanan.

Hati ini begitu sesak rasanya melihat keadaan Zhia, bayiku, mutiara kecilku, ada apa kamu Nak? Terkadang kucoba menghibur hati dengan jawaban dan sugesti yang aku buat sendiri, bahwa Zhia akan tumbuh seperi anak lainnya, pengelihatan Zhia akan baik- baik saja, Zhia akan dapat melihat dunia, Zhia akan bisa melihat ayah dan bundanya.

“Mas, jangan diam gitu lah, kita ambil tindakan untuk Zhia, kapan Mas bisa antar kami konsultasi ke dokter?tanyaku ada Mas Ilham yang sedang istirahat sambil menggendong Zhia.

“Zhia sakit apa sih Bu? Aku tidak melihat sesuatu yang aneh dengan Zhia, dia bayi seperti umumnya kan? memang di usia Zhia sekarang Zhia hanya bisa menangis kan Bu?”ucap Mas Ilham tenan

Aku terdiam mendengar pertanyaan Mas Ilham, memang betul ketika Mas Ilham berangkat mengajar ke sekolah Zhia sedang tidur, Mas Ilham pulang dari mengajar pun, Zhia sedang tidur lagi. Jarang sekali Mas Ilham melihat Zhia ketika bangun atau melihat aku memandikan Zhia.

“Mas?”tanyaku lirih pada Mas Ilham, karena Zhia juga sedang tertidur pulas

“Aku sedang memikirkan bahwa apakah keadaan Zhia sekarang karena kita dulu melakukan Langia ya Mas?” Aku melanjutkan pertanyaanku dengan beban berat yang aku rasakan karena memang dulu, aku dan Mas Ilham sempat bertengkar hebat ketika akan melakukan Langia, aku terus terang saja menolak habis-habisan ketika akan melakukan Langia, beberapa kali tetangga dan keluarga kami menyarankan untuk melakukan Langia, tetapi aku menolaknya karena sebelumnya aku tidak tahu Langia itu apa, pikiranku sudah bercampur aduk antara mau dan tidak untuk melakukan Langia, disatu sisi usia pernikahan kami yang sudah lama dan belum juga diberi keturunan, aku sangat merindukan tangisan bayi dirumah ini, aku ingin jadi ibu yang sesungguhnya, tetapi ada keraguan di hati ini tentang ritual langia yang akan kami jalani.

 

Aktivitas melamunku terhenti ketika Zhia bangun dan menagis, aku menggantikan pakaian Zhia karena Zhia buang air kecil dan dilanjutkan memberikan Zhia Asi.

Mas Ilham lalu pergi meninggalkan aku dan Zhia yang ada di dalam kamar. Aku fokus dengan Zhia dan tentu saja aku belum mendapatkan jawaban dari Mas Ilham atas pertanyaanku tadi.

Betulkan Zhia seperti ini karena kami melakukan Langia?
Sakit apakah yang di derita putri kami Zhia?

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed