oleh

Suaka Margakata-Benny Arnas

-Literasi-Telah Dibaca : 356 Orang

       
Suaka Margakata

Keluarga Arkais dalam Suaka Benny Arnas

Oleh: Erry Yulia Siahaan

Benny Arnas (Wikipedia)

Agak sulit menemukan penggunaan kata-kata arkais dalam tulisan di masa sekarang. Dulu, keluaga kata ini banyak mengisi ruang literasi hikayat. Pada zaman ini, penggunaannya terbilang nyenyai (jarang). Bersyukur bahwa kita masih bisa menemukannya dalam karya sejumlah pegiat sastra di Tanah Air. Antara lain Benny Arnas.

Kata arkais (dari Bahasa Yunani) adalah kata yang sudah kuno alias jarang dipakai lagi pada masa ini. Kita mengenal istilah arkaisme sebagai sesuatu yang sudah lama dan tidak digunakan lagi. Juga arkeologi sebagai ilmu kepurbakalaan yang mempelajari kebudayaan (manusia) masa lalu melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditinggalkan. Baca selengkapnya di sini.

Benny Arnas adalah salah satu dari hanya sedikit penulis yang memberikan suaka pada keluarga kata arkais. Pria kelahiran Lubuklinggau, 8 Mei 1983 ini dikenal sebagai penulis, sutradara, produser, dan novelis. Karya-karyanya banyak mengisi laman publikasi di Horison, Jawa Pos, Kompas, Media Indonesia, Republika, Tempo, dan lain-lain. Novelnya yang berjudul Cinta Menggerakkan Segala telah difilmkan lewat 212 The Power of Love.

Dia dikenal sebagai penggerak literasi di Lubuklinggau. Pada 2012, dia mendirikan lembaga kebudayaan dan menginisiasi Lubuklinggau Writing Festival, Lubuklinggau Short Movie Festival, Bennyinstitute Writing Class, Bennyinstitute Acting Class, Bennyinstitute Goes to School. Dia memenangi berbagai lomba, seperti menjadi Sastrawan Terpilih dalam Cultural Activist to New Zealand (2016) dengan menghasilkan 21 catatan perjalanan yang diterbitkan di Harian Berita Pagi (sepanjang 2017) dan terangkum dalam bunga rampai tulisan dwibahasa Semua Burung Berjalan Kaki di Auckland/The Birds Walking in Auckland; Sastrawan Terpilih dalam Program Direktorat Kesenian Seniman Mengajar (2017) dan melahirkan buku Panca Mukti Setelah Petang (bennyinstitute-Kemdikbud, 2017); Sastrawan Terpilih  dalam Program Badan Bahasa Sastrawan Berkarya di Wilayah 3T; Seram Bagian Barat (2018) dan melahirkan buku catatan perjalanan Berburu Suami (Badan Bahasa, 2018).

Benny Arnas menyukai petualangan, bertemu orang baru, procoffeenated, dan mewajibkan dirinya menulis setidaknya satu esai tiap harinya. Contoh karya tulisnya (merujuk Wikipedia) adalah:

  • 2018 – Buku puisi Hujan Turun dari Bawah
  • 2018 – Catatan perjalanan Bercerita dari Piru
  • 2018 – Novel Cinta Menggerakkan Segala
  • 2017 – Naskah llakon Panca Mukti Setelah Petang
  • 2017 – Kumcer Sejumlah Alasan Mengapa Tiap Anak Sebaiknya Melahirkan Seorang Ibu
  • 2017 – Novel Curriculum Vitae
  • 2016 – Nove Kepunan
  • 2016 – Kumpulan puisi Lidah Mertua
  • 2016 – The Old Man’s Flower Garde
  • 2016 – Naskah lakon To Love Dayang Tari
  • 2016 – Naskah lakon Bila Mencintai Dayang Putri
  • 2016 – Novel biografi Terbang Perlahan Hingga Seberang
  • 2015 – Kumcer Eric Stockholm & Perselingkuhan Perselingkuhan Lain
  • 2015 – Novel Tanjung Luka
  • 2015 – Bunga rampai esai Cinta Paling Setia
  • 2015 – Buku puisi Terindak
  • 2014 – Kumcer Cinta Tak Pernah Tua
  • 2014 – Novel Bersetia
  • 2014 – Novel Biografi Parigan
  • 2011 – Kumcer Jatuh dari Cinta
  • 2010 – Kumcer Bulan Celurit Api
  • 2009 – Kumcer Meminang Fatimah
  •  Telahmenulis 175 cerpen, esai, puisi, dan catatan perjalanan yang tersebar di Kompas, Koran Tempo, Republika, Media Indonesia, Jawa Pos, Suara Pembaruan, Suara Merdeka, Lampung Post, Padang Ekspress, Koran Jakarta, Berita Pagi, Sumatera Ekspress, dll. (Kliping karya-karya di atas dapat dilacak di portal media bersangkutan atau portal sastra lakonhidup.com, tukangkliping.com, sriti.com, galerikaryaflp.blogspot.com, lampungpost.com, dll.)

Benny Arnas (Wikipedia)

Contoh kata arkais dalam karya Benny Arnas bisa ditemukan pada puisi Kembang Putih di Atas Perahu (dimuat pada situs sastra-indonesia.com  pada September 2011).

Kembang Putih di Atas Perahu

Kularung ibu di samudera yang meliuk di taman tanpa tiang
Ia hanya mengembara
dengan biduk pelepah air mata,
dengan sauh yang membuat laut berkibar dalam
belanga yang berperigi gunung-gunung

Ia tidak akan pergi ke mana-mana
bila kita tak tumbuh dari akar-akar melur
yang merambat di antara mulut-mulut kecubung;
kelopak-kelopak rindu adalah saputangan paling halus
mengalahkan sutra dan telapak kaki bidadari

Percuma mencegahnya membuka pintu karena nasihat
yang saban malam kita curi adalah katup jantungnya
yang mengayuh degupan sekencang badai
yang mengumpar bersama mantera-mantera

Maka, berkhidmatlah dengan sejumlah dosa
karena malam akan menyungkup kesedihan
yang menggunduk di dada yang makin hari makin
menyuburkan dua bukit yang sejak dulu memberi kita
air mata berwarna pejuh;
kita hisap dan lumat lamat-lamat;
lalu kau menyeruak dari akar;
aku pun mekar dan melebar;
menjadi perahu

Kulambaikan tangan pada langit yang berbuih
Kami terlampau malu menjadi benalu
yang merambat dan menggigit perdu-perdu
yang kelak menjadi sauh di dalam perut kami
Dan sauh itu, selalu kami berikan kepada
pohon-pohon yang menumbuhkan kembang,
kembang putih yang kayunya kami tebang
kami rakit menjadi perahu

(Lubuklinggau, 2011)

Kata “Kularung” pada bait pertama berakar pada kata arkais “larung” yang artinya (menurut situs Kamus Besar Bahasa Indonesia) menghanyutkan, membiarkan hanyut. Lalu, ada “berperigi” yang berarti sumur, sumber (air).

Pada bait kedua kita bisa menemukan kata “melur”, bait ketiga “mengumpar”, bait keempat “menyungkup”, “menggunduk”, dan “pejuh”. “Melur” berarti bunga melur; melati susun; mendur, atau pohon yang kayunya tidak begitu awet, berwarna cokelat pucat, digunakan sebagai bahan dalam industri kerajinan tangan, alat-alat tulis, peti, dan sebagainya; Durydium elatum.

Kata “mengumpar” berakar pada kata “kumpar”. “Mengumpar” berarti menggulung (benang dan sebagainya) pada gelendong. “Menyungkup” (dari kata “sungkup”) berarti menutup dengan sungkup, yakni barang yang berongga di dalamnya, dipakai untuk menutup dengan jalan ditelungkupkan (seperti tudung saji). Untuk kata “menggunduk”, mungkinkah yaang dimaksud oleh Benny Arnas adalah “menggunduk” dari kata “gunduk” yang berarti tumpuk kecil (tanah, sampah, daging, dsb)? Sedangkan untuk “pejuh” (menurut situs brainly.co.id dan sumber online lainnya) adalah kata pengganti untuk air mani (dalam Bahasa Jawa) atau sel dari sistem reproduksi laki-laki.

Memang Benny Arnas tidak selalu memasukkan kata-kata arkais dalam tulisannya. Misalnya, ketika dia membuat ulasan sastra, seperti pada esai Stereotipikal Laskar Pelangi yang dimuat pada Lampung Post pada 28 Juli 2013. Kendati demikian, Benny Arnas telah memberi ruang proteksi untuk kata-kata arkais. Sungguh menginspirasi. ***

#Lomba Blog PGRI Bulan Februari 2021

#Hari ke-2, Selasa, 2 Februari 2021

Komentar

Tinggalkan Balasan

1 komentar

News Feed