oleh

Konsep Sehat Sakit

-Kesehatan, Mahasiswa, Peristiwa-Telah Dibaca : 641 Orang

TERBEBAS DARI INFEKSI COVID-19

Saat ini ada begitu banyak forum dan media yang berupaya untuk menginformasikan kepada khalayak, hal ihkwal virus corona dari berbagai narasumber, dari A sampai Z, termasuk gejala-gejala orang yang terinfeksi covid-19. Berkait dengan gejala, sebagaimana kita tau,memang ada yang tanpa gejala, ada yang bergejala ringan dan ada pula yang bergejala berat. Terkait dengan yang bergejala, sejumlah sumber menuturkan bahwa orang terpapar virus corona memiliki gejala umum a, b, c dan seterusnya. Informsi tentang gejala itu melekat menjadi pengetahuan yang ”merumus”. Jika a, b, c itu terpapar virus corona. Jika tidak a, b, c tidak terinfeksi covid-19. Sehingga ada yang sebenarnya terinfeksi, tapi karena tidak merasakan gejala a, b dan c, merasa dirinya tidak terinfeksi. Dengan demikian dipastikan antisipasi bisa terlambat dan berakibat fatal, baik dari sisi kesehatan person per person maupun kesehatan masyarakat.

Berdasarkan pengalaman, sharing dengan sesama penderita serta diskusi kecil dengan praktisi medis yang punya pengalaman merawat penderita covid-19, bahwa antara penderita yang satu dan yang lainnya, memiliki dan merasakan gejala yang berbeda-beda, atau tepatnya tidak selalu sama. Bisa jadi hal ini karena setiap orang memiliki kondisi dan daya tahan serta kelemahan masing-masing dalam tubuhnya. Dalam situasi yang masih sangat dinamis ini, berkait dengan gejala, rujukan yang paling valid, adalah kepekaan terhadap tubuh sendiri.  Artinnya ketika ada gejala “aneh” dalam tubuh kita, pada situasi semacam ini, sebaiknya langsung mencari rujukan “teknis medis” terkait dengan covid-19, untuk berupaya mendeteksi secara awal. Sehingga antara iya dan tidak segera diketahui secara dini. Katakanlah iyapun segera ada “treatment” yang tepat. Sekali lagi, karena ternyata, antara penderita yang satu dengan yang lainnya memiliki gejala yang tidak selalu sama. Kemudian berkait dengan orang-orang yang memiliki keterbatasan, sepertihalnya anak-anak, jompo dan sebagainya, peran orang-orang terdekatnya menjadi sangat menentukan, untuk membantu mengguide pada situasi-situasi tertentu.

Bangun pagi hari Jumat tanggal 11 November 2020, badanku terasa”aneh”. Lungkrah, tulang-tulang dan persendian terasa tidak nyaman (sakit) semua. Peristilahan yang lazim tidak enak badan.

Hari itu walau agak terlambat, saya masuk kerja biasa, tapi tidak bisa sampai jam pulang, karena badan sungguh-sungguh tidak bisa diajak kompromi. Hari berikutnya Sabtu tanggal 12 November 2020, badan terasa bersahabat (walau tidak Fit), saya masuk kerja biasa. Tapi entah kenapa hari itu sepanjang waktu kerja, saya memutuskan untuk tidak keluar dari ruang kerja. Kebetulan saya menempati satu ruang sendirian. Hari Minggu tanggal 15 November 2020 sepanjang hari aku berbaring, karena kembali tidak enak badan. Bahkan malamnya tidak sekejappun saya bisa memejamkan mata. Hari Senin anggal 16 November 2020 saya pergi ke salah sebuah rumah sakit langganan untuk periksa dokter. Diperiksa, tensi saya tinggi sekali 155/115. Ini yang membuat saya tidak bisa tidur, pikir saya. Dikasih obat penurun tensi dan sejumlah obat yang lain. Hari Senin dan Selasa tanggal 16 dan 17 November 2020 saya istirahat dirumah, dengan mengambil kamar terpisah dari yang lain.

Hari Rabu tanggal 18 November 2020 saya masuk kerja, tapi hanya setengah hari dan juga hampir tidak keluar ruangan. Hari Rabu itu, sesampai dirumah, badan terasa semakin tidak karuh-karuhan ditambah sama sekali tidak ada selera makan. Padahal dalam keseharian di mulut saya, makanan hanya terasa enak atau enak sekali. Tapi pada saat itu, mulut kemasukan makanan seperti tertusuk-tusuk jarum. Bau bumbu masakan menjadi siksaan luar biasa.

Pada Hari Rabu Sore itu, badan saya mulai demam dan batuk. Kemudian saya memutuskan ke rumah sakit lagi untuk periksa. Saya minta cek laborat (tapi belum kepikiran rapid test, dan disinilah rupanya letak kebodohan saya). Hasilnya semua baik. Bahkan trigliserida saya yang biasanya relatif tinggi, saat itu diangka normal.  Saturasi oksigen saat itu juga (masih) normal.

Dokter menambah beberapa obat seperti obat batuk dan penurun panas serta beberapa vitamin. Saya masih sangat optimis dengan obat tambahan, kondisi akan menjadi baik kembali.

Tapi apa yang terjadi, kondisi semakin tidak nyaman. Menurunnya nafsu makan mencapai titik nadir. Praktis saya hanya kemasukan air minum dan sedkit sekali buah. Sepanjang hari dan malam tidak bisa memejamkan mata sama sekali. Intensitas batuk semakin tinggi. Suhu tubuh stabil diseputar angka 38. Pergerakan semakin terbatas, karena bergerak sedikit saja, langsung batuk hebat.

Ternyata Reaktif

Karena kondisi tidak semakin membaik hari Jumat siang tanggal 20 November 2020, memutuskan untuk ke rumah sakit lagi. Masih di rumah sakit yang sama. Periksa kali ini ketemu dokter yang berbeda dari periksa sebelumya. Melihat hasil laboratorium, sekalipun deviasi angkanya tidak (belum) terlalu signifikan, ada kecurigaan ketidakberesan diparu-paru saya. Kemudian untuk memastikan semuanya, saya rapid test anti body dan ternyata hasilnya reaktif.

Karena rumah sakit yang saya datangi ini bukan rumah sakit rujukan covid, dokter mengadvis banyak hal, langkah yang harus saya tempuh.

Setelah menarik nafas sejenak, saya berusaha mengontak beberapa sahabat dan personal satgas penanganan covid-19, di tempat saya tinggal. “Kamu tetap tenang, istirahat di rumah sambil kita tata penanganan berikutnya” begitu kata beberapa teman yang duduk di satgas. Malam itu juga, saya menerima jadwal bahwa pagi harinya, Sabtu, tanggal 21 November 2020 swab PCR di Puskesmas terdekat. Sesudah swab saya diadvis dokter untuk isolasi di rumah sambil melanjutkan obat yang saya dapatkan sebelumya.

Jujur ada kegelisahan dan ketegangan tersendiri menunggu hasil swab orang-orang ini. Ada bayangan muncul dipikiranku, bagaimana kalau orang-orang itu terinfeksi. Saya membayangkan betapa jika orang-orang itu harus menjalani proses penyembuhan seperti yang saya jalani, yang begitu sakit dan melelahkan. Dan saya pula yang menjadi faktor penularnya. Ada keluarga, ada sahabat, ada teman kerja. Sungguh ini menjadi beban tersendiri.  Dalam pikiran berkelebatan, karena jika positif, ada potensi “beranak pinak”. Jujur ada perasaan bersalah dalam diri saya. Sungguh ini agak mengganggu proses penyembuhan yang sedang saya jalani.

Walaupun pada akhirnya menjadi lega, ketika satu per satu hasil swab kontak erat keluar dan terkonfirmasi negatif covid. Dan senang pula ketika mendengar kabar saudara dan teman-teman mulai beraktivitas normal kembali, sekalipun saya masih menjalani isolasi di rumah.

Akhirnya Sembuh

Setelah melalui proses yang menegangkan, jalan berliku dan segenap dinamika, akhirnya saya diberi kemurahan Tuhan, dikarunia “kehidupan kedua”, sembuh dari infeksi covid-19. Tidak ada ungkapan lain kecuali bersyukur dan berterimakasih atas kemurahan Tuhan. Bukan bermaksud untuk mendramatisir, tapi dikala pada puncak derita rasa sakit, sepertinya segala sesuatunya sudah sampai pada batas akhir. Saya tidak tau, apakah itu sebuah imajinasi liar dibawah “tekanan” virus yang luar biasa atau puncak dari rasa takut. Dan saya juga tidak tau apakah itu wajar atau tidak. Tapi itu yang saya alami dan saya rasakan.

Walaupun kemudian yang terjadi, kulminasi dari rasa itu, menjadi titik balik sebuah optimisme “SAYA  HARUS SEMBUH”. Optimisme itu bukan sebuah arogansi di hadapan Sang Penguasa Kehidupan. Karena optimisme itu muncul dibalik ketertundukan dan sikap berserah kepada yang maha kuasa, setelah dijembatani sebuah kesadaran terhadap sebuah penegasan ulang, entah yang keberapa juta kalinya, bahwa sejatinya manusia itu sangat lemah dihadapan alam

Komentar

Tinggalkan Balasan