oleh

Menyelami Kehidupan Petani

Kegiatan hari ini di awali dengan pergi ke kebun semangka, kegiatan baru suamiku sejak satu bulan yang lalu. Awalnya menanam sangka untuk dipersiapkan saat bulan ramadhan namun karna padatnya kegiatan suami sebagai Babinsa di Desa tempat ia tugas maka kegiatan tersebut baru bisa terealisasi bulan Maret lalu.
Sebelum ke kebun aku yang sedari tadi tidak tidur selepas sahur menyelesaikan beberapa aktifitas menulisku. Tidak ada aktifitas lain hari ini sebab masih dalam keadaan libur menyambut puasa yang di mulai pada hari Senin tanggal 12 April 2021 hingga Senin tanggal 19 April 2021. Dan mulai masuk sekolah lagi pada hari Selasa. Libur yang lumayan panjang juga.
Suami yang hanya tertidur sekitaran 15 menitan segera bangun dan membersihkan dirinya. Kemudian kebelakang melihat ternak ayam serta bebek yang sudah memanggil-manggil untuk segera diberi makan. Kegiatan tersebut telah menjadi rutinitasnya setiap pagi semenjak 6 bulan terakhir ini.
Si sulung juga bangun serta membersihkan dirinya sebab kuliah akan segera di mulai tepat pukul 08.00 WIB. Kuliahnya yang dilakukan secara daring membuat saya terbantu dalam hal apapun. Dari mulai mencuci dan menggosok pakaian ia lakukan, sehingga aku tak pernah direpotkan dengan aktifitas tersebut
Suzuki merah sang sepeda motor selalu setia menemani kemanapun pergi, kali ini ia akan mengantarkan kami ke kebun semangka yang letaknya tidak sebarapa jauh dari rumah. Butuh kecepatan 30 km/jam untuk sampai ke sana. Kira-kira 10 menit sampailah saya ke tempat yang di tuju meskipun belum sampai ke kebun semangkanya. Untuk mencapainya ke kebun tersebut kami harus berjalan menyusuri jalan di pematang sawah.
Hamparan sawah terlihat indah di hadapan mataku, sungguh luar biasa ciptaan tuhan. Seperti hamparan permadani yang luas dan lebar membentang ingin rasanya menjatuhkan diri ke sana. Tapi manalah mungkin pikirku hihi. Kan itu hanyalah sawah yang menghijau kalau aku rebahkan diriku di sana berabe donk, bukannya mendapatkan kenyaman namun berpeluh lumpur yang ada.
Manapaki jalan menuju area kebun semangka aku melewati petakan-petakan sawah yang menghijau. Sesekali aku melihat kodok yang sembunyi di balik-balik tumbuhan padi. Air mengalir di antara alur-alur yang di buat petani untuk mengaliri sawahnya. Suara burung yang berkicau indah menemani sepanjang jalan menuju kebun semangka yang jauh di sudut perkampungan. Kebun semangka itu memang agak jauh dari bibir jalan. Namun aku bersyukur dengan keadaan itu, sebab aku bisa melihat banyak hal dan menikmati indahnya hamparan hijau sawah yang terbentang luas.
Kami tidak hanya berdua, si bungsu juga ikut menemani kami. Ia terbangun pada saat kami heboh-heboh akan pergi ke kebun semangka. Dia tak mau ketinggalan dan lantas segara saja aku mandikan dia dan membereskan bekal makanan khusus untuknya. Si bungsu yang sangat aktif dan super lincah tak membuatku urung mengajaknya. Meskipun nanti di sana ia akan membuat kekacauan, biarlah kupikir. Agar ini menjadi sebuah pendidikan bertema alam untuknya.
Sebuah kegiatan yang didasari oleh sebuah kenyataan tanpa ada rekayasa. Ada banyak hal yang bisa dilihatnya mulai dari sawah, padi, burung, katak, bahkan cacing, capung dan lainnya. Meskipun aku bakal kerepotan karena ulahnya nanti. Semua itu akan aku abaikan demi ilmu yang akan di dapatnya di sana, pikirku.
Suami mamanggulnya dan aku yang membawa cangkul serta tas bekal makanan si bungsu..
Hatinya begitu gembira manakala ia melihat burung-burung terbang rendah di antara pepohonan. Kicaunya membuatnya berteriak mengikuti suara indah tersebut. Matanya yang polos berbinar-binar memacarkan kebahagiaan. Dalam hati ku aku sangat bersyukur bisa memberinya kebahagian seperti itu. Semoga dengan demikian ia bisa menjadi anak yang memiliki karakter baik nantinya.
Akhirnya sampai juga di kebun semangka. Suami langsung menurunkan si bungsu dan mulai berkeliling melihat keadaan kebun. Alhamdulillah sudah mulai tampak tumbuh benih-benih yang di tanam 2 hari yang lalu. Meskipun belum semuanya tumbuh namun sudah membuatnya cukup bahagia. Suami mulai mengambil cangkulnya dan memacul membentuk bedengan baru. Bukan untuk menanam sangka namun untuk menanam kangkung. Salah satu request ku padanya sebab kami sangat menyukai sayur tersebut.
Si bungsu yang lincah mulai ikut serta bergelut dengan lumpur-lumpur ia mengumpulkan cacing-cacing yang terlihat. Ia suka sekali dengan cacing, katanya kalau cacing baik tidak suka menggigit. Aku sebenarnya geli dan sedikit merinding jika melihat cacing. Terpaksa berpura-pura tersenyum sebab ada pendidikan di sana. Kalau aku takut maka anakku pasti takut juga. Aku tidak mau anakku takut oleh cacing seperti aku ini. Makanya aku tak membantu suami menanam karena itu tadi takut akan cacing hehe. Biarlah aku menanti suami menanam agar dia semangat dan merasa senang. Suami tahu aku tak berani dengan cacing makanya ia tidak memaksaku untuk membantunya menanam.
Adek Alfa bermain di kebun semangka
Adek Alfa bermain di kebun semangka
Setelah beberapa saat, aku memanggil si bungsu untuk makan, soalnya sejak ia bangun pagi sebutir nasi belum masuk ke tubuhnya, ia hanya minum teh saja.
Aku kemudian membersihkannya dari lumpur-lumpur yang berselemak di tangan dan kakinya dengan air bersih yang ada di sumur galian untuk penyiraman bibit. Barulah menyuruhnya untuk duduk agar ia selalu disiplin jika makan harus duduk tidak bolah berjalan kesana kemari. Meskipun terkadang ia tak sanggup untuk duduk berlama-lama di sampingku.
Adek Alfa bersiap Makan di Kebun Semangka
Adek Alfa bersiap Makan di Kebun Semangka
Adek Alfa
Adek Alfa
Makannya begitu lahap nasi yang ku bawa lumayan banyak di tambah sup daging kesukaannya, apalagi dalam sup tersebut ada sayur wortel, buncis dan tomat. Aku tak memasukkan kentang kedalam sup tersebut, persediaan kentang di kulkas habis saat aku hendak memasaknya kemarin. Tapi itu tak mengurangi kelezatan sup yang ku buat.
Sambil melihat semut yang berjalan di sela-sela tanah dengan membawa makanan. Ia mengunyah makanan yang aku suaokan padanya. Akupun bercerita kepadanya tentang semut yang berjalan tersebut.
“Semutnya juga makan, sama seperti Adek kan.” Terangku pada si bungsu.
Si bungsu merespon apa yang aku katakan dan ia pun bertanya kepadaku.
“Semut makannya apa ma?” Tanyanya polos
“Dia makan apa aja yang ada di sini, bisa daun, bisa butiran nasi yang Adek makan ini dan banyak lagi yang bisa di makannya.” Terangku padanya.
Ia spontang melepehkan nasi yang ada di mulut ya.
“Kenapa Adek buang makanan yang lagi Adek kunyah?” Tanyaku heran.
“Untuk semut ma.” Katanya lagi.
Aku begitu takjub mendengar yang di ucapkannya. Ada perasaan sayang yang terdapat di dalam dirinya untuk si semut, hingga ia melepehkan makanan yang sedang ia kunyah di dalam mulutnya. Seketika itu aku mencium kening si bungsu. Dan aku kemudian melanjutkan kembali menyuapi nasi untuknya sampai habis.
Setelah nasi habis, ia kemudian meminum air hangat yang sengaja aku bawa dari rumah, ada beberapa teguk ia meminumnya. Setelah itu kembali ia melakukan aktivitas bermain lumpur dan mencari cacing. Sambil sesekali memanggil ayahnya untuk diperlihatka cacing yang telah ia peroleh.
Aku terkejut ketika tiba-tiba ia menjerit, semut menyerangnya, spontan aku mengangkatnya dari tempat tersebut dan membersihkannya. Tangisnya memecah keheningan suasana kebun. Aku merasa iba melihatnya. Aku buka semua pakaiannya dan mengambil semut yang menggigitnya. Kemudian aku membersihkan tubuhnya dari lumpur-lumpur yang mengotorinya.
Waktu menunjukkan pukul 12.30 WIB. Suami menghentikan pekerjaannya menanam kangkung. Dan bergegas berberes-beres untuk segera pulang. Si bungsu mengadu kepadanya kalau ia di gigit semut ketika saat bermain. Dan suami tersenyum mendengar aduannya sembari memberi nasihat kepada si bungsu
“Besok Adek hati-hati ya kalau lagi main, jangan sampai keinjak rumah semut, nanti digigit seperti tadi.” Kata suami sambil mengusap-usap kepala si bungsu.
“Iya yah.” Jawab bungsu dengan nada sedih.
“Ayo kita pulang, hari sudah siang. Nanti solat juhurnya di rumah saja.” Kata suamiku dengan wajah gembiranya.
Kami pun pulang dengan perasaan senang dan meninggalkan kebun semangka dengan hati bahagia. Sebab telah melihat keadaan benih-benih semangka yang mulai tumbuh serta sempat menanam kangkung sebanyak 2 bendeng.
Inilah kisah ku hari ini, meresapi kegiatan sang petani, meskipun bukan aku yang langsung melakukan kegiatan bercocok tanam namun terlihat jelas bagaimana keadaan seorang petani dalam memenuhi kebutuhannya. Perjuangan petani yang luar biasa sebagai pahlawan pangan harus di acungi jempol.
Suami yang memiliki kegemaran bercocok tanam sangat memahami bagaimana jiwa seorang petani. Sungguh luar biasa. Penuh pengorbanan dan keuletan serta gigih pantang menyerah akan keadaan. Meskipun lelah mencangkul namun ada rasa bahagia ketika sesuatu yang ditanamnya tumbuh segar.
Hikmah yang lainnya adalah memberi kesempatan kepada anak untuk mengetahui bagaimana keadaan alam sekitar. Sehingga timbul rasa kasih sayang dari dalam dirinya untuk sesama makhluk ciptaannya serta menumbuhkan rasa syukur kepada tuhan yang telah menciptakan kita di dunia ini.
Semoga tulisan saya bisa memberikan keberkahan dalam berpikir. Salam literasi bagi seluruh pembaca. Akhir kata saya ucapkan terimakasih banyak kepada para pengunjung yang telah membaca tulisan saya ini. Lebih dan kurang dari tulisan saya mohon dimaafkan.
Wassalam

Tentang Penulis: Fitria Ratnawati

Seorang guru Sekolah Dasar di Daerah Gayo Lues Aceh. Lahir di Desa Batuphat Timur pada Tanggal 13 Desember 1981. Saya seorang penulis pemula. Buku-buku yang telah saya lahirkan adalah 1. Menjadi Orang Beruntung Buku ini menceritakan kisah-kisah yang mengispisari, 2. Kisah Kasih Dan Takdir Buku yang berisi kumpulan Puisi-puisi serta cerpen-cerpen. 3. Gayo Sang Pemikat Buku ini bercerita tentang kebudayaan, keindahan, serta makanan khas Daerah Gayo.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed