oleh

Era Post Truth dan Akibat Bagi Generasi Milenial

-Politik, Terbaru-Telah Dibaca : 116 Orang
Era kebohongan menjadi kebenaran (Post Truth) yang tersaji di dalam lingkungan Politik, tak hanya meresahkan masyarakat. Tapi, dampaknya sangat besar bagi ketidakpercayaan generasi milenial kepada pejabat publik.

 

 

Berbohong adalah hal yang tidak dibenarkan. Kecuali berbohong demi menyelamatkan sesama dari situasi dilematis. Bila kita berkaca dari sudut ajaran moral.

 

 

Misalnya, seorang teroris menyandera saudara kita. Tentunya kita berada pada situasi dilematis. Pertama, bila kita mengakui itu saudara kita, nyawa kita menjadi taruhan. Kedua, bila kita tidak mengakui hubungan sedarah dengan si korban. Tapi, konsekuensinya nyawa saudara kita tak bisa dilepaskan. Maka, kita akan mengambil opsi atau pilihan pertama, demi menyelamatkan saudara kita dari tangan teroris. Meskipun kita harus menanggung akibatnya.

 

 

Kisah tebar senyum yang disuguhkan di depan layar TV oleh para aktor politikus, belakangan ini menjadi beban moral bagi generasi milenial. Di sini terjadi distorsi pengaburan makna dari ruang publik.

 

 

Ruang publik sejatinya adalah wadah yang menghimpun aspirasi masyarakat dari setiap perwakilan di daerah nusantara. Tapi, apa yang terjadi di lapangan, jauh dari ekspektasi rakyat. Karena para perwakilan, bukannya memperjuangkan aspirasi rakyat setempat. Malah, mereka terjebak dengan perebutan kekuasaan yang terjadi di dalam lingkung partai mereka sendiri.

 

 

Berkaca dari sudut pandang generasi milenial, situasi ini sama sekali tidak memberikan value atau nilai yang bermanfaat bagi perkembangan karakter generasi sebagai tulang punggung bangsa ke depan. Apa yang dipelajari dari ruang politik dewasa ini? Apakah kebohongan yang dikemas menjadi sesuatu yang mutlak benar adanya?

 

Memang era post truth membawa kebenaran tercerabut dari akarnya. Yang dipertontonkan di dalam ruang publik hanyalah sebatas tebar pesona. Barangkali politik bangsa kita saat ini dan ke depan akan terus berputar pada kebohongan.

 

 

Sejatinya, politik pada zaman Yunani kuno itu adalah sebuah seni untuk mengatur kehidupan polis dari suatu bangsa. Seiring dengan perkembanagan zaman, seni berpolitik mulai tercerabut dari akarnya . Dampaknya terasa saat ini di dalam kehidupan politik bangsa kita.

 

 

Hari ini seorang politikus bermesraan dengan rekannya, esok dan lusa menjadi musuh bebuyutan dalam perebutan kekuasaan. Layaknya, Barcelona dan Real Madrid yang tidak pernah akur, dalam memperebutkan Piala Super Spanyol dan La Liga.

 

 

Sebagai pengamat politik amatiran, penulis merasa was-was, bila ke depan, generasi milenial mengikuti jejak kebohongan para politisi di dalam ruang publik dalam memimpin suatu wadah sosial.

 

 

Nah, sebagai jalan antisipasi, sebaiknya setiap elemen yang bergerak di bidang pendidikan harus melindungi generagi milenial dari politik tidak sehat bangsa saat ini. Caranya adalah menguatkan pendidikan karakter, menanamkan sikap kerjasama antar pribadi, dan memberikan pencerahan yang berorientasi pada nilai-nilai positif dalam kehidupan bersama.

 

 

Demikian spekulasi dan interpretasi dari seorang pengamat politik amatiran.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed