oleh

Tuhan Apa Yang Harus Saya Lakukan?

-Humaniora, Terbaru-Telah Dibaca : 194 Orang
Tuhan apa yang harus saya lakukan? Sumber gambar: Kapanlagi.com

 

Sobatku, setiap perjalanan pasti sudah direncanakan dengan matang oleh setiap orang. Tujuan dari perencanaan itu tak lain adalah untuk mengantisipasi hal-hal yang tak terduga selama perjalanan. Jika perjalanan kita mentok di jalur A, kita bisa memilih jalur B. begitu pun dengan jalur C, D dst.

 

Akan tetapi, apa yang akan terjadi, bila kita tidak memiliki perencanaan yang matang? Tentunya hal pertama yang kita alami adalah merasa bingung untuk melangkah, alias terjebak.

 

Dalam keadaan terjepit itu, apa yang musti kita lakukan? Pasrah ataupun memilih untuk kembali ke rumah, kampung halaman itu semua adalah pilihan bebas dari setiap individu.

 

Sebagai pendekatan kontekstual, saya akan mengisahkan perjalanan hidup rekan saya, sebut saja namanya John.

 

John adalah seorang anak petani yang memilih untuk melanjutkan pendidikan tinggi di kota Cogito. Ayah dan ibunya merasa keberatan untuk melepaskan kepergian John. Karena John masih belum memahami apa itu kehidupan yang sebenarnya.

 

Namun, bagaimana pun juga, John sudah memutuskan untuk pergi jauh dari kehidupan kampung halamannya. Orang tuanya pun tak bisa berbuat banyak hal untuk mencegah kepergian John.

 

Perjalalanan Sebagai Gudang Eksperimen

Hermat saya, John sudah menghabiskan dua tahun di tanah rantau. Di tahun kedua itulah ia merasakan kesulitan hidup bahwasanya dunia itu tak adil. Gegara usahanya bangkrut, utangnya menumpuk, beban batin pun semakin menggunung.

 

Lalu, ia mulai mengambil waktu dan duduk di bawah pohon beringin untuk sekadar mencari kesegaran spiritual dari hiruk-pikuk kehidupan yang tak bisa dipastikan dengan matang oleh siapa pun.

 

Selama enam bulan, ia merasa tenang. Karena ia menjalin hubungan intim dengan semesta. Semesta telah membuka pikiran John untuk kembali kepada realitas yang sebenarnya. Akan tetapi, John belum percaya diri untuk keluar dari zona nyamannya.

 

 

Di saat itu pun ia mulai bertanya; Tuhan apa yang musti saya lakukan? Pertanyaan sederhana ini memicu pertanyaan selanjutnya tentang eksistensi atau keberadaan Tuhan. Jika memang Tuhan itu ada, mengapa Ia memberikan cobaan ini kepada diriku? Celoteh John dalam batinnya.

 

Tuhan pun tak pernah menjawab pertanyaan John. Ya, karena Tuhan itu tidak ada! Atau dalam bahasa filsuf Friedrich Nietzsche adalah “Tuhan sudah mati.”

 

Mengapa Nietzsche berani mengatakan hal demikian? Karena kita sendiri yang membunuh Tuhan. Di mana kita membutuhkan Tuhan di kala ada susahnya. Tetapi, kita melupakan Tuhan, jika kita merasa baik-baik saja. Realitas inilah yang dialami oleh John.

 

Sobatku, meskipun kita sering kehilangan kontak dengan Tuhan. Tapi, Tuhan tidak pernah kehilang respek dengan keberadaan kita.

 

 

 

Akhirnya, pengalaman itu telah menyadarkan John untuk lebih menghargai kehidupan sebagai sesuatu yang sangat berharga. John pun memiliki keberanian untuk menatap kembali kehidupanya yang sempat hilang.

 

Dan itulah pengalaman subjektivitas (Inderawi) bukan pengalaman objektiivitas (saintifik) dari kehidupan John.

 

 

Jakarta, 27 September 2021

 

Tentang Penulis: Frederikus Suni

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara (Undira) Jakarta Lahir dan besar di Haumeni, Timor, NTT

Komentar

Tinggalkan Balasan

1 komentar

News Feed