oleh

Seminder dan Sesedih itu kah?

-Terbaru-Telah Dibaca : 195 Orang

Ada rasa minder disaat berkumpul dengan mereka. Didalam pikiran ada yang rasa berkecamuk. Dalam hati juga ada yang membuat rasa semakin minder dengan kedaan ini.

Bagaikan langit dan bumi, jarak yang sangat jauh. Ingin mendekatpun rasanya tidaklah mungkin. Selalu membawa diri untuk memgatakan tidak pantas dekat dengan mereka.

Itulah secuil curhatan seorang teman yang minder dengan keadaan ekonominya. Kebetulan Allah hadirkan orang yang dekat dengannya adalah orang yang memiliki harta yang lebih. Orang-orang yang dari gayanya saja sudah bisa ditebak kalau mereka adalah orang berada.

Sering air mata menemani hari-harinya, kadang diri inipun ikut mengeluarkan air mata disaat mendengarkan cerita-ceritanya.

Dalam hati aku bertanya “apakah seminder itu dirinya, hanya dikarenakan tidak memiliki apa-apa?”. Atau memang keadaannya yang membuat dirinya minder. Tekanan hidup yang keras sehingga membuat dirinya merasa minder? Ntah lah…

Disaat mencoba memberikan masukkan akan hakikat rezeki sesungguhnya maka berulang kali ia beristighfar dan menangis. Itulah momen yang sangat mengharu biru. Tak sanggup rasanya melihat seorang sahabat sampai sembab kedua matanya menangis hanya dikarenakan rasa mindernya.

Ya Allah… tentu ada hikmah besar yang sedang engkau siapkan untuk beliau ini. Tidak ada didunia ini yang luput dari pandanganMu. Hamba sebagai saksi betapa rasa minder yang beliau rasakan sangat membuat beliau tertekan.

Engkau maha tahu ya Allah… berilah iman yang kuat, berilah rezeki yang banyak, hadiahkan anak-anak yang sholeh-sholehah kepada beliau. Hapuslah air mata yang terus mengalir, hilangkan rasa mindernya dan selalu naungi senyum indah hadir di bibirnya. Aamiin ya rabbal’alamiin🤲

Jangan pernah tergoda dengan indahnya dunia. Tampak dimata akan selalu indah tapi siapa yang tahu dibalik itu semua. Jikalah kita tahu akan hakikat rezeki yang sebenarnya maka tidak akan ada rasa minder yang mampu mampir dalam hidup.

Jangan pernah mengira kalau rezeki hanya berupa uang dan harta. Terlalu picik rasanya jika kita berpikiran begitu. Rezeki itu banyak kadang yang kita miliki tidak dimiliki oleh orang lain.

Toh… mata berkedip pun adalah rezeki. Jangan lihat yang besar-besar. Tapi mulailah melihat apa yang telah diberi oleh Allah yang ada di sekujur tubuh kita. Jika hal kecil saja yang diberikan kepada kita dan dianggap tidak ada dan jarang mengucapkan syukur. Apalagi hal besar yang diberikan Allah. Akankah rasa syukur itu akan selalu ada?

Jangan pernah pesimis menjalani hidup, apalagi minder. Apapun kesedihan yang kau rasakan Allah akan balas dengan kebahagiaan. Sedih di dunia… tidak punya apa-apa di dunia… dijauhi orang karena miskin. Itu tidak seberapa jika dibandingkan kita miskin dalam segala hal di akhirat kelak. Itu pasti lebih menyedihkan dan menyakitkan.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan