oleh

Cerpen : Diary Cinta Monyet

-Cerpen, Fiksiana-Telah Dibaca : 591 Orang

Buku Harian bagiku adalah teman terdekatku, apalagi sebagai seorang pemuda pemalu yang tidak mampu berbagi kepada orang lain. Bahkan seorang sahabat baikku mengatakan bahwa aku bukan sekedar pemuda pemalu tapi malu-maluin. Saat sedang jatuh cinta hanya Buku Harian tempat curahan hatiku.  Sangat wajar sehingga hampir setiap hari aku selalu bercengkerama dengan Buku Harianku, Dear Diary.

*****

Senin 29 Februari

Dear Diary.

Aku sangat bahagia karena sebuah kecup lembut mendarat dipipiku “Selamat ber Ulang Tahun Hensa, ” sebuah ucapan indah dari orang-orang tercintaku. Di Ruang tengah  keluarga itu semuanya berkumpul. Semuanya tersenyum, tertawa ria. Semuanya senang. Semuanya riang. Semuanya bahagia. Semuanya menjabat tanganku penuh haru. Berbahagialah aku namun juga bersedihlah aku. Jatah usiaku untuk hidup telah berkurang satu tahun. Tak tahu apa sebenarnya yang telah aku lakukan selama ini. Benar benar aku lupa. Justru yang aku ingat aku belum pernah melakukan apa apa. Belum pernah berbuat apa apa terutama untuk kedua orang tuaku. Oh Tuhan. .

Diary. Ada hal yang istimewa ketika pulang Sekolah itu, Erika menghampiriku.

“Hensa, selamat ulang tahun ya!” kata gadis cantik yang aku kagumi itu sambil menyerahkan sebuah kado. Aku hanya gugup sambil menerima kado darinya. Hadiah ulang tahunku dari Erika sebuah Buku Harian berwarna hitam. Pada halaman pertama Erika menuliskan ucapan selamat ulang tahun sahabatku semoga selalu bahagia sepanjang hayat. Ah Erika aku sangat mengagumi kepribadianmu. Gadis yang aku kenal sejak SMP ini selalu saja membuat hatiku resah penuh dengan kerinduan. Namun kenapa hingga kini aku masih belum berani ‘menembak’ dia.

Dear Diary, bisakah kau menolongku. Aku kadang-kadang merasa tidak beruntung menjadi pemuda pemalu seperti ini. “Hensa! Ini sudah kelas XII sebentar lagi kamu jadi mahasiswa,” iya sih harusnya aku sudah mulai berani.

Selasa 1 Maret

Dear Diary. Mulai hari ini aku akan menuliskan semua curahan hatiku ini pada Buku Harian kado dari Erika. Gadis ini bagiku adalah seolah Matahari yang selalu setia menerangi hari-hariku dan membuat seisi bumi ini menjadi terang benderang. Matahari yang diciptakanNya untuk mahlukNya. Namun apakah Erika juga diciptakan untukku? Ah Diary, kamu bisa jawab pertanyaan ini nggak? Aku sungguh selalu merindukan Erika setiap saat. Menulis semua isi hati ini di Buku Harian kado dari Erika rasanya seperti juga mencurahkan isi hatiku kepadanya. Hai Diary, kapan aya aku berani mengatakan cintaku kepada Erika. Ah Diary tolonglah aku.

Rabu 2 Maret.

Ketika hari semasih pagi, kutemukan sebuah tentram dan sebuah damai. Aku sungguh bersyukur karena Allah telah berikan semua itu padaku. Aku tidak dapat berkata lebih banyak lagi di pagi hari karena aku sudah begitu banyak kehilangan kata-kata untuk melukiskan betapa damainya pagi ini. Seberkas sinar Mentari menerobos tirai jendela kamarku. Kembali aku harus teringat dan rindu tiada habisnya kepada Erika. Padahal nanti akan bertemu di Sekolah. Ya aku sering mendapat senyumnya saat aku melewati pintu kelasnya.

Diary apa yang harus aku lakukan. Benar kata teman-temanku bahwa Hensa ini pemalu dan bahkan tuh Si Robi malah bilang aku ini pengecut, bilang cinta saja sama Erika kok susah sekali. “Terlalu kamu Hen masa bilang cinta saja harus nunggu kelas XII. Erika keburu diambil orang. Kamu keduluan Boy baru nyaho, ” kata Roby, sobat dekatku. Atau malah apa kata Wina sahabat dekatnya Erika. Dia berkata :” Erika itu cinta kamu Hensa!”

“Ah masa iya apakah dia bilang begitu?”

“Enggak sih, tapi Erika sering membicarakan kamu. Hensa itu pemuda baik, pintar dan dia suka kamu karena kamu pemalu. Juga malu-maluin!”kata Wina sambil ketawa. Aku cuma nyengir.

“Terus mana kata cintanya Erika?”

“Hen..ah kamu itu terlalu deh. Masa sih kamu enggak bisa merasakan kalau kamu sedang ngobrol dengan Erika. Dia wajahnya berbinar penuh antusias. Ada pancaran kekaguman kepadamu. Aneh jika Hensa nggak bisa merasakan!” suara Wina. Aku hanya terdiam. Lalu Wina melanjutkan ocehannya “Ingat lho Hensa, ada cowok yang juga naksir Erika. Dia adalah Boy. Jangan sampai keduluan dia”

Dear Dairy. Benarkah demikian? Ngeri juga ya kalau Boy mendahuluiku. Terus gimana atuh?

Jumat 4 Maret

Pribadi yang kukuh kupandang di muka cermin dan kulihat wajah dengan sebuah sinar cerah memandang ke depan. Apa pula yang ikut terlintas dalam benakku kali ini?. Tidak hanya rindu tapi juga gugup dan lelah yang menanti saat duka duka berlalu minta diri. Wajah wajah lain bertemu sendu. Aku mencoba tersenyum menyentuh sapaannya. Hanya sejenak hatiku terbuka menyapa sepi menimang sunyi ketika tiba-tiba sapa lembut yang lain membangunkan aku dari kehampaan kata. Ada disana pribadi yang kukuh yang kupandang dari jauh dengan sebuah niskala. Dimanakah dia?. Diary. Begitulah kira-kira Erika dalam hatiku selalu ada namun tidak pernah kutemukan. Oh dimanakah dia. Mungkin saat cintaku padanya terucap, dia akan hadir. Benarkah? Ah Diary kenapa aku harus ragu.

Sabtu 5 Maret

Dear Diary. Ada rasa kecewa malam ini. Aku harus berhasil melepas lingkar yang menjerat leher maka bebas bebaslah diriku terbang lagi. Tak peduli awan pesonamu yang membumbung indah itu tak akan mampu meluluhkan karang hatiku. Oh Diary malam ini Erika bersama Boy. Cemburukan aku? Terpurukkah aku? Kecewakah aku? Lalu kepada siapa semua perasaan itu dilampiaskan? Itu semua hanya karena kebodohanku. Oh aku memang bodoh.

Di sini aku masih berusaha untuk berdiri tanpa bergeming. Tanpa apa apa. Di sini senyumku masih mengambang riang seperti semula. Di sini tawaku masih memekak dan halus menyentuh penuh gelak. Di sini, di sini aku berdiri masih seperti semula. Diary. Namun begitu sungguh aku harus termangu memikirkan kebodohanku.

Senin 7 Maret

Bertemu Erika pagi itu seperti biasa di depan pintu kelasnya. Seperti biasa gadis cantik ini tersenyum padaku. Aku tidak bisa mengelak untuk membalas senyumnya dan anehnya gundah malam tadi seolah sirna oleh senyum Erika. Biarlah Dear Diary. Memang aku biarkan senyum itu selalu singgah di hatiku. Hingga pada suatu saat aku menemukan diri sendiri. Tidak lagi diselimuti butir butir salju beku. Tidak lagi ditutupi lembar lembar angkuh. Aku telah kembali menemukan diriku dalam keadaan utuh. Namun kecewa malam Minggu itu tetap menghantuiku. Untungnya di Kantin Sekolah itu aku bertemu Wina.

“Win tahu enggak malam Minggu kemarin Erika bersama dengan Boy!”

“Nah lho. Keduluan kan!” kata Wina sambil tertawa.

“Wina apakah aku sudah tidak ada harapan?”

“Mangkanya kamu harus berani Hensa. Ok tenang saja nanti aku akan cerita pada Erika!”

“Lho cerita apa?”

“Ya cerita kalau kamu bertemu saat Erika dan Boy bersama-sama”

Rabu 9 Maret

Dear Diary. Perhatikan hari ini seputih salju, butir-butirnya berkilau memenuhi rongga dada. Ada senyum seorang gadis yang mencoba mengartikan bahwa hidup ini indah namun anehbya aku tetap dalam diamku yang panjang kendati ada senyum manis menyapaku. Diary apakah harapanku kepadaku sudah kandas? Seraut wajah yang di dalamnya kujumpai ketentraman dan ketenangan. Seraut wajah dengan telaga damai yang sulit diselami. Apakah wajah itu wajah cantik Erika?

Kamis 10 Maret

Dear Diary. Sebuah senyum menggulir dari sebuah bibir yang nampak letih lewat saja di sampingku. Lalu diakhiri dengan sebuah sapa dari sebuah bibir yang nampak letih lewat saja di sampingku. Oh oh apa yang terjadi?. Aku melangkah sumbang mencoba sedikit sedikit menjauhi hal yang belum pasti. Kulempar senyum kepada setiap orang yang kupapasi di jalan. Senyum yang mengartikan bahwa hidup ini tetap indah walaupun ada gundah di hati.

Dear Dairy. Sepagi ini aku tersenyum melepaskan himpitan jerat yang menikam. Sepagi ini aku menemukan diriku diselimuti keraguan. Namun menjelang siang kutemukan kepastian tanpa lagi bertabur teka teki. Hari ini akhirnya aku berjalan melenggang menikmati senja di ambang remang. Selamat tinggal kegundahan.

Dear Diary. Kini akhirnya perasaanku seputih salju. Menimang segala cita dan keyakinan. Sesungguhnya Tuhan Maha Besar Maha Segala. Adakah yang telah kuperbuat sehingga Kau dekat denganku?. Tuhan aku merindukanMu. Kadang-kadang aku menjadi malu karena saat-saat seperti ini aku baru ingat kepadaMu.

Sabtu 12 Maret

Hari ini ada sesuatu yang tak mampu aku ucapkan. Ada sesuatu yang tak pernah aku duga. Ada sesuatu yang tak pernah aku mengerti. Ada sesuatu yang tak pernah aku temukan sebelumnya. Ya Dear Diary, Erika mengajakku bertemu di Taman Sekolah Timur pada jam istirahat pertama.

“Hai Hensa!” suara Erika menyapaku yang sedari tadi sudah menunggu di Taman itu.

“Hai Rika” kataku. Gadis cantik ini dengan seragam putih abu-abu memiliki wajah yang teduh, senyum yang ramah. Tutur katanya tertata dengan bijak. Aku menyukai matanya yang tajam dan bening jika sedang tersenyum mata itupun ikut tersenyum. Cerdas, cantik dan ramah wah luar biasa. Siapa lelaki yang berhasil memiliki hatinya? Dialah yang paling bahagia dalam hidupnya.

“Hensa, kamu melamun ya?” suara Erika mengagetkanku.

“Oh enggak enggak eh iya ada apa nih Rika kita ketemuan di sini?” kataku gugup.

“Tidak ada apa-apa sih. Aku hanya ingin meluruskan kejadian malam Minggu kemarin. Wina sudah cerita!”

“Oh iya?”

“Hensa maafkan aku ya. Malam Minggu itu aku pergi sama Boy tapi percayalah Boy bukan pacarku” suara Erika menatapku sambil tersenyum. Aku hanya terpana terdiam.

“Rika sudahlah lupakan saja” kataku.

“Oh ya Hen. Pulang sekolah nanti boleh aku ikut gonceng motormu? Motorku masuk bengkel” pinta Erika. Aku menyanggupi permintaan gadis manis ini.

Dear Diary.

Hari ini adalah hari bahagia untukku. Betapa aku bertambah mencintanya. Andai kau tahu Erika. Sungguh wajah cantik itu ibarat telaga yang tenang pembawa tentram. Telaga itu begitu bening dan di tepiannya tumbuh pepohonan penyejuk rasa. Kadang kala burung burung terbang riang melintas di atasnya sementara angin semilir lewat di sisinya. Saat hari masih pagi maka telaga itu masih sunyi namun sebentar siang lihatlah akan banyak kumbang terbang menjelang.

Dear Diary. Kadang aku bertanya dari manakah aku memulai untuk mendaki?. Menelusuri bukit bukit terjal, menginjaki kerikil-kerikil tajam, menyingkirkan semak-semak belukar. Hingga kini aku masih juga bertanya dari manakah aku memulai harus mendaki?.Jiwaku kini menjelma dan aku sudah tak dapat lagi membiarkan diriku dirundung mendung. Saatnya ceria karena dunia ini indah. Erika adalah keindahan itu. Dear Diary. Andaikan dia tahu aku begitu mencintainya. Suatu hari aku akan mengatakan cintaku kepadanya.Ya suatu hari aku harus berani.

*****

Malam ini aku benar-benar merasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Buku Harianku tidak aku temukan dalam tas sekolahku. Aku mencoba mengingat barangkali saja aku lupa menyimpan. Semua laci meja, kolong tempat tidur, bawah bantal, lemari pakaian sampai rak buku sudah aku periksa. Tidak kutemukan. Dimanakah?  Buku Harian hadiah ulang tahun dari Erika itu benar-benar hilang entah kemana.

Pagi yang cerah seiring langkahku menuju Sekolah penuh dengan ceria karena aku tahu di sana akan ada senyum manis Erika menungguku di depan pintu kelasnya. Aku berjalan memasuki gerbang. Tiba-tiba terdengar ada suara memanggilku. Aku melihat Erika berlari menghampiriku.

“Selamat pagi Hensa!” sapa gadis cantik ini sambil tersenyum.

“Selamat pagi juga Rika” kataku masih merasakan begitu indah sapa dan senyumnya.

“Hen, maaf ini Buku Harianmu. Kemarin terjatuh saat kamu mengantarku pulang sekolah itu” kata Erika sambil kembali tersenyum penuh arti.

“Hah…!” aku terperangah sambil memegang buku harian itu. Rasanya wajahku pucat pasi karena rasa malu. Sudah pasti Erika membaca kalimat demi kalimat dalam buku harian itu.

“Hensa aku sudah membaca semuanya dan aku juga sudah menuliskan pesan melalui Dear Diary mu itu. Nanti baca ya!” kata Erika masih tersenyum bahagia lalu meninggalkanku sendiri. Akupun segera bergegas menuju kelasku. Pada jam pertama pelajaran hari itu aku sudah tidak bisa konsentrasi karena bolak balik membaca sebuah kalimat yang ditulis Erika di Buku Harianku yang membuat rasa bahagia tiada tara.

Dear Diary

Tolong sampaikan pesanku untuk Hensa. Aku juga sudah lama mencintainya sejak SMP dulu. Rinduku selalu untuknya. @Erika Amelia Mawardini. 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

1 komentar