oleh

Tidak Ada Ruang untuk Rasisme di Premier League

-Olahraga-Telah Dibaca : 785 Orang

Sejumlah pemain di klub Liga Premier telah menjadi sasaran perlakuan rasis dalam beberapa bulan terakhir ini.

Mereka adalah Anthony Martial dan Marcus Rashford dari Manchester United, Trent-Alexander Arnold dan Sadio Mane dari Liverpool, dan Reece James dari Chelsea.

BACA JUGA : Menurut Juergen Klopp, Liverpool Tidak Pantas Lolos ke Liga Champions

Perilaku netizen di medsos ini benar-benar sangat meresahkan. Pada bulan Februari lalu, badan sepak bola Inggris telah mengirim surat terbuka ke Facebook dan Twitter.

Sudah saatnya mendesak agar dilakukan pemblokiran dan penghapusan terhadap posting serangan rasial.

Demikian pula perlu dilakukan proses yang ketat oleh mereka dalam proses verifikasi yang lebih baik dan akurat untuk para pengguna medsos.

“Perilaku rasis dalam bentuk apa pun tidak dapat diterima dan pelecehan mengerikan yang kami lihat para pemain terima di platform media sosial tidak dapat dibiarkan berlanjut,” kata CEO Liga Premier Richard Masters dalam sebuah pernyataan seperti dilansir En.AS.com(25/4/21). 

Respon mereka adalah Instagram milik Facebook telah mengumumkan langkah-langkah baru dan Twitter berjanji untuk melanjutkan upayanya setelah mengambil tindakan terhadap lebih dari 700 kasus pelecehan rasial terkait sepak bola di Inggris pada 2019 yang lalu.

Berita paling panas akhir pekan ini adalah Klub Liga Premier, Liga Sepak Bola Inggris, dan Liga Super Wanita akan bergabung dalam boikot platform media sosial selama empat hari dalam upaya memerangi pelecehan rasial dan diskriminasi. 

Demikian pula  Asosiasi Sepak Bola, serta badan liga dan organisasi lain, termasuk badan amal anti diskriminasi Kick it Out, juga akan terlibat. Mereka semua akan melakukan aksi boikot pada 30 April 2021 hingga 3 Mei 2021.

Asosiasi Pesepakbola Profesional, yang mewakili para pemain, juga telah meminta raksasa medsos itu untuk bisa mencegah lebih jauh para pengguna mengirimkan istilah dan emoji yang rasis secara eksplisit.

Mereka akan mematikan akun Facebook, Twitter, dan Instagram mereka untuk menekankan bahwa perusahaan media sosial harus berbuat lebih banyak untuk memberantas kebencian online.

Bahkan Tim Championship, Birmingham City dan Swansea City serta juara Skotlandia Rangers baru-baru ini telah melakukan boikot selama seminggu menyusul serentetan serangan rasial terhadap pemain mereka.

Demikian pula Mantan striker Arsenal, Thierry Henry mengatakan bulan lalu bahwa dia menghapus dirinya dari media sosial karena rasisme dan penindasan.

Sementara kapten Liverpool, Jordan Henderson telah menyerahkan kendali atas akunnya ke sebuah badan amal anti-penindasan online dan pelecehan rasial.

David McGoldrick dari Sheffield United, yang mengalami pelecehan rasial tahun lalu , menyambut baik langkah tersebut, dengan mengatakan:

“Ini tentang waktu. Apa yang terjadi di media sosial, telah terjadi pada saya, terjadi pada banyak pemain. Sesuatu perlu terjadi, terlalu mudah untuk dilecehkan secara rasial di sana.” Katanya seperti dilansir BBC Sport (25/4/21).

Direktur kesetaraan dan keragaman Asosiasi Sepkbola Inggris,FA Edleen John menegaskan bahwa sepak bola Inggris tidak akan mentolerir diskriminasi dalam bentuk apapun.

Perlakuan rasis dan diskriminasi yang terjadi dalam dunia olah raga sebenarnya sudah berlangsung lama.

Namun entah kenapa selama itu pula tindakan nyata terhadap para pelaku rasis tersebut seperti tidak pernah dilakukan oleh pihak yang bertanggung jawab.

Walaupun Pemerintah Inggris sebelumnya juga mengancam perusahaan media sosial dengan “denda besar” yang bisa mencapai “miliaran pound” jika mereka gagal menangani penyalahgunaan di platform mereka.

Namun tetap saja kejadian pelecehan rasialis dan diskriminasi tetap saja terjadi. Tanpa ada solusi dan hukuman yang setimpal.

Boikot ini disambut dengan antusias oleh akun-akun dari klub sepakbola Inggris, seperti Chelsea, Manchester United, Liverpool, City dan semua klub Premier League.

Namun apakah boikot ini cukup efektif bisa menghentikan penyerangan rasial dan diskriminasi?  Pertanyaan ini perlu dijawab oleh waktu yang terus berjalan ke depan. Sudah saatnya “Tidak Ada Ruang Untuk Rasisme” bukan hanya sekedar slogan.

Komentar

Tinggalkan Balasan