oleh

Catatan Perjalanan Haji, Usai Wukuf Di Arafah

-Terbaru-Telah Dibaca : 140 Orang

Foto Mesjid Nabawi di Medinah (Foto Dok. Pribadi)

Arab Saudi adalah negara kaya raya sering juga disebut sebagai negara petro dolar. Faktanya memang demikian, negara minyak ini telah membuat rakyatnya makmur berlebihan.

Mobil mewah pribadi berseliweran di jalan raya bebas hambatan. Di sana mobil sedan menjadi kendaraan pribadi seperti halnya sepeda motor di Indonesia.

Kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota-kota lainnya, sepeda motor merupakan kendaraan rakyat.

Hal ini bisa disaksikan saat jam kerja pagi hari sepeda motor sudah menyemut memenuhi jalan raya menyelinap diantara kemcetan kota.

Lain halnya di Arab Saudi, sangat jarang atau tidak ditemui adanya sepeda motor di jalan raya kecuali sepeda motor petugas kepolisian.

Mekkah pada musim haji berubah menjadi kota yang benar-benar padat karena dua juta umat Islam seluruh dunia menuju ke sana untuk menunaikan rukun Islam ke lima ini.

Selain Mekkah ada tiga tempat lagi yang mendadak menjadi penuh dengan lautan manusia yaitu Arofah-Mudzdalifah dan Mina.

Terutama saat puncak ibadah haji yaitu wukuf di Arofah pada tanggal 9 Dzulhijah dan melempar jumroh aqobah pada tanggal 10 Dzulhijah.

Dua hari ini adalah saat dimana lautan manusia memenuhi Mina terutama tempat dimana para jamaah haji akan melempar jumroh aqobah di Jamarat.

Sejak setelah maghrib masuk 10 Dzulhijah para jamaah haji mulai bergerak dari Arofah menuju Mina dengan menggunakan Bus dan kereta api.

Mereka akan menempati maktab-maktab yang sudah ditentukan di Mina. Setelah istirahat beberapa saat termasuk sholat Magrib dan Isya serta makan malam, pada dini hari itu sudah banyak rombongan jamaah yang meninggalkan maktab.

Mereka  menuju Jamarat yaitu tempat dimana dilakukan ritual melempar jumroh aqobah. Waktu yang utama untuk melempar jumroh  aqobah ini adalah saat waktu duha atau sekitar pk 8-10 waktu setempat.

Namun banyak jemaah yang menghindari waktu tersebut karena saat itu dipastikan kepadatan jemaah yang akan melakukan lempar jumroh semakin banyak sehingga menimbulkan kehawatiran benturan dan berdesakan.

Bagi jemaah asal Indonesia situasi seperti itu harus dihindari karena mereka memiliki tubuh yang realatif kecil dibandingkan jamaah dari Timur Tengah, Afrika maupun Eropa.

Pagi itu kepadatan jamaah di Jamarat mengakibatkan juga kepadatan di daerah sekitar seperti Syisyah yang hanya 1 km dari Jamarat dan Mina.

Saat itu Al Hajj street, yaitu jalan yang menghubungkan arah menuju Masjidil haram mengalami kepadatan dan kemacetan yang luar biasa.

Pada hari itu para jamaah yang telah selesai melempar jumroh aqobah mulai bergerak menuju Masjidil Harom untuk melakukan thowaf Ifadoh.

Sementara sebagian Jamaah lainnya ada yang menunda thowaf ini dan kembali ke maktab masing-masing.

Kemacetan semakin parah saat hari semakin siang menjelang Dhuhur. Para jamaah yang melakukan lempar jumroh pada pagi hari terutama sebelum subuh, mereka masih bisa menggunakan jasa taksi namun dengan tarif yang selangit yaitu 100 sr, tarif normal antara 15-20 Sr.

Para sopir taksi mematok tarif tersebut karena memang banyak yang membutuhkan angkutannya menuju Masjidil harom.

Ketika kemacetan sudah parah di jalan-jalan menuju Mekkah (Masjidil harom), taksipun banyak yang menolak penumpang karena kemacetan tersebut.

Rupanya hal ini dimanfaatkan oleh para pengemudi ojek dadakan. Umumnya mereka adalah orang Bangladesh.

Sepeda motornya saja yang digunakan sebagai Ojek kondisinya seadanya. Ojek ini akhirnya banyak dicari juga oleh para Jamaah untuk menuju Masjidil Harom, walaupun mereka tidak bisa diturunkan di area terdekat Masjid hanya boleh masuk sekitar 1 km sebelum Masjid atau di sekitar Terminal Gaza/Syieb Amir.

Tawar menawar ongkos ojek saat kepadatan kota Makkah seperti itu ada pada kisaran 15-30 sr (Saat itu Kurs  1 Sr Rp 4000).

Padahal ongkos itu adalah tarif Taksi dari Syisyah atau Jamarat pada kondisi normal hanya 15 – 20 Sr saja.

Bagi para pengemudi Ojek dadakan yang umumnya orang-orang Bangladesh, hari itu memang hari panen bagi mereka. Satu hari mereka bisa mengantar rata-rata 5 orang jamaah.

Penghelatan haji selalu saja memberi manfaat bagi orang-orang kecil. Fenomena Ojek di Makkah ini menunjukkan bahwa moda transportasi ini bisa berada dimana-mana pada saat keadaan lalu lintas dalam keadaan darurat.

Di Indonesia kondisi lalu lintas kota-kota besar selalu dalam keadaan darurat karena kemacetan sudah merupakan rutinitas setiap hari.

Jika ada Ojek beroperasi adalah hal yang wajar dan masyarakat banyak yang tertolong dengan mode transportasi ini.

Demikian pula di Makkah. Bedanya ojek di sana hanya dadakan dan setelah musim haji berakhir mereka para sopir ojek itu kembali ke profesi mereka sebagai buruh atau tenaga proyek.

Salam Bahagia @hensa

*Catatan perjalanan Ibadah Haji Tahun 2015

Komentar

Tinggalkan Balasan

1 komentar

News Feed