oleh

Sehat Itu Memang Mahal tetapi Penting

Ilustrasi Foto by Pixabay

Selama ini yang selalu ada dalam pikiran kita adalah kesehatan itu sangat mahal. Fakta itu dibuktikan dengan merujuk pada seberapa besarnya biaya perawatan selama di Rumah Sakit.

Tidak semua orang menyadari pentingnya menjaga kesehatan sampai mereka sakit. Padahal, banyak kata-kata bijak yang mengungkapkan bahwa sehat itu mahal ketika sakit.

BACA JUGA : Membaca adalah Awal Penting dari Kegiatan Literasi

Biaya pembelian obat-obatan dan konsultasi medis kepada dokter ahli. Belum lagi jika Si Pasien harus mengalami tindakan medis seperti operasi, dapat dipastikan biaya-biaya tersebut semakin menggunung.

Ternyata memang untuk menjadi sehat itu sangat mahal. Tapi nanti dulu apakah mungkin ada bukti yang menunjukkan bahwa kesehatan itu tidak mahal.

Fakta diatas memberikan gambaran bahwa biaya kesehatan menjadi mahal ketika kita sudah mengalami sakit. Jadi yang mahal itu adalah sakitnya.

Jika sudah merasakan bahwa sakit itu mahal maka betapa pentingnya menjaga dan mempertahankan kesehatan. Menjadi impian setiap orang dalam hidup mereka adalah menikmati hidup sehat.

Program Jaminan Kesehatan Nasional adalah program terobosan yang cerdas dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang sehat. Apalagi saat ini kesadaran masyarakat semakin maju dalam menyikapi pentingnya hidup sehat.

Ibu saya saat sampai menginjak usia 80 tahun masih diberikan kesehatan dan relatif tidak pernah mengeluhkan masalah kesehatan beliau. Beliau wafat pada 1 Oktober 2015 dalam usia 80 tahun.

Ketika Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dimulai pada Januari 2014 maka Ibu, saya daftarkan menjadi Peserta melalui pendaftaran Online di web site BPJS yaitu BPJS Kesehatan.

Begitu pula saya, istri dan anak-anak menjadi peserta mandiri dari program tersebut. Saat itu pikiran saya sangat sederhana bahwa dalam menjalani usia tua dipastikan akan mengalami kendala-kendala masalah kesehatan.

Benar saja masalah kesehatan pada usia lanjut itu memang tidak bisa dihindari. Sebelum wafat, Ibu saya pernah mengeluhkan rasa sakit di bagian perut. Kejadian ini pada bulan September 2014 saat Ibu saya mendapat rujukan untuk dilakukan tindakan USG pada salah satu Laboratorium Klinik di Kota Bandung.

Hasil USG cukup serius karena ada benjolan pada Livernya pada lobus kanan dan kiri yang sedikit membengkak. Dokter ahli mengatakan di daerah lobus kanan medial interior tampak massa bulat oval dengan permukaan agak kasar.

Hasil diagnosa adalah adanya kesan Hepatomegali dengan hepatoma lobus kanan. Saat itu dokter menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan lebih detail dengan menggunakan CT Scan.

Saat itu dokter sempat berdiskusi bahwa kemungkinan untuk diantisipasi adanya gejala terkena virus hepatitis C. Gejala akhir dari infeksi virus ini adalah Liver yang mengalami sirosis. Demikian waktu itu dokter ahli menjelaskan kepada seluruh keluarga.

Akhirnya Ibu saya tidak bisa menghindari dari kenyataan walaupun sudah dilakukan upaya penyembuhan. Beliau harus menghadapi TakdirNya. Ini mungkin adalah jalan yang terbaik menurutNya dan tentu saja kami meyakini Takdir yang harus dihadapi Ibu.

Satu hal yang menjadi pengalaman berharga bagi kami adalah betapa pentingnya jaminan kesehatan. Awal tahun 2014 Ibu saya menjadi peserta BPJS Kesehatan dengan membayar iuran untuk kelas I waktu itu masih Rp 59.500 per bulan (Tahun 2020 naik menjadi Rp 150.000).

Belum setahun Beliau menjadi peserta namun fasilitas Jaminan Kesehatan Nasional sudah dirasakan manfaatnya dari sejak Beliau check up Laboratorium, Konsultasi ke dokter Ahli hingga perawatan intensif di RS Immanuel Bandung hingga Beliau menghembuskan nafas terakhirnya.

Tanpa BPJS Kesehatan entah berapa juta biaya harus dikeluarkan untuk perawatan medis dan pembelian obat-obatan.

Benar bahwa kesehatan itu mahal tapi lihatlah hanya dengan iuran Rp 80.000 saja per bulan maka kesehatan menjadi tidak mahal. Apalagi jika kita bisa selalu menerapkan hidup sehat.

Jangan pernah berpikir rugi karena jika kita sehat maka iuran yang cuma Rp 80.000 itu menjadi sia-sia dan mubadir. Sebaiknya kita menganggap iuran tersebut  adalah ongkos kesehatan kita per bulan sangat murah dibandingkan biaya rumah sakit yang jutaan rupiah.

Apalagi kalau kita mampu berpikir bahwa uang sebesar itu diniatkan untuk membantu sesama dalam mewujudkan kesehatan mereka. Sungguh niat yang luhur.

Saat ini program Jaminan Kesehatan Nasional sudah diikuti oleh peserta dengan jumlah 183.579.086 orang per 1 November 2017 seperti dikutip dari website resmi BPJS-Kesehatan.co.id (11/11/2017). Sekarang per Juli 2021 sudah mencapai 225 juta peserta.

Mungkin akan semakin bertambah mengingat semakin mudahnya melakukan akses langsung dengan fasilitas digital masa kini.

Dikutip dari situs BPJS-Keshatan.co.id (9/11/2017) mewartakan bahwa dalam rangka memperluas cakupan kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS), BPJS Kesehatan membuka akses pendaftaran lebih mudah melalui aplikasi Mobile JKN.

Tak hanya itu, aplikasi ini juga memberikan pelayanan perpindahan lokasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) peserta terdaftar, updating data peserta JKN-KIS, konsultasi tentang prosedur pelayanan, hingga tata cara penggunaan aplikasi Mobile JKN. Kini semua urusan BPJS Kesehatan tinggal klik melalui gadget. Aplikasi Mobile JKN dapat diunduh melalu Google Play atau App Store.

Tunggu apalagi segera mendaftar menjadi peserta BPJS Kesehatan melalui kemudahan akses Aplikasi Mobile JKN. Mari kita nikmati hidup sehat dan bahagia bersama keluarga tercinta.

Salam sehat @hensa

Sindangpalay 21 Agustus 2021

Komentar

Tinggalkan Balasan

1 komentar

News Feed