Novel : Kisah Cinta Jomlo Pesantren (34)

Cover Novel Kisah Cinta Jomlo Pesantren (Ilustrasi Foto by Ajinatha). 

Menulis Novel Kisah Cinta Jomlo Pesantren dalam rangka mengikuti program KMAB oleh Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan mulai 7 Juli 2022 – 17 Agustus 2022. 

BACA JUGA : Kisah Cinta Jomlo Pesantren (1) 

Episode 34. 

Raina akhirnya menyepakati bertemu denganku. Waktu pertemuanpun sudah disepakati adalah Sabtu siang. Raina menuju Bandung menggunakan Argo Parahiyangan dari Gambir yang jadwalnya paling pagi.

Pagi itu area parkir mobil di Stasiun Bandung sudah penuh. Aku masih mencari tempat untuk memarkir kendaraan. Setelah memutar sekali akhirnya aku mendapatkan tempat di ujung pintu keluar.

Tadinya aku mau menggunakan motor bututku untuk menjemput Raina tapi Bapak menyuruhku untuk menggunakan mobilnya.

Sebenarnya motor bututku itu adalah motor yang sering dipakai membonceng Raina saat zaman SMP dulu.

Suasana ruang tunggu stasiun Bandung sudah ramai dipenuhi para calon penumpang kereta api dan juga para penjemput.

Kesibukan rutinitas setiap hari yang ramai menandakan moda transportasi kereta api ini banyak disukai oleh masyarakat.

Salah satu alasan mengapa masyarakat memilih tranportasi kereta api adalah bebas macet. Begitu pula Raina menggunakan Argo Parahiyangan dari Jakarta adalah pertimbangan macet akhir pekan.

Raina tidak menggunakan mobil pribadi karena risiko kemacetan walaupun saat ini sudah ada akses tol menuju Bandung, tapi tidak jarang kemacetan tetap saja terjadi.

Dengan alasan kemacetan akhir pekan di dalam kota, maka akupun lebih pagi dari Pesantren menuju stasiun kereta api Bandung.

Aku sudah tiba di Stasiun Bandung ketika waktu kedatangan masih sekitar setengah jam. Tidak terlalu lama untuk menunggu Raina tiba di Bandung.

“Hen! Hallo, apakah kamu sudah di Stasiun? Ini keretaku sudah masuk Cimahi,” suara Raina melalui ponselnya.

“Oke Bos. Ini aku sudah siap menjemputmu di Pintu Keluar sebelah Utara.” Kataku menjelaskan agar Raina nanti keluar melalui Pintu Utara Stasiun.

Tidak begitu lama terdengar melalui pengerassuara pemberitahuan kedatangan Argo Parahiyangan dari Gambir. Aku segera bergegas mendekati pintu kedatangan, berdir di sana.

Para penumpang satu demi satu melewati pintu. Aku dengan seksama memperhatikan mereka dan mencoba mencari sosok Raina.

Dari jauh aku melihat seorang gadis tinggi semampai, berkulit putih, berambut panjang sebahu. Gadis itu menjinjing tas troli kecil berwarna hitam.

Apakah benar ini Raina. Gadis cantik itu semakin mendekat maka aku semakin mengenalnya.  Kini dia ada di hadapanku.

“Raina!” Aku memanggilnya. Gadis itu menatapku tak berkedip kemudian tersenyum. Kami hanya saling memandang seolah tak percaya.

“Arno! Ya Allah akhirnya kita kembali bertemu,” suaranya mengandung nada haru. Aku melihat Mata Raina berkaca-kaca saking terharunya. Gadis itu menatapku tak berkedip menahan rindu.

Sejak lulus SMP tidak bertemu berarti sudah sekitar 15 tahun baru kembali bertemu dengan Raina. Sungguh aku sangat terpesona menatap kecantikan Raina Indrawati. Masha Allah.

BERSAMBUNG Epiosde 35. 

@hensa.