oleh

Menulis Sketsa Kehidupan : Al-Hajj 47

Ilustrasi Gambar by Ajinatha

 

SesungguhNya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti  seribu tahun dari tahun-tahun yang kamu lalui (QS 22 :47).

 

Sebuah ayat yang hanya sepenggal kalimat tapi bermakna dalam untuk direnungkan. Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun dari tahun-tahun yang aku lalui.

Artinya satu hari di akhirat sama dengan seribu tahun di dunia. Coba simak seribu tahun di dunia hanya 24 jam di akhirat.

Jika ada seorang hamba sekarang usianya 50 tahun di dunia berarti sama dengan 50 : 1000 x 24 jam sama dengan 1.2 jam di akhirat.

Kalau saja ada seorang hamba diberi usia sampai 100 tahun di dunia itu artinya dia hanya 2.4 jam di akhirat. Namun demikian rata-rata usia manusia adalah antara 60 – 80 tahun.

Apa yang dapat disimak dari ayat tersebut sebenarnya adalah betapa singkatnya hidup di dunia ini. Seratus tahun mengarungi kehidupan dunia ternyata hanya setara dengan 2.4 jam di akhirat.

Padahal seorang hamba akan mengalami masa yang tak terhingga di akhirat nanti. Akhirat adalah alam kekal oleh karenanya ALLAH selalu mengingatkan bahwa Akhirat lebih baik dari dunia (QS 93 : 4).

Masihkah aku punya waktu untuk mengabdi kepadaNya? Begitu cepat waktu berlalu jangan sia-siakan sedetikpun untuk selalu mengingatNya.

Jangan biarkan waktu berlalu tanpa ridhoNya. Aku ternyata hanya diberi waktu oleh ALLAH untuk berjuang hanya selama 2,4 jam untuk usia 100 tahun di dunia.

Sungguh mengerikan. Masihkah aku punya waktu untuk mengabdi kepadaNya. Sungguh menakutkan. Ya rasa takut ini seharusnya ada bersemayan dalam hati ini ketika pertanyaan ditujukan kepadaku.

”Masihkah ada waktu untukku mengabdi kepadaNya?”  Rasa takut itu tidak boleh diabaikan. Namun rasa takut ini harus dikuasai rasa harap selama seorang hamba masih dekat dengan dosa-dosa sehingga tidak menuju kepada putus asa.

Sementara seorang yang patuh semata menyendiri bersama ALLAH rasa takut dan rasa harapnya harus seimbang.

Dapat diteladani sebagaimana Umar RA pernah berkata :”Andaikan seluruh manusia dipanggil ALLAH untuk masuk surgaNya kecuali satu orang maka aku khawatir orang itu adalah aku.

Dan andaikan semua manusia dipanggil ALLAH untuk masuk nerakaNya kecuali seorang maka aku berharap orang itu adalah aku!.”

Rasa harap berbeda dengan angan-angan. Orang yang tidak bercocok tanam dan tidak menaburkan benih untuk tanaman sambil menunggu tumbuh maka dia hanya berangan-angan karena faktanya dia tidak melakukan apa-apa.

Sedangkan orang yang berharap adalah orang yang bercocok tanam dan mengairinya serta menaburkan benih untuk tanaman sambil menunggu tumbuh dengan subur.

Lalu dia menunggu sambil berharap agar ALLAH memberinya hasil panen yang melimpah dan cukup.

Rasa harap adalah kegairahan memohon sedangkan rasa takut adalah semangat untuk lari menjauh dari dosa.

Keseimbangan antara rasa harap dan rasa takut harus serasi.Rasa harap itu adalah wujud nyata dari setiap doa seorang hamba.

Bukan hanya sekedar doa yang diucapkan dari bibir tetapi juga wujud nyata dari upaya untuk menjadikan rasa harap itu menjadi nyata.

Begitu pula rasa takut adalah cermin dari wujud nyata ketaatan seorang hamba. Upaya selalu mampu menghindari dan meninggalkan segala pa yang dilarang oleh Allah adalah karena rasa takut MurkaNya.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan ALLAH mereka itu mengharapkan Rahmat dari ALLAH dan ALLAH Maha Pengampun dan Maha Penyayang (QS 2:218).

@hensa

Komentar

Tinggalkan Balasan

1 komentar

News Feed