oleh

CerBung : Han! Aku Cinta Padamu (22)

-Cerpen, Fiksiana-Telah Dibaca : 123 Orang

Cerpen bersambung (CerBung) ini khusus persembahan penulis untuk mereka para mahasiswa. Namun juga untuk mereka yang masih berjiwa muda. 

BACA JUGA : Han! Aku Cinta Padamu (1).  

DUA PULUH DUA 

Sejak acara khitbah Aini pada Ahad dua pekan yang lalu itu, aku sudah mampu lagi berpijak dalam dunia nyata bukan lagi dunia awang-awang. Aku sekarang sudah bisa memposisikan hatiku hanya sebagai sahabat Aini.

Padahal sejak berpisah dengan Erika, gadis ini adalah sahabat pada saat kapan saja aku membutuhkan ketenangan. Ya Aini Mardiyah adalah sahabat yang istimewa dalam hidupku.

Lebih istimewa lagi karena Aini adalah sahabat dekat Erika. Aini selalu ada di sisiku saat keterpurukkan itu hadir.

Dialah gadis yang berhasil membuatku selalu berusaha melihat ke depan. Hampir saja aku mulai berfikir bahwa Aini adalah calon teman hidupku yang mampu menggantikan Erika. Saat itu banyak rindu-rindu yang tak jelas menghampiriku.

Rupanya rindu yang tak jelas itu baru terjawab menjadi rindu yang jelas ketika Senin sore itu kembali Aini menemaniku menyelesaikan pekerjaan penelitianku di laboratorium dengan membantu analisa vitamin.

Entah mengapa hari itu aku begitu bahagia atas kehadiran Aini. Kecantikan gadis ini memang membuat hati ini menjadi tentram.

Namun faktanya gadis itu memang bukan jodohku seperti halnya Erika. Aini sudah menerima khitbah Iqbal. Saat ini fokus menyelesaikan studiku menjadi prioritasku. Sisikan saja dulu masa lalu atau keinginan dan harapan baru kepada seseorang.

Apalagi Aini sudah menerima khitbah dari Mohammad Iqbal, seorang lelaki baik yang setara dengan gadis seperti Aini. Iqbal adalah seorang pria baik dan ramah.

Seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran sebuah Perguruan Tinggi Negeri terkenal. Saat ini Iqbal sedang menempuh program internship atau magang dokter baru di sebuah kabupaten daerah terpencil Nusa Tenggara Timur.

“Saat acara khitbah itu, Mas Iqbal esoknya sudah kembali menyelesaikan program magangnya di NTT,” kata Aini suatu hari ketika aku berbincang dengannya saat di laboratorium.

“Aini, Iqbal magangnya di daerah terpencil ya?”

“Untuk menuju ke sana harus menggunakan kapal kecil dari ibu kota provinsi.”

“Wah mengarungi laut harus melihat kondisi cuaca.”

“Iya padahal di perairan sana sering terjadi badai!” Kata Aini penuh rasa khawatir.

Hanya tinggal sebulan lagi program itu bisa dirampungkan. Aku tidak tahu dimana dan kapan mereka saling mengenal. Aini dan Iqbal merupakan pasangan yang sangat ideal.

Aku suka melihat mereka bersanding penuh dengan rasa bahagia. Sungguh pasangan yang harmonis.

BERSAMBUNG Bab 23. 

@hensa.

Ilustrasi Foto by Pixabay.

Teman-teman bagi penggemar novel sila baca novel di bawah ini, klik saja tautannya.

BACA JUGA Kisah Cinta Jomlo Pesantren. 

Komentar

Tinggalkan Balasan

1 komentar

News Feed