oleh

CerBung : Han! Aku Cinta Padamu (23)

-Cerpen, Fiksiana-Telah Dibaca : 111 Orang

Cerpen bersambung (CerBung) ini khusus persembahan penulis untuk mereka para mahasiswa. Namun juga untuk mereka yang masih berjiwa muda. 

BACA JUGA : Han! Aku Cinta Padamu (1).  

DUA PULUH TIGA

Aku sendiri mencoba menawarkan yang bisa kubantu dalam persiapan pernikahan Aini Mardiyah.

“Aini, aku siap menerima tugas apa saja untuk sukses acara pernikahanmu dengan Iqbal!” Kataku serius sambil memandang gadis itu. Namun mendengar ucapanku ini Aini hanya tertawa.

“Lho kok kamu tertawa. Bener nih aku siap membantumu dalam persiapan sebulan ini!” Kataku berusaha meyakinkannya.

“Iya Han, aku berterima kasih atas kesedianmu. Semua persiapan sudah aku serahkan kepada Wedding Organizer. Kamu siap saja nanti datang pada akad nikah dan resepsi.”

Gadis yang kukagumi itu menjelaskan penuh dengan rasa bahagia. Ya aku melihat wajah Aini begitu bahagia menghadapi pernikahannya. Berbahagialah Aini.

“Atau aku jadi pendamping mempelai wanita?” Candaku. Kembali Aini tertawa renyah. Tawa kebahagiaan bagi seorang gadis yang sedang menghadapi hari yang paling ditunggu dalam hidupnya.

“Han menjadi tamuku saja dan kutunggu ucapan dan doa yang tulus agar aku dan Iqbal bahagia sampai lanjut usia.” Terdengar suara Aini kali ini penuh dengan keharuan. Aku memandangnya tak berkedip.

“Aku jadi teringat Erika,” kata Aini pendek namun bagiku sudah merupakan kalimat yang panjang sama dengan masa panjang bersama Erika. Aku juga heran kenapa Aini jadi teringat Erika.

“Kenapa kamu jadi teringat Erika?”

“Iya aku selalu berharap kamu bersama Erika berbahagia seperti yang aku rasakan saat ini. Maafkan aku Han.” Suara Aini pelan. Aku sejenak terdiam namun segera harus mengakhiri suasana tidak nyaman ini.

“Ah sudahlah Aini. Sekarang ini kita harus bersyukur bahwa hari pernikahanmu dengan Iqbal tinggal menghitung pekan saja. Ya tinggal sebulan lagi,” kataku dengan nada gembira. Berhasil, kulihat Aini kembali tersenyum.

“Aku baru ingat malam ini harus menyelesaikan daftar nama-nama untuk undangan agar besok sudah bisa tahu jumlahnya sebelum ke percetakan.”

“Aku boleh membantumu,” kataku sambil memandang gadis yang aku kagumi ini. Aini hanya mengangguk sambil tersenyum tanpa menjawab pertanyaanku.

“Hen! Nanti malam kutunggu di rumah ya!”

“Baik Bu Iqbal!” Selorohku.

“Hai aku belum jadi nyonya Iqbal!” Kata Aini protes sambil tertawa.

Persiapan demi persiapan sudah diselesaikan oleh Aini. Aku bisa tahu semua progresnya karena Aini selalu bertemu saat membantuku di laboratorium. Tentu saja semua persiapan pernikahannya selalu diceritakan kepadaku.

“Mas Iqbal sore ini sudah meninggalkan kota kabupaten menuju Kupang menggunakan kapal feri. Mudah-mudahan cuacanya baik!”

“Ya mudah-mudahan cuacanya bersahabat. Bogor saja masih hujan setiap hari,” kataku kepada Aini.

Bulan Desember memang penuh dengan hari-hari hujan apalagi kota Bogor memang Kota Hujan. Cuaca di beberapa daerah Indonesiapun masih banyak prakiraan hujan bahkan di Indonesia Timur di sertai dengan badai.

“Kapan rencana dari Kupang ke Jakartanya?” Tanyaku.

“Besoknya pake penerbangan paling pagi. Insya Allah sorenya sudah tiba di Bogor!” suara Aini nadanya penuh dengan kerinduan ingin segera bertemu dengan Iqbal Sang Pujaan Hati.

“Kamu sudah kangen ya?” Godaku.

“Siapa yang kangen? Ya pasti dong!” Kata gadis cantik ini dengan wajah memerah jambu tanda rasa malu. Cantik sekali aku melihat wajah Aini saat merona merah jambu menahan rasa malu.

“Sudahlah Han. Ayo kita selesaikan pekerjaan analisa.” Seru Aini sambil bergegas membawa sampel-sampel menuju ruangan Instrumen Analisa.

Aku hanya tertawa melihat Aini salah tingkah. Melihat aku tertawa masih sempat dia melempar pandangan mendelik sambil bibirnya pura-pura cemberut.

Sementara itu di luar awan mulai membuat Bogor menjadi gelap dan hujan sudah mulai turun deras. Hingga pekerjaan analisa di laboratorium usaipun hujan masih belum reda.

Aini menawarkan agar aku pulang bersamanya menggunakan mobilnya dan motorku dititipkan saja di parkiran kampus, namun aku lebih baik menunggu hujan reda. Aini akhirnya meninggalkanku sendirian di laboratorium yang sudah mulai sepi.

BERSAMBUNG Bab 24. 

@hensa.

Ilustrasi Foto by Pixabay.

Teman-teman bagi penggemar novel sila baca novel di bawah ini, klik saja tautannya.

BACA JUGA Kisah Cinta Jomlo Pesantren. 

Komentar

Tinggalkan Balasan

1 komentar

News Feed