oleh

CerBung : Han! Aku Cinta Padamu (24)

-Cerpen, Fiksiana-Telah Dibaca : 191 Orang

Cerpen bersambung (CerBung) ini khusus persembahan penulis untuk mereka para mahasiswa. Namun juga untuk mereka yang masih berjiwa muda. 

BACA JUGA : Han! Aku Cinta Padamu (1).  

DUA PULUH EMPAT

Hujan baru reda sehabis adzan Isya berkumandang. Aku baru meninggalkan laboratorium setelah selesai sholat. Sebenarnya saat aku keluar dari tempat parkir motor masih ada gerimis tersisa namun aku meneruskan niatku untuk pulang apalagi perut sudah mulai lapar.

Seperti biasa aku mampir di sebuah warung makan di kompleks ruko itu. Pengunjungnya malam itu cukup ramai juga mungkin karena hujan sehingga banyak diantara mereka yang masih tertahan di warung. Tapi sebenarnya warung itu cukup ramai karena masakannya cukup enak dan harganya terjangkau untuk kalangan mahasiswa.

Aku mengambil tempat duduk yang langsung berhadapan dengan Televisi yang sedang menyiarkan talk show tentang topik perseteruan KPK vs Polri. Ah tidak begitu menarik dialog mereka para pengamat itu sungguh sangat membosankan.

Akhirnya aku asyik melahap santap malam pesananku. Sesekali saja mataku menikmati acara televisi itu bukan karena menarik topiknya tapi menarik karena pembawa acaranya yang wajahnya cantik agak mirip mirip Erika. Ha ha ha memang payah aku ini rupanya tidak bisa move on walaupun sudah berkali-kali Aini selalu mengingatkanku bahwa hidup ini harus bergerak ke depan jangan mundur ke belakang.

Aku masih menikmati hidangan makan malamku ketika mataku tertuju pada running text yang menarik perhatian tertera di televisi tersebut. Sebuah kapal Feri tujuan Kupang tenggelam dihantam badai di perairan Nusa Tenggara Timur karena cuaca buruk.

Kapal Feri? Kenapa tiba-tiba saja aku teringat Iqbal calon suami Aini Mardiyah. Bukankah sore tadi Iqbal ada di kapal Feri itu menuju ke Kupang seperti diceritakan Aini? Oh apakah ini kapal Feri yang ditumpangi oleh Iqbal.

Ya Allah mudah-mudahan itu bukan kapal Feri yang ditumpangi Iqbal. Sudahlah aku harus membuang fikiran yang tidak enak itu. Tapi ketika aku kembali melihat running text di Televisi itu ada rasa yang tidak bisa aku jelakan. Apakah yang terjadi dengan Iqbal?  Mudah-mudahan dia selamat.

Malam itu aku benar-benar tidak bisa tidur. Walaupun sebenarnya rasa lelah sudah begitu mendera tubuh ini namun mata ini begitu susahnya terpejam.

Bahkan jam di dinding kamarku sudah menunjukkan pukul 00.00 WIB dini hari masih juga belum mampu membuat mataku terpejam.

Malam begitu hening dan ketika telepon selulerku berbunyi rasanya aku seperti mendengar suara ledakan bom yang dasyat. Aku semakin terkejut dan berdebar ketika aku tahu yang menelpon itu adalah Aini Mardiyah. Oh Tuhan.

“Han! Mas Iqbal, Mas Iqbal,” suara Aini terbata-bata di tengah tangisnya. Selanjutnya aku hanya bisa mendengar tangisan duka Aini yang sangat menyayat hati. Aku hanya bisa mencoba menghiburnya agar Aini tetap sabar dan ikhlas walaupun aku tahu itu tidak mudah.

Memang benar Takdir Tuhan itu tidak bisa terelakkan jika Dia sudah menghendaki. Apakah benar juga dibalik semuanya itu ada rencana terbaik Allah untuk Aini?

Aku harus membenarkannya karena yakin bagaimanapun Allah sebaik-baik Perencana dan sebaik-baik Penentu.

BERSAMBUNG Bab 25. 

@hensa.

Ilustrasi Foto by Pixabay.

Teman-teman bagi penggemar novel sila baca novel di bawah ini, klik saja tautannya.

BACA JUGA Kisah Cinta Jomlo Pesantren. 

Komentar

Tinggalkan Balasan

1 komentar

News Feed