oleh

CerBung : Han! Aku Cinta Padamu (46)

-Cerpen, Fiksiana-Telah Dibaca : 107 Orang

Cerbung ini khusus persembahan penulis untuk mereka para mahasiswa. Namun juga untuk mereka yang masih berjiwa muda. 

EMPAT PULUH ENAM

Dari Brisbane Aini kembali menulis e-mail dengan kalimat pendek saja.

Aini Mardiyah belum pernah mencintai seorang lelaki seperti saat ini mencintainya begitu penuh harap ridho dari Allah.

Sungguh hanya cinta yang diridhoi oleh Allah adalah cinta yang sejati. Karena hanya Allah Pemilik Cinta Sejati. 

Lelaki itu dengan izin Allah menjadi harapan dan masa depannya. Karena masa lalu tidak pernah kembali, maka mari kita menyongsong masa depan penuh kebahagiaan.

Ya Allah, malam itu perasaan bahagia memenuhi seluruh relung dalam hatiku. Pulang dari Kampus itu sudah hampir tengah malam dan aku baru sadar kalau belum makan malam namun rasa bahagia ini telah membuat aku tidak merasa lapar.

Sejak malam itu dunia ini penuh dengan bunga keindahan. Karena kini aku merasa telah menemukan kembali cintaku yang hilang.

Bogor kini telah bersemi lagi dengan hijaunya cintaku dan rindangnya rinduku. Kemarau panjang telah sirna dan hujan kesejukan cinta telah datang.

Sejak malam itu hari-hari rasanya berlalu begitu lambat karena aku sangat merindukan Aini.  Rindu ini begitu mendera hatiku dan aku begitu menikmatinya. Namun aku tak berdaya menghindarinya.

Aku yakin Aini juga merasakan kerinduan yang sama, karena itu terbukti ketika ia menulis dalam e-mail terbarunya.

Han! Sejak malam itu aku benar-benar telah membuktikan firasat hatiku yang aku rasakan ketika kita berpisah di Bandara Soekarno-Hatta dulu.

Ketika kau memegang tanganku sambil berkata. “Aini aku aku akan merindukanmu!” Kata-katamu itu sampai kini adalah ucapan yang terindah yang menyentuh hatiku.

Saat itu kata-katamu itu menjadi penghapus air mataku ketika pesawat mulai mengangkasa. Lalu kata-katamu itu menjadi pelipur lara ketika aku menginjakkan kakiku di bumi Brisbane.

Sejak saat itu hatiku berfirasat aku sudah menemukan orang yang membuat hatiku tentram. Aku sudah menemukan orang yang dapat mengobati rasa-rasa rinduku.

Han rasanya aku ingin segera menyelesaikan studiku saat ini juga dan secepatnya aku kembali ke Bogor. Sejak malam itu aku benar-benar terjebak dalam kerinduan yang sangat dalam.

Aku selalu berpesan agar kau tidak lupa berdoa untukku dalam setiap sholatmu, apalagi seusai sholat tahajud. Allah selalu bersama orang –orang yang sabar dan optimis. 

Aku membalas e-mail Aini dengan sebuah puisi.

Pagi berwarna biru,

episode demi episode terlipat

dalam album hidup

dan bunga tulip

sejak mekar dari kuncupnya

tengah mulai membentuk wajahnya

Benangsarinya

memanjang menjangkau sukma

Titipkan pagi katupkan senja

Tentramkan malam

Lihatlah hari-hari

sebenarnya terlipat amat cepat

Berputar pada porosnya

Meninggalkan pahala dan juga dosa

Dan siang berwarna bening,

Membimbing arah tertuju

jalan tentram,

jalan lenggang

(sampai disini puisi ini berhenti,

melipat hari-hari lewat,

hingga kala semakin senja,

bersisa doa-doa,

Tuhan yang memiliki terang,

Mohon sinarilah hati ini

dengan purnama malam). 

 

BERSAMBUNG Bab 47. 

BACA dari Episode 1 : Han! Aku Cinta Padamu (1). 

@hensa.

Ilustrasi Foto by Pixabay.

Teman-teman bagi penggemar novel atau cerbung sila baca novel di bawah ini, klik saja tautannya.

BACA JUGA Kisah Cinta Jomlo Pesantren.

Komentar

Tinggalkan Balasan

1 komentar