oleh

Meniti Derita Meraih Bahagia (3)

-Fiksiana, Novel-Telah Dibaca : 179 Orang

Arimbi, adalah perempuan raksasa. Menurut cerita ia adalah bagian dari kerajaan yang dipimpin oleh Prabu Werkudoro. Werkudoro adalah pimpinan kerajaan di tengah-tengah hutan Jodipati. Mereka adalah kaum denawa atau kaum raksasa.

Sejak awal melihat sosok Bimo, Arimbi sudah jatuh cinta, tapi Arimbi menyadari susah baginya menjalin cinta dengan ksatria dari kaum manusia. Tidak pernah terbayangkan dan belum pernah terjadi cerita itu, kalau ada mungkin hanya terjadi satu dua kali di seluruh dunia, itupun karena peristiwa yang benar-benar tidak masuk akal.

Tidak bertepuk sebelah tangan Bimo seperti melihat sosok lain dari yang ia lihat, wajah Arimbi benar-benar tidak terlihat bertaring, ia layaknya, Arimami, Rumini, dan perempuan lain yang sering muncul dalam kehidupannya. Yang Bimo lihat aura Arimbi benar-benar membuat ia jatuh hati.

Arimbi mempunyai kesaktian yang bisa merubah pandangan sehingga ia terlihat cantik meskipun aslinya sosoknya tinggi besar, rambutnya riap-riap dan ada suing atau taring panjang ketika menyeringai. Berkali-kali Arimbi datang ke mimpi Bimo dalam wujud perempuan cantik, perempuan dengan kedewasaan dan sosok perempuan berbadan indah.

“Aku tidak peduli siapapun kamu,  Tuhan menakdirkan kita bertemu dalam mimpi-mimpimu, Bimo.”

“Iya, rasanya aku melihat jelas kamu seperti ketika aku tengah bermimpi tentang siapa sosok perempuan yang mencuri hatiku.”

“Kamu laki-laki ksatria dan tampaknya bertanggungjawab meskipun aku mesti harus menahan nafas, sebab akan banyak perempuan cantik menggodamu, aku akan sangat cemburu Bimo.”

“Tenang, aku memastikan hanya kamu yang kucintai Arimbi.”

“Oh, ya, tapi aku akan selalu khawatir.”

“Semoga tidak terjadi apa-apa yang mengganggu hubungan kita.”

 

“Bimo apa sih sebenarnya yang membuatmu menarik sehingga perempuan sepertiku jatuh cinta pada sosok sepertimu.”

“Aku juga heran, aku khan kadang suka marah meledak-ledak, suka melamun dan sering membuat bingung atas misteri dari perilakuku yang sampai saat ini belum bisa tertebak.”

“Aku suka dengan semua yang ada didirimu.”

“Termasuk bahwa aku suka melamun dan berimajinasi sendiri?”

“Terserah, segala kelebihan dan kekuranganmu akan kumaklumi Bimo.”

“Baiklah, terimakasih atas segala kebaikanmu, perhatianmu dan cintamu yang benar-benar tulus, Kau juga sosok perempuan lembut yang mau hidup dalam suka dan duka, bukan begitu Arimbi?”

“Iya Bimo, kamu lelaki sejati, maka aku mesti jujur bahwa sebenarnya… kamu itu punya keistimewaan yang benar-benar memukau, membuat pasanganmu akan selalu cemburu dan ceriwis membatasi gerak-gerikmu. Suara bibi Arimbi tampak pelan, sampai bingung bagaimana menjelaskannya.”

“tidaklah terlalu memuji Arimbi, nanti aku besar kepala, dan kemudian malah mabuk pujian, cukup berkata jujur aku sudah puas.”

“ Baiklah, tapi aku benar-benar jujur, kamu itu akan setia dan hormat ketika kamu mendapat perlakuan ramah, bukan sekedar basa-basi tapi juga ada senyuman tulus.”

 

Senja mulai semarak langit oleh warna-warni, simbol bahwa jagat hitam mulai muncul Dewa Indera, Dewa Surya yang menjadi penguasa bulan, bintang dan matahari.

Secantiknya senja, manusia menemukan sisi romantis dari semburat jingga, di mana awan tampak memerah dengan cahaya yang mulai meredup tapi memunculkan kekayaan warna, terutama jingga, merah, kuning keemasan. Semakin lama pohon manusia hanya tampak seperti siluet,

Siluet yang menimbulkan semangat untuk membayangkan bayangan hitam berkecamuk, hingga kemudian menemukan titik bahagia yang terselip di antara bayangan siluet sampai benar-benar gelap dan akhirnya bintang pun bertaburan.

Senyumlah Arimbi, jangan nylekatut. Kecantikanmu tidak akan pudar ditelan zaman.

Bersambung

Komentar

Tinggalkan Balasan