oleh

Menghidupkan Mimpi Menjadi Penulis

-Gaya Hidup, Hobi-Telah Dibaca : 205 Orang
buku buku pribadi (dokpri)

 

Tidak terbayang ketika masih remaja bahwa suatu saat nanti akan merasakan bagaimana beberapa tulisan sempat masuk dalam  buku kumpulan artikel. Buku pertama yang saya pegang, benarkah  ini buku saya juga atau hanya mimpi.

Saya kucek kucek mata, benar ada tulisan saya di situ.Satu artikel saja tidak apa- apa yang penting sudah masuk sejarah.

Bermula Dari Mimpi

Dulu melihat nama – nama di halaman buku paling depan buku itu hanya sebuah mimpi. Kebetulan sejak SD saya  sering membaca buku yang dibawa orang tua dari sekolah. Itu buku – buku cerita dari berbagai pelosok negeri. Ada cerpen, novel, buku cerita dengan bobot sastra luar biasa. Menulis sebanyak itu kok bisa ya. Itu seperti dalam dunia mimpi.

Ya dulu membayangkan siapa penulis terkenal seperti Marah Rusli, Nasjah Djamin, Motinggo Busye, Bastian Tito, Penulis Lupus Hilman Hariwijaya, Gola Gong. Ernest Hemingway, Agatha Christie dan deretan penulis lain. sekarang meskipun tidak seterkenal mereka merasakan rasanya nama ada di caver sebuah buku.

Semua bacaan dilahap dan saya menjadi lebih asyik di rumah membuka lembaran demi lembaran buku dari orang tua yang seorang guru, PNS. Ayah penyuka bacaan silat seperti Api di Bukit Menoreh karya SH Mintarjo, serta silat Tiongkok yang ditulis di Karang anyar Solo Asmaraman S Kho Ping Hoo.

Waktu itu buku masih cukup primadona sebab tidak banyak hiburan. Buku – buku menjadi hiburan terutama anak PNS seperti saya .Beruntung bisa merasakan mudah membaca meskipun dari buku subsidi sekolah.

Ayah saya sendiri lebih senang menyewa buku, dan luar biasanya saya ikutan baca. Jadi setelah ayah tuntas membaca giliran saya membacanya, begitu seterusnya sampai bertahun tahun kemudian. Dari kesenangan membaca itulah spontan ada semangat untuk menjadi penulis, menjadi wartawan.

Membaca ternyata menjadi sumber motivasi untuk menulis. Mula – mula saya hanya menulis karena ada yang perlu ditulis,  ingin mengungkapkan rasa cinta tapi malu mengungkapkan langsung. Akhirnya untuk menampung kegalauan dan perasaan, menulislah puisi dan surat cinta yang hanya ditumpuk tidak pernah dikirimkan, karena malu dan minder.

Ternyata menulis itu mengasyikkan dan keterusan. Semua masalah, segala curhat lebih sering dilimpahkan dengan menulis. Yang semula hanya mimpi satu persatu terwujud ketika nekat menulis dan mengirimkan ke media massa.

Benar juga kalau dipikir karena menulis aku ada. Bayangkan sekarang dengan mengklik nama di Google di zaman digital ini dengan mudah menemukan karya tulis yang sudah dipublikasikan diplatform blog. Jejak tulisan mudah terlacak, aktivitas menulis dari kapan sampai saat ini masih tersimpan.

Ada berbagai platform yang pernah diikuti, menampilkan beberapa karya penulis.Cukup dengan menuliskan nama maka akan berderet tulisan muncul.

Ini bukan mimpi, kalau dulu ya mungkin, tapi sekarang amat mudah menemukan artikel cukup mengetik atau mengirimkan  voice ke mesin pencari.

Di YPTD penulisan buku solo menjadi terang benderang. Apalagi ketika akhirnya pecah telor bisa menghasilkan tulisan dengan penulis tunggal. Wow menjadi penulis bukan mimpi lagi, ini benar benar nyata mas brow…kalau di Jawa dikenal dengan istilah padang jingglang, alias terang benderang, sebagian mimpi itu nyata hadir menjadi penulis buku.

Sebagai orang yang senang menulis dan gabung dibeberapa platform blog keuntungannya adalah mengenal jenis pembaca. Dan bagaimana menulis rutin selama bertahun tahun hingga menghasilkan beberapa artikel. Ketika ada tawaran untuk membuat tulisan sebetulnya tabungan tulisan itu tinggal mengambil sesuai dengan topik misalnya sosial budaya, gaya hidup, pendidikan.

Menabung Artikel Menabung Mimpi

Dengan menabung tulisan berbentuk artikel, atau puisi atau cerpen mudah bagi penulis mengumpulkan naskah sesuai kategori. Mimpi menjadi penulis buku menjadi lebih dekat, tinggal keberanian untuk mempublikasikan dalam bentuk buku dan mencari penerbit yang susai dengan karakteristik tulisan. Nah, kesulitan penerbitan menjadi mudah berkat YPTD.

Menulis buku bukan lagi mimpi. Semua kenyataan.Semua orang bisa melakukannya asalkan konsisten menulis, selalu belajar menjadi lebih baik dan berani menghidupkan mimpi hingga menjadi kenyataan. Salam literasi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

1 komentar

News Feed