oleh

Affandi Gambaran Betapa Nyentriknya Gaya Hidup Seniman

-Humaniora, Sosbud-Telah Dibaca : 272 Orang

 

sosok Affandi yang eksentrik (id.wikipedia.org)

 Pada artikel sebelumnya saya menulis tentang  Raden Saleh, kali ini saya menampilkan sosok Affandi. Affandi pelukis kelahiran Cirebon (18 Mei 1907) besar dan belajar lama di Yogyakarta.Bukan seperti seniman sekarang yang belajar secara formal Affandi lebih sering belajar melukis pada seniman senior. Di Yogyakarta sering diistilahkan dengan nyantrik atau meguru istilah lainnya. Affandi termasuk seniman otodidak.

Sebelum kemerdekaan(1938) Affandi yang bernama lengkap Affandi Koesoema gabung dengan perkumpulan PERSAGI(Persatuan Ahli Gambar Indonesia) Pada masa kemerdekaan pernah tergabung dalam sanggar pelukis rakyat dan Seniman Indonesa Muda (SIM). Ia juga menantang diri mencari pengalaman dengan berkeliling di Eropa untuk menambah wawasan dan memperdalam ilmu melukisnya. Setelah pulang ia mengembangkan lukisan beraliran ekpresionisme.

Pada masa gabung dengan PERSAGI lukisan affandi masih realistis. Affandi juga sering menerima order untuk lukisan yang sekarang bisa dikatakan sebagai mural, membuat karya – karya untuk mengobarkan api perjuangan. Memotret lewat karya realitas masyarakat yang menderita karena dampak penjajahan Belanda dan Jepang.

Pelukis Eksentrik dengan Lukisan Ekspresionis

Alasan Affandi melukis cepat dan memutuskan untuk melukis tanpa bantuan kuas dan lebih banyak menggunakan cara dengan langsung menggunakan cat dengan cara mengusap, mempelotot tubenya langsung ke kanvas karena ia butuh menyelesaikan karyanya dengan cepat. Kalau moodnya sudah padam ia tidak lagi bisa meneruskan karyanya. Maka ia lebih senang  kerja gercep (alias gerak cepat) sebab kalau tidak diselesaikan karyanya bisa saja tidak selesai jika moodnya telah hilang.

lukisan Affandi Potret diri (jakartaglobe.id)

Sosok unik Affandi itu bisa dilihat di museumnya yang ada di Yogyakarta, Museum yang berada di samping Kali Gajah Wong. Museum bergaya unik dan tepat di depan pintu galerinya sosok Affandi dimakamkan. Anak Affandi yang mengikuti jejaknya adalah Kartika Affandi. Aliran Kartika Affandi hampir mirip dengan gaya ayahandanya. Mantan istri Sapto Hudoyo dan pernah menikah dengan pria bule Australia itu mengatakan bahwa sosok Affandi itu eksentrik. Ia bisa masa bodo ketika pada suatu saat menjadi model lukisan Kartika Affandi dalam keadaan telanjang.

Kisah para seniman yang eksentrik tampaknya cukup membuat melongo orang biasa. Affandi salah satunya. Dulu ketika kuliah di Yogyakarta pernah ada cerita tentang Affandi. Para seniman yang modalnya cekak pernah mengikuti Affandi ketika belanja cat di seputar jalan Solo.

Biasanya Affandi akan mencoba kualitas cat minyak dengan mengujinya dengan menginjak tube, kalau kualitasnya bagus akan diambil, kalau tidak yang tetap dibayar tetapi tidak akan dipakainya. Maka seniman seniman yang cekak uangnya sudah girang mengambil tube- tube cat yang sekiranya tidak lagi dibutuhkan sang maestro tersebut.

Affandi dan Aura Yogyakarta Kota Seni Budaya

Yang antik dari pelukis Affandi ia bisa kesetanan saat melukis, kaos, tangan , kaki bisa penuh belepotan dengan cat. Gaya ekspresif memang membutuhkan gerak cepat dan tenaga besar diperlukan untuk menyelesaikan lukisan besar dengan waktu sangat singkat. Kalau pelukis biasa perlu waktu berjam- jam bahkan berhari- hari sampai berbulan- bulan, Affandi seringkali menyelesaikan lukisan hanya dalam hitungan menit.

Sebagai pengajar seni rupa sebetulnya kangen dengan suasana Yogyakarta, atmosfer budayanya dan segala pengaruh kehidupannya yang berhubungan dengan seni budaya. Sekitar tahun 90 an kebetulan saya bisa merasakan banyaknya pameran seni lukis. Bisa dikatakan waktu itu baru booming seni lukis.

Hampir tiap minggu ada pameran dari gedung Purna Budaya di kawasan UGM, Bentara Budaya di Jalan Suroto ( Depan SMA Padmanaba atau SMA bagian B  atau SMAN 3 ) kurang lebih 400 meter dari Stadion Kridosono, Benteng Vredeburg, Gedung Sosieted di belakang Vredeburg yang tepat berada di kawasan Shoping Center yang terkenal dengan penjualan buku – buku bekas.

Di Yogyakarta saya merasa hapal dengan jalan- jalannya karena pernah berpengalaman berjalan kaki dari terminal Umbulharjo, melewati Muja Muju, kebon binatang Gembira Loka, Jalan Kusumanegara, kantor Walikota, jalan Timoho,terus melewati IAIN. Nah di seberang jalan IAIN itu terletak museum Affandi yang berwarna hijau ( dulu ) bangunannya bulat dan ditepi sungai ada semacam rumah kayu.

Museum Affandi letaknya ada di Jalan Solo atau di Jalan Adisucipto. Kalau menyebut jalan- jalan meskipun sudah puluhan tahun tidak lagi tinggal dan sekarang di Jakarta, budaya Yogyakarta itu melekat. Bahkan masih ingat saat kost sering mencari tambahan makanan (gizi) dari even pembukaan pameran karya seni rupa teman- teman seniman. Kalau kumpul dengan para seniman pembicaaraan jadi cair.

Itulah sekelumit cerita tentang Affandi (meninggal 23 Mei 1990) menurut pengalaman saya. Saya sih sempat bertemu dan melihat siapa sih pelukis Affandi di Museumnya sekitar tahun 1989 (waktu itu masih kuliah di (STPMD,APMD di Timoho sbelum masuk jurusan Pendidikan Seni Rupa tahun 1990 DI IKIP Negeri). Tetapi sayangnya tidak sempat selfie karena waktu itu belum ada HP yang bisa untuk selfie. Kalau ingin wawancara mungkin dengan merekam lewat tape recorder, kameranya kamera manual bukan HP canggih seperti sekarang.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed