oleh

Bagaimana Menulis Bukan Sekadar Menulis tapi Harus Memberi Inspirasi

-Gaya Hidup, Hobi-Telah Dibaca : 213 Orang
buku pertama penulis di YPTD

Kalau menulis biasa terus terang semua orang bisa, Menulis curahan hati, menulis keluhan dan berbagai ungkapan hati spontan semua orang bisa, tetapi menulis yang akan dikenang dan memberi inspirasi bagi pembacanya itu butuh latihan dan jam terbang.

Setiap penulis punya pengalaman terkait suka dukanya dalam mengawali kesenangan menulis, dari yang susah membuka kalimat dan paragraf awal, sampai mengalirkan ide menulis sampai paragraf terakhir artikelnya. Ketika sudah mulai terbiasa menulis aliran idenya tidak lagi tersendat seperti ketika memulai sebuah perjalanan kreatif dalam hal mengolah kata.

Menulis Hobi atau Pekerjaan Utama?

Konsistensi menulis akan membentuk penulis menjadi semakin tangguh, mengalahkan kemalasan, kebosanan dan rutinitas yang terkadang menjemukan. Semakin lama menulis menjadi kebiasaan baru, seperti halnya makan minum atau sekedar sruput teh atau kopi pagi hari.

Kalau tidak menulis rasanya ada yang kurang.   Absen menulis seperti ada kekosongan jiwa dan mesti diisi dengan menorehkan satu dua kata, jalinan kalimat, paragraf hingga satu artikel yang akan memuaskan dahaganya. Menulis itu sudah menjadi kebiasaan.

Jika menulis sudah menjadi panggilan jiwa maka hari hari tidak lagi sama. Seorang penulis akan selalu mencari ide, membaca tanda – tanda zaman, merenung apa saja pengalaman hidup dan kegiatan yang bisa ditulis, selalu bertanya dan mencari tahu hingga muncullah semangat menyala dalam menyalurkan hobi baru yaitu menulis.

Bisa jadi setelah merasakan “nikmatnya” menulis, ada keinginan untuk tidak sekadar menulis biasa saja. Selanjutnya mempunyai target menjadikan kegiatan menulis sebagai profesi. Penulis mulai menimbang suka dukanya bila menjadi penulis profesional. Memperhitungkan resiko dan tantangan dengan menjadikan penulis sebagai profesi.

Memang  masih ada banyak tantangan bila memilih penulis sebagai profesi, terutama di Indonesia. Apresiasi terhadap dunia literasi belum bisa disejajarkan dengan negara – negara maju seperti di Amerika dan Eropa. Dunia literasi dan dunia kepengarangan belum bisa menjanjikan mampu memberikan jaminan bisa mengepulkan asap dapur keluarga.

Para penulis kebanyakan saat ini masih harus berjibaku bekerja di ladang lain, untuk bisa tetap menegakkan periuk. Dan menulis hanya sebagai selingan diantara kesibukan kerjanya. Adakah yang nekat memproklamirkan diri sebagai penulis diantara banyaknya tantangan yang dihadapi dunia kepenulisan?

Banyak  yang mampu ternyata. Asal ditekuni dengan penuh dedikasi, dengan target jelas, serta bisa memanfaatkan peluang dengan mengikuti event event penulisan. Ada pekerjaan sebagai penulis skenario, copywriter, ghostwriter yang bisa menghasilkan pemasukan. Apabila sebuah profesi ditekuni dengan penuh totalitas, tetap ada peluang bisa makan dan hidup dari profesi yang ditekuni tersebut.

Setiap pekerjaan selalu saja ada tantangannya. Pasang surut kehidupan, berbagai kegagalan dan keberhasilan selalu mewarnai setiap pekerjaan apapun. Jika bisa melewati segala rintangan, menaklukkan tantangan dan bertahan terhadap badai yang menerpa maka ada proses pendewasaan, proses pematangan pemikiran yang akan lebih menambah nilai plus sebuah profesi.

Jam Terbang dan Konsistensi Menulis

Jam terbang seorang penulis salah satu yang menjadi pembuktian terhadap konsistensi. Penaklukan berbagai hambatan baik secara psikis, maupun phisik, serta kendala lain yang datang dan pergi penuh misteri.

Menulis bukan hanya sekadar menulis, tapi menginspirasi.  Artikel memberi dorongan semangat pada pembaca  tertarik, kemudian berusaha mengambil hikmah dari artikel yang baru saja dibaca. Setiap kalimat diresapi, setiap kata- kata motivasi dicatat dan diingat baik- baik.

Banyak sisi positifnya ketika membaca artikel, menyimak tulisan dari para penulis, terutama mereka yang sudah mempunyai jam terbang tinggi dalam menulis. Bukan berarti penulis pemula tidak mendapat tempat tapi membaca artikel butuh kedalaman, butuh sebuah pengalaman empiris.

Pengalaman empiris membantu setiap pembacanya untuk berpikir semoga bisa bertahan dan belajar dari mereka yang sudah bertahan lama dalam profesinya. Sebab pasti ada pengalaman yang bisa ditularkan untuk bisa menjaga konsistensi dan kesetiaan sebuah profesi terutama menulis.

Umur dan Kesibukan Bukan Alasan Untuk Tidak Menulis

Ayo singsingkan baju, mulai beraksi menulis, kata penulis buku Gamal Kamandaka saatnya action. Tidak usah berpikir apakah bisa membagi waktu antara bekerja dan menulis, atau minder karena usia sudah cukup tua untuk memulai kegiatan menulis. Banyak penulis terkenal di dunia mulai menulis di usianya yang tidak lagi muda, Tony Morrison penulis penghargaan bergengsi Putitzer dan juga nobel mulai mempublikasikan tulisannya ketika berumu 39 tahun.

Penulis Marion Howard Spring menulis novel Eleven Stories and Beginning ketika berumur 74 tahun.Jadi kalau alasan umur tidak lagi jadi hambatan memulai menulis. Alasan apa lagi, terlalu minder dengan banyaknya penulis yang bagus hingga keputusan menulis ditunda? Ah, mulai saja, setiap orang punya ciri khas sendiri dan mempunyai modal untuk bisa eksis menulis.

Setiap orang mempunyai pengalaman sendiri dalam hidup jadi selalu ada sisi menarik dari setiap tulisan. Mulai yuk menulis sebagai bagian dari upaya untuk tercatat sejarah, memberi  asupan gizi pengetahuan bagi sesama.

Komentar

Tinggalkan Balasan

4 komentar

News Feed