oleh

Balai Budaja Jakarta Menampung Kiprah Seniman Berkarya Rupa

-Humaniora-Telah Dibaca : 161 Orang
Balai Budaja Jakarta di Jl. Theresia no 47 (foto oleh Joko Dwiatmoko)

 

Bagi anda pembaca kenalkah dengan Gedung Balai Budaja Jakarta ? Kadang ada yang terlupa ketika bicara tentang sejarah. Di sebuah sudut perumahan elite di Menteng ada galeri berbentuk segitiga. Jalan searah dari Gereja Santa Theresia Menteng, tepatnya di Jalan Gereja Theresia no 47  Menteng Jakarta Pusat. Tempatnya sih tidak terlalu besar tapi gedung itu menyimpan sejarah penting untuk perkembangan seni lukis khususnya Jakarta.

ruangan di Balai Budaja Jakarta (foto Joko Dwiatmoko)

Mungkin tidak semegah Galeri Nasional Indonesia atau galeri lain di Kemang. Bahkan jika seniman mau memanfaatkan untuk pameran lukis harga sewanya relatif amat murah dibanding galeri dan tempat pamer lain. Melihat tulisannya yaitu Balai Budaja bisa dikatakan sudah puluhan tahun berdiri sudah lama.sejak 1960 an ketika gubernurnya Ali Sadikin.

Seniman – seniman yang besar di situ antara lain pelukis Syahnagra Ismail, Cak Kandar, pada catatan sejarah di  Warta Kebudajaan peresmian pertama kali oleh Menteri Pengajaran Pendidikan  da Kebudayaan Mr Moh Yamin. Tanggal 14 April 1954 Balai Budaja dibuka. ( Sumber Kompas.Com).

Balai Budaja sudah menampung ribuan even pameran dari 1954 sampai 1997. Keadaan Balai Budaja sebelumnya cukup parah dan kurang layak sebagai tempat memajang karya karena lembab dan atapnya banyak yang rusak. Baru sekitar 2020 bangunan direnovasi agar layak untuk memamerkan karyanya.

Pameran yang dihadiri Almarhumah Toety Herati tokoh Budaya Nasional (foto Oleh Joko Dwiatmoko)

Bagaimanapun sederhana sebuah bangunan yang menyimpan sejarah penting dan memberikan tinggalan sejarah pada perkembangan seni rupa khususnya di Jakarta. Banyak seniman kondang bermula sering berkumpul, mengasah kemampuan dan sering berdiskusi untuk mengadu pengetahuan dan keahlian melukis.

Saya pernah beberapa kali mengikuti pembukaan pameran dan bertemu beberapa seniman yang memanfaatkan Balai Budaja untuk pameran, diskusi dan kumpul kumpul sesame seniman. Kebetulan dari beberapa event itu pernah saya tulisa di Kompasiana. Ada pameran alumni ISI, pameran pelukis Jakarta dan beberapa diskusi kebudayaan.

Memang kalau dilihat dari gedungnya sederhana, sebuah bangunan berbentuk segitiga, dengan ruang pameran dilengkapi dengan beberapa ruang untuk penyimpanan dan kamar mandi. Tepat di depannya ada POM Bensin, sedangkan kalau berjalan sedikit akan ketemu perempatan ke kanan menuju ke kuningan atau ke arah taman Menteng terus jalan Rasuna Said, ke kiri akan melewati sampai ke jalan Sabang, atau  Kebon Sirih.  Kalau ke arah lurus melewati POM bensin akan sampai ke Jalan Sudirman Thamrin.

Balai Budaja telah menjadi saksi sejarah, dan latar belakang sejarahnya bisa dilihat di Balai penyimpanan Dokumen di HB Jassin yang berada di sekitar kompleks Taman Ismail Marzuki di Jalan Cikini Raya. Jalannya searah jadi kalau mau datang ke gedung itu harus melewati monument bangunan khas Menteng Yaitu Gereja Theresia, yang berada di belakang Gedung Sarinah.

Untuk saat ini Balai Budaja mungkin belum beraktifitas lagi karena terkendala Pandemi, semoga saja setelah pandemi pameran – pameran segera marak dan bisa kembali melihat para seniman dengan segala keunikannya berkumpul dan berdiskusi.

Bagaimapun jika negara peduli, maka gedung- gedung yang menyimpan sejarah perkembangan kebudayaan harus dilestarikan. Dari kiprah seniman akan memunculkan sebuah kebanggaan bahwa bangsa ini bukan bangsa inferior, bahkan dalam hal kreatifitas dan budaya ada jejak keunggulan sejak lama.

Dulu Bung Karno sering mampir di Balai Budaja ini untuk melihat dan menyaksikan pameran karya seni. Syahnagra Ismail Pelukis Senior asal dari Teluk Betung, lahir tanggal 18 Agustus 1953, Balai Budaya berawal dari BMKN ( Badan Musyarakat Kebudayaan Nasional)  Diresmikan oleh Muhammad Yamin.

Affandi, , S Sudjojono, Sri Warso Wahono, Cak Kandar, Aisul Yanto sering berpameran di gedung ini.  Nah kata Sayhnagra yang paling lama berpameran adalah Abbas Alibasah.

Sejak dulu sebetulnya banyak yang memperjuangkan keberadaan Balai Budaja antara lain W S Rendra , Umar Kayam dan masih banyak tokoh kebudayaan lain.Nah sebagai penutup semoga semakin banyak pembaca mengenal dan mengunjungi pameran dan pentas budaya di gedung- gedung yang diperuntukkan untuk memamerkan karya dan unjuk budaya di kota anda.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed