oleh

Bentara Budaya dan Kepedulian Kompas Gramedia Pada Budaya

-Humaniora, Sosbud-Telah Dibaca : 178 Orang

 

Sebuah event pameran di Bentar Budaya Jakarta sebelum pandemi.
salah satu aktivitas pameran di Bentara Budaya jakarta (Sebelum pandemi)

 

Bila bicara Seni Budaya pasti akan ingat Bentara Budaya.Perjalanan budaya sering terekam dari gedung gedung yang sering menyelenggarakan event yang berhubungan dengan seni budaya. Tampaknya kepedulian pada seni budaya itu menggerakkan Kompas Gramedia untuk mendirikan Bentara Budaya. Di Solo, Bali, Yogyakarta dan pusatnya di Jakarta di Jalan Palmerah Selatan.

Bentara Budaya Jakarta mempunyai gedung unik yang mengambil bentuk rumah Kudus. Bangunan bentuk Joglo dengan dominasi kayu jati. Saya selalu kangen untuk mampir ke Bentara Budaya karena atmosfer budaya yang kental, kalau saja rumah dekat pasti akan sering ke sana.

Sebelum pandemi ada berbagai event yang terselenggara, selain pameran rutin, juga sering dimunculkan pementasan dari komunitas, maupun pameran hasil budaya dari berbagai suku. Sungguh menarik.  Di depan halaman Bentara Budaya pun enak buat nongkrong apalagi ada jajanan khas, dari jamu hingga mi jawa.

Kalau tidak ada pandemi rasanya saya akan selalu melihat jadwal kegiatan Bentara Budaya Jakarta (BBJ). Melihat pementasan keroncong, pernah bertemu Iwan Fals, pernah sempat ngobrol dengan pelaku budaya dari berbagai daerah, melihat dari dekat seniman wayang suket, dan tentu saja pameran seni rupa entah lukis, patung maupun grafis.

Selain di Jakarta Bentara Budaya yang pernah dan sering dikunjungi adalah Bentara Budaya Yogyakarta. Gedung yang terletak di Jalan Suroto itu sama seringnya mengadakan event pameran, pementasan dan diskusi budaya. Sekitar tahun 1990 – an saya rutin mengunjungi Bentara Budaya karena keinginan untuk melihat pameran dan pementasan budaya.

Melihat asal katanya Bentara Budaya artinya adalah utusan budaya, pas dengan berbagai kegiatan yang sering ditampilkan di gedung tersebut dan ruang pameran. Bentara Budaya Yogyakarta diresmikan oleh Jacob Oetama pada tanggal 26 September 1982.

Sedangkan Bentara Budaya Jakarta menurut referensi adalah karya dari budayawan, rohaniwan Romo Mangunwijaya. Lebih istimewa lagi ketika Balai Budaya ditambah dengan Rumah tradisional Kudus. Rumah yang mula – mula berada di dekat menara Kudus dipindahkan ke Jalan Palmerah 17, Jakarta 10270.

Sebetulnya saya banyak berharap banyak media atau lembaga di negara ini yang memberi ruang pada aktifitas budaya. Sebab kebudayaan mampu memberi bukti nyata keunggulan Indonesia. Begitu juga dengan semakin banyaknya aktivitas budaya akan meredam keinginan masyarakat tertarik pada ormas ormas anarkhis. Dengan mengenal budaya kehalusan budi akan terasah.

Bicara tentang kebudayaan, sebagai pengajar seni rupa ( bagian dari seni budaya ), sebuah kebanggaan bila bisa menyaksikan aktivitas budaya yang begitu marak di daerah- daerah. Di daerah asal saya di Magelang, aktivitas budaya begitu hidup. Kelompok budaya seperti komunitas 5 Gunung selalu mempunyai cara untuk menggerakkan masyarakat untuk beraktifitas budaya. Ada beberapa tokoh seperti Sutanto Mendut sang presiden 5 gunung, Ismanto, Sujono Keron, Sitras Anjilin mampu menggerakkan kebudayaan di daerah masing- masing. Untuk Sitras Anjilin saya pernah bertemu di sebuah event penghargaan pelaku penggerak kebudayaan di Bentara Budaya Jakarta.

Maka saya mengapresiasi upaya Kompas Gramedia untuk terus melestarikan kegiatan budaya. Bagaimanapun Kebudayaan Indonesia sudah go internasional, terbukti gamelan sudah sering dipentaskan di berbagai negara baik di Eropa maupun Amerika dan Jepang. Mereka menghargai aktifitas budaya bukan hanya pengaruh kapitalisasi segala lini. Sebab kegiatan budaya sesungguhnya mampu memberi sentuhan rasa sehingga bisa meredam berbagai gejolak anarkhis akibat persoalan ekonomi dan dinamika politik tanah air.

Sangat menarik Motto dari Bentara Budaya”Manembah Hangesti Songing Budi” dan motto dari Bentara Budaya sebagai berikut:

“Sebagai utusan budaya, Bentara Budaya menampung dan mewakili wahana budaya bangsa, dari berbagai kalangan, latar belakang, dan cakrawala, yang mungkin berbeda. Balai ini berupaya menampilkan bentuk dan karya cipta budaya yang mungkin pernah mentradisi. Ataupun bentuk-bentuk kesenian massa yang pernah populer dan merakyat. Juga karya-karya baru yang seolah tak mendapat tempat dan tak layak tampil di sebuah gedung terhormat. Sebagai titik temu antara aspirasi yang pernah ada dengan aspirasi yang sedang tumbuh. Bentara Budaya siap bekerja sama dengan siapa saja.”

(referensi dari Bentara budaya.com)

Bentara Budaya mempunyai misi untuk pelestarian budaya, sekaligus mewartakan penggalan sejarah seni budaya.

Ketika pandemi masih menjadi momok untuk beraktifitas di luar ruang. Belum banyak ruang pameran terbuka untuk umum rasanya kangen ingin melangkah ke gedung apalagi di kota yang peduli dengan kegiatan budaya.

Semoga badai Covid segera berlalu dan saya merasakan kegembiraan ketika bisa berkumpul dengan para pelaku budaya. Sebuah kehausan yang pasti dirasakan oleh anda para pembaca yang senang jalan- jalan dan senang melihat aktifitas kesenian di kota anda. Sebab menonton kegiatan seni budaya bisa memberikan hiburan yang menaikkan imun tubuh. Sebuah kegembiraan spontan. Salam budaya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed