oleh

Pameran Seni Rupa Serupa dengan Menerbitkan Buku Bagi Penulis

-Hiburan, Humaniora-Telah Dibaca : 126 Orang
Ketika berkunjung ke Galeri Nasional Indonesia menonton pameran lukisan

 

Tidak ada kebanggaan terbesar selain bisa berpameran seni, kata banyak seniman. Kalau kamu belum berpameran artinya  masih sebatas tukang belumlah seniman, masih sebatas mengaku – aku sebagai seniman tetapi tidak pernah menunjukkan seperti apa karyamu. Sama halnya dengan penulis kalau belum menerbitkan sebuah buku kamu belum bisa disebut penulis atau pengarang.

Benarkah begitu? Dalam katalog katalog yang pernah penulis koleksi di berbagai pameran, portofolio pelukis adalah seberapa banyak pameran yang pernah diikutinya. Dari sejak semula belajar dan menggeluti dunia seni rupa sampai kiprah pergaulan dengan para seniman, kolektor, peminat seni.

Pengalaman adalah sebuah jalan menuju sukses. Seniman harus sering mengikuti pameran agar karya- karyanya diakui publik. Akan lebih keren lagi bisa berpameran tunggal di sebuah gedung bersejarah seperti Galeri Nasional Indonesia. Mereka yang sering melakukan pameran di Galeri Nasional Indonesia adalah pelukis- pelukis pilihan. Seniman yang dengan tekun dan bekerja kera melukis- melukis dan melukis untuk membuktikan bahwa ia produktif, tidak hanya musiman.

Butuh hidup berdarah- darah untuk bisa menapaki tangga kesuksesan sebagai seniman. Memang tidak semua seniman beruntung bisa mengeruk uang dari kiprahnya sebagai seniman, khususnya seni rupa apalagi seni murni seperti lukis dan patung. Ada banyak event pameran. Pernah sekitar tahun 1990 an muncul booming seni lukis. Harga – harga lukisan mengalami kenaikan signifikan. Hal ini berimbas pada gencarnya pameran baik di kota- kota besar maupun kota kecil yang sering dijadikan tolok ukur perkembangan seni rupa.

Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya merupakan kota yang sering sekali menyelenggarakan pameran. Dulu di Bilangan Kemang, banyak galeri- galeri yang sering memamerkan karya. Galeri Hadiprana, Galeri .. Sedangkan di pusat kota sebutlah Museum Gajah di Bilangan Medan Merdeka, Balanas Atau Galeri Nasional yang berada tepat di depan stasiun Gambir. Di Menteng ada juga tempat pameran seni dan juga banyak galeri di sekitar Menteng Jakarta Pusat.

Di Jakarta Barat di kawasan kota tua, yaitu museum seni rupa dan keramik juga sering mengadakan pameran karya seni rupa. Munculnya booming ditandai dengan harga gila- gilaan dari karya pelukis. Sejumlah pelukis seperti, Jeihan Sukmantoro, Hendra Gunawan, Affandi, Djoko Pekik, memanen hasil dari booming seni rupa. Dari harga di bawah 10 juta bisa meningkat dari permainan kurator dan kolektor karya.

Sebuah Galeri “Balai Budaja”di Daerah Menteng yang sering digunakan untuk ajang diskusi, pementasan dan pameran seni beberapa tahun lalu. Penulis bersiap menghadiri pembukaan pameran.

Sejumlah kolektor membuat penawaran gila- gilaan terhadap karya Jeihan Sukmantoro. Lukisan dengan modal tidak lebih dari 5 juta bisa berharga di atas 100 juta bahkan mencapai harga satu Milyar lebih. Jeihan tentu saja memanen keuntungan dari peningkatan harga jual lukisan. Kesejahteraan meningkat dan bisa membeli tanah dan memperluas rumahnya.

Kesan bahwa pelukis itu kumuh, kurang dandan, awut- awutan dan susah diatur, berubah menjadi decak kagum karena bisa memanen hasil dari lukisan yang harganya meningkat berkalilipat. Itu branding bagi pelukis yang sudah terlanjur terkenal. Karena tidak mungkin harganya bisa turun.

Maka para kolektor antusias investasi karya seni khususnya lukis. Yang bisa mengkoleksi lukisan Affandi, Djoko Pekik, Jeihan Sukmantoro, Nyoman Masriadi, tentunya berharap dalam sebuah lelang lukisan harga akan jauh meningkat dan berarti sebuah keuntungan. Sejumlah seniman ikut menikmati hasil dari sebuah era ketika booming seni rupa datang.

Maraknya pameran terasa di mana mana banyak pameran seni diadakan antusiasme penonton juga kolektor seni serta pengamat seni memberikan dampak ekonomi terhadap seniman. Nyoman Masriadi pelukis Bali yang tinggal di Yogyakarta tentu saja turut memanen hasilnya. Lukisannya bisa bernilai 2 M dan tentu saja bagi pelukis merupakan rejeki nomplok. Menjadi OKB atau orang kaya baru.

Djoko Pekik salah satu pelukis yang ikut beruntung karena banyak lukisannya laku dan harganyapun tidak main- main. Meskipun demikian Djoko Pekik banyak menyumbangkan dana untuk pengembangan kesenian. Ia sering membelikan seperangkat gamelan pada komunitas seniman. Sering mengadakan pesta untuk kebersamaan seniman.

Jeihan Sukmantoro bisa membeli tanah dari para tetangganya di Bandung. Nyoman Gunarsa mempunyai dua museum di Sleman Yogyakarta dan Di Bali. Muncul galeri- galeri dadakan dan muncul kolektor yang mencoba peruntungan investasi lukisan berharap ikut memanen cuan.

Kini penjualan lukisan memang tidak semarak ketika muncul booming lukisan, Banyak pelukis berusaha mempertahankan hidup dari jualan lewat daring. Ketika gedung- gedung museum sedang ditutup dan pameran terbuka belum diperbolehkan karena pandemi maka seniman mencoba mengalihkan pamerannya ke pameran virtual, dengan aplikasi, melalui sentuhan kontent kreator, gairah seni mencoba dibangkitkan kembali. Di mesin pencari marak penawaran lukisan lewat tokopedia, shopee, JD.ID, Bukalapak,deviantart,Scribd,TuneCore ataupun dengan grup – grup di media sosial seperti di instagram, facebook.

Pameran seni rupa adalah sebuah gengsi, sebuah pengakuan kesenimanan. Tanpa pernah mengadakan pameran maka gelarnya sebagai seniman dipertanyakan, itulah sementara yang muncul dalam perbincangan para seniman, tetapi benarkah pendapat itu. Bagaimana dengan para pelukis yang berada di jalanan, mereka yang melukis untuk hidup keseharian, membuka lapak ditempat terbuka untuk menjaring penikmat jasa lukisnya.

Namanya pendapat memang beragam namun diskusi tentang siapa seniman dan bagaimana disebut seniman masih selalu menjadi perdebatan. Untuk anda para awam dan hanya penikmat seni tentu polemik tidaklah terlalu penting, asal bisa melihat karya lukis yang indah dan enak dilihat itu sebuah kebahagiaan.

Memang bagi senirupawan yang pernah pameran di Galeri bertingkat nasional tentunya sebuah pengakuan jejak kesenimanan. Sama halnya dengan penulis yang sudah menerbitkan  buku ber ISBN. Buku adalah mahkota, dari situ muncullah pengakuan publik bahwa di adalah penulis atau pengarang.

Selamat menyelami seni dan kebudayaan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed